ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 41 Merenggut dalam keterpaksaan



"Zee, ini tidak benar please ahh.." tubuh Vanya merasakan sangat merinding kala Zee mengangkat dan menahan kedua tangan nya di atas kepala.


Tubuh Vanya yang mungil membuat Zee dengan mudah mengeksplorasi setiap jengkal permukaan kulit nya yang semakin tampak glowing meski masih terlihat eksotis kecoklatan.


"I can't ... aku sudah menahan diri sejak tadi dan sekarang aku gak tahan lagi , Vanya..." Zee dengan tatapan berkabut mulai menyusupkan tangan nya untuk masuk ke dalam kaos dan meraih gundukan kencang yang masih berbalut be ha.


Tubuh Vanya gemetar, Zee bisa merasakan itu tetapi entah kenapa setiap sentuhan yang mereka lakukan justru membuat dirinya semakin enggan untuk berhenti.


Hhmmpphh... hhmmpphh...


Zee kembali meraup bibir mungil Vanya, terus memaksa meminta Vanya membalas hal yang sama.


Vanya membalas dengan kaku dan tidak bisa mengimbangi Zee yang bermain dominan .


"Awsh.." Vanya sedikit membuka mulut karena Zee yang menggigit kecil bibirnya. Setelah itu lidah panas Zee menerobos begitu saja masuk ke dalam rongga mulut Vanya dan mulai bergerak mengabsen setiap isi di dalam mulut.


Hhmmphh ahh ..


Lenguhan Vanya tak ter tahan saat tangan Zee mulai memilin dan menarik memainkan pucuk payudara yang kencang itu.


Secara perlahan namun pasti aktifitas mesum itu membuat keduanya sama sama tersulut gairah, Zee yang memang sudah sangat berhasrat kini tampak menyingkap kaos Vanya ke atas.


Tanpa melepaskan kaos tersebut Zee mulai kembali memainkan mulutnya, menyesap dan menjilati memainkan pucuk pu ting dengan penuh nafsu.


Vanya sendiri yang sudah terpancing gairah kini tidak lagi melawan justru ikut larut dalam kegiatan mesum diatas ranjang dengan Zee yang bermain lebih dominan.


Ahh eunghhh ..


Vanya meremas kepala Zee yang tengah menyusu dengan lahap, tujuannya untuk menahan agar Zee tidak terlalu agresif namun sayangnya setiap sesapan membuat sesuatu di bagian bawah sana turut berkedut bak tersengat aliran listrik tegangan rendah yang mencipta sensasi gatal dan geli bersamaan.


Sepasang sejoli diatas ranjang semakin rakus menerima dan mencari kenikmatan, Vanya melenguh berkali kali saat jari jemari Zee dengan sedikit kasar memainkan liang seng ga ma dan membelah celah basah tersebut.


Sejak beberapa menit yang lalu keduanya sudah sama sama polos baik Zee maupun Vanya sama sama meloloskan berkali kali lenguhan dan rintihan saat Milik Zee berusaha menerobos otot labirin keperawanan Vanya.


Akhh Ahh Zee !!! pekik Vanya menjerit saat Zee menghentak pinggulnya kuat menekan pinggul Vanya yang terkungkung di bawahnya .


Zee gelap mata, sebuah rasa yang dia cari sejak tubuhnya bereaksi akan sesuatu, semakin menekan semakin dekat rasa itu hampir tergapai.


Milik Zee belum sepenuhnya masuk tapi Vanya sudah menjerit kesakitan , tentu saja karena ini pertama kalinya dan rasa sakit itu semakin menjalar di seluruh tubuh seperti tegangan voltase ribuan watt seiring hentakan keras yang dilakukan oleh Zee.


JLEBB !! seperti seorang pecandu saat ini Zee menikmati sensasi ngilu bercampur nikmat untuk pertama kalinya.


Terasa terjepit hangat dan sangat ketat, Sejenak Zee memejamkan mata menikmati momen pertama kalinya batang kejantanan berhasil menembus otot labirin seorang perawan.


Berbeda dengan Zee yang menikmati, Vanya justru seperti mematung usai tersentak kaget saat merasakan sesuatu memaksa masuk ke dalam miliknya.


Tes..


Air mata Vanya lolos begitu saja, saat ini tubuhnya seakan pasrah saat pinggul Zee mulai bergerak pelan maju dan mundur.


Semakin lama gesekan itu semakin terasa licin, rasa sakit kini berganti rasa nikmat yang nagih, tapi tetap saja Vanya terus menangis tanpa suara .


Apakah ini adalah karma ? Kenapa harus begini Gusti... hiks~ Air mata itu terus mengalir tanpa suara.


Tubuh Vanya pasrah tak melawan saat Zee mengejar pelepasan yang tertahan sejak tadi, beberapa hentakan kuat dan semakin dalam mengantarkan Zee meraih puncak kenikmatan duniawi.


Aakkhh💦💦💦


Zee mendongakkan kepalanya keatas sambil terpejam menikmati cairan hangatnya yang tumpah menyembur di dalam rahim Vanya.


Beberapa saat kemudian saat nafas Zee mulai teratur dan kesadaran nya terkumpul , begitu membuka mata Zee menatap Vanya yang terisak sambil memalingkan muka enggan membalas tatapannya.


"Vanya..." ucap Zee lirih sembari mengusap air mata di wajah Vanya dengan bibirnya.


Maaf Vanya.. Zee menarik miliknya dari tubuh Vanya kemudian berbaring di samping Vanya.


Vanya masih hanya diam, otaknya sulit berpikir apalagi mencerna semua yang baru saja dia alami.


Seharusnya tidak begini Zee, seharusnya tidak seperti ini hiks.. Kamu merenggut seluruh hidupku , orang tuaku dan kini kesucianku, hiks~


Vanya memilih untuk membelakangi Zee yang tidur di sebelahnya, Ada rasa sakit yang tidak bisa terucapkan, ada rasa kecewa kenapa takdir mempermainkan.


Seharusnya kami melakukan tanpa keterpaksaan, tapi...