
Daddy Devan memang merupakan sosok yang penuh wibawa , beliau terkenal sebagai pemilik perusahaan besar yang memiliki banyak anak cabang perusahaan yang maju di berbagai negara di seluruh penjuru bumi.
Bahkan di dalam rumah pun sikap Daddy Devan tetap terlihat tegas meskipun tersenyum tetap saja mampu membuat semua orang merasa sungkan.
"Duduklah kalian.." ucap Daddy Devan tanpa beranjak dari sofa tempatnya duduk bersama sang istri tadi.
Mommy Lucy pun kembali duduk di samping sang suami , diikuti oleh Zee dan juga Vanya.
Selanjutnya mereka berbincang ringan tentang perjalanan yang baru pertama kali dilakukan oleh Vanya.
"Nanti pasti terbiasa.." ucap Daddy Devan saat merespon cerita perjalanan putra dan putrinya.
"Oh iya Zee, Vanya, malam ini kalian menginap dulu di mansion ya. Kalian pasti capek kalau langsung ke apartemen. " ucap mommy Lucy yang tersenyum manis.
"Oke mom, lagi pula kuliah masih libur sampai beberapa hari ke depan. Zee berencana akan menemui teman teman Zee, sudah lama kami tidak hang out." penuturan Zee sontak membuat respon kedua orang tuanya sama sama menatapnya.
"Kalau mau pergi ajak juga Vanya, dia juga butuh beradaptasi dengan pergaulanmu kan Zee." kata mommy Lucy.
"Mengingat statusmu yang saat ini bukanlah seorang pria lajang jadi daddy minta kamu kurangi waktumu untuk hal hal yang tidak penting." perkataan Daddy Devan seolah olah tidak setuju jika Zee bersenang senang dengan teman temannya.
Vanya melihat rahang Zee tampak mengeras seperti sedang menahan marah kemudian Vanya menyeletuk.
Zee yang mendengar ucapan Vanya seperti bernafas lega, setidaknya dia bisa bertemu teman temannya tanpa harus membawa Vanya.
"Baiklah kalau itu keinginan kamu Vanya. Oh iya mommy sudah daftarkan kamu di kampus yang sama dengan Zee dan ada beberapa jurusan yang mommy ingin kamu tentukan sendiri mau yang mana, ayo ikut mommy.." Mommy Lucy beranjak dari sofa lalu menarik lembut tangan Vanya untuk melihat lihat setiap jurusan yang mungkin sesuai dengan minat Vanya.
Sementara mommy Lucy membawa Vanya ke ruangan lain, Zee dan Daddy Devan tampak saling menatap serius dan tajam.
"Daddy dengar kamu masih berhubungan dengan wanita ja lang itu Zee." Suara bicara Daddy Devan terdengar berat tidak suka.
"Benarkah Daddy masih mencampuri urusan pribadi Zee ? Come on Dad Zee sudah dewasa . Zee sudah berhak memutuskan apa yang Zee inginkan." Zee tersenyum sinis pada sang ayah.
"Daddy membebaskan kamu tapi Daddy juga tetap mengawasi lingkup pergaulanmu Zee. Daddy tidak mau kelak kamu hidup dikelilingi parasit yang menghambat kesuksesanmu. Ingat Zee , setelah kamu lulus kuliah ada perusahaan Daddy yang harus kamu handle." ucap tegas Daddy Devan.
"Zee paham betul apa yang menjadi tanggung jawab Zee setelah wisuda nanti. Tapi Zee mohon sekali Daddy jangan ikut campur soal kehidupan pribadi Zee." Zee mulai jengah dengan pembahasan topik ini lagi ini lagi.
"Daddy akan tetap awasi, no debat." Daddy Devan beranjak dari sofa tempatnya duduk meninggalkan Zee begitu saja.
Zee mendengus kesal sambil mengusap kasar wajahnya, tapi setiap teringat sang mommy membuat Zee tidak bisa berbuat apa apa selain patuh dan menurut.