ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 56 Tanda merah di leher



Di malam yang sama tempat berbeda,


Merry baru saja tiba di apartemen miliknya yang terletak di dekat kawasan jantung kota Paris.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur, Merry mulai mengerjakan sebuah proyek yang rencananya akan di danai oleh kedua orang tuanya.


Merry sendiri yang menginginkan sebuah pertunjukan fashion show khusus untuk kalangan desainer pemula berpotensi.


Merry sudah menyiapkan beberapa rancangan gaun hasil kreasinya sendiri, dia juga sudah berhasil mengajak beberapa teman lain yang memiliki ide unik untuk mengisi acara show nya .


Karena terus terpikirkan akan pola gaun hasil rancangan Vanya tadi sore ,Merry inisiatif akan mengajak Vanya untuk bergabung dengan geng desainer di bawah kepemimpinan nya.


Mirip dengan sang ibu,Merry juga mengelola sendiri bisnis rekanan dengan para desainer muda berbakat sebagian adalah teman dari Paris university, sebagian lagi Merry temukan lewat sosial media.


Karya yang unik dan menarik namun kurang dilirik disitulah Merry akan berperan mengangkat kepopuleran mereka lewat acara fashion show di bawah naungannya.


Proyek Merry kali ini akan ditampilkan di kampus saat acara gelaran wisuda murid senior beberapa bulan lagi.


Malam berlalu dengan kesibukan masing masing hingga..


Beberapa jam kemudian,


Seseorang tengah menggeliat di balik selimut, seluruh tubuh terasa pegal hingga rasanya tak ingin bangun dan ingin tidur lebih lama lagi.


Eunghh~


Vanya menggeliat lagi, kali ini sambil merentang kedua tangan dan meregangkan otot otot tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


Vanya terduduk dengan masih berbalut selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, samar samar ingatan Vanya kembali pada adegan percintaan semalam dimana ..


Vanya mengulas senyum tipis seiring rasa malu saat bagaimana tubuh polosnya meliuk menikmati setiap gerakan bersama Zee sang suami.


Zee~


Vanya memanggil nama sang suami dalam hati, karena tidak menemukan sosok sang suami di dalam kamarnya, Vanya berniat mencari keberadaan sang suami diluar kamar.


Vanya mengenakan sebuah piyama yang menutupi tubuh polosnya. Dia bahkan belum sempat membersihkan diri tapi malah mencari keberadaan sang suami.


"Zee !" Vanya memanggil nama sang suami namun nihil, tidak ada suara yang menyahut.


Vanya lanjut melangkahkan kakinya ke arah dapur, biasanya jam segini Zee akan berkutat di dapur menyiapkan sarapan sebelum mereka beraktifitas.


Dapur juga kosong tidak ada pergerakan tanda kehidupan. Saat Vanya membalik badan hendak mencari ke ruangan lain, sudut mata Vanya menangkap sesuatu diatas meja makan.


Dengan melangkah pelan Vanya mendekat ke arah meja dan benar saja, porsi sarapan untuk dirinya sudah siap tersaji lengkap dengan susu hangat.


Vanya meraih secarik kertas yang dia yakini merupakan tulisan tangan Zee yang berisi sebuah pesan jika hari ini sang suami tidak bisa mengantarkan Vanya berangkat ke kampus karena harus menuju perusahaan tempat dirinya magang lebih awal.


"Habiskan makananmu dan berangkat ke kampus pesan taksi online, tidak boleh jalan kaki. Sore nanti aku akan menjemputmu, bye Vanya semangat kuliahnya. Zee !!"


Hati Vanya menghangat kala membaca secarik kertas tulisan tangan Zee, bahkan di akhir kalimat Zee menggambar bentuk lope lope yang menurut Vanya sangat manis.


Usai meletakkan secarik kertas, Vanya memilih untuk segera menikmati sarapan mumpung masih hangat.


"Zee pasti belum lama berangkat, makanan ini saja masih terasa hangat." Vanya bergumam sendiri sambil mulai menikmati makanannya.


Kurang dari lima belas menit Vanya sudah selesai makan dan sekarang dirinya tengah bersiap siap untuk berangkat ke kampus.


Ddrrtt..


Ddrrtt


Ddrrtt..


Melihat nama yang tertera pada layar ponsel maka dengan gesit Vanya menggeser tombol hijau pada layar ponsel ke atas lalu,


"Halo Mery.." ucap Vanya begitu tersambung dalam panggilan video.


"Vanya, aku on the way menjemput kamu ya !! Aku akan tiba sepuluh menit lagi, " kata Merry yang sudah tampak siap sempurna untuk ke kampus.


"Aku udah siap nih tinggal berangkat aja, apa kita ketemuan di kampus aja ya Mer hehee" ucap Vanya bernada canda.


"Vanya !!! itu di lehermu ada tanda apa heum ?apa kamu habis main ya sama cowok kamu hahahaa astaga untung aku video call kamu. Mending kamu tutupin itu leher pakai syal deh .atau pakai concelar biar ga keliatan ." Merry tertawa terbahak kala melihat tanda merah di leher Vanya.


Bukan cuma satu tapi ada beberapa dan itu cukup kentara saat Vanya menyibak rambutnya. Biasanya orang orang di kota Paris akan menutupi bekas cu pa ngan agar tidak di tertawakan orang lain yang pasti akan memberondong dengan pertanyaan pertanyaan lain seputar se*ks.


"Aaaaa MERRY AKU MALU !!!! BYE, "


" AARRHHH !!!" Vanya seperti kepiting rebus saat ini wajahnya sangat terasa panas dan juga pias.


"Ada untungnya juga Merry nelpon pagi pagi begini tapi aku jadi malu karena ketahuan habis melakukan itu huhuhuuu..." gumam.Vanya bicara sendiri sambil berlari kecil menuju walk ini closet untuk mencari syal yang akan dia gunakan untuk menutupi bagian leher .


Sebelum mengenakan syal Vanya menutupi tanda kemerahan hasil karya cipta Zee semalam dengan concelar.


Hati Vanya rasa berdebar seperti sedang berada di taman kupu kupu saat pikirannya membayangkan apa yang terjadi semalam, kemudian Vanya tampak tersenyum kecil sambil meraih tasnya untuk berangkat kuliah.


Begitu Vanya turun ke lantai tempat loby berada, Merry sungguh sudah siap berdiri bersandar pada mobil mewahnya sambil melambaikan tangan santai ke arah Vanya.


Keduanya masuk ke dalam mobil usai saling bertegur sapa, di dalam mobil mewah keluaran terbaru Merry tampak tersenyum riang sambil menyalakan musik kesukaan nya.


Entah Vanya suka atau tidak tapi yang pasti Merry menyukai musik pop modern, sesekali Merry ikut bernyanyi kala lagu favorit nya di putar membuat Vanya hanya menggelengkan kepala heran tapi sejenak kemudian Vanya ikut manggut manggut ikut mendengar genre musik kesukaan Merry.


Perjalanan tujuh menit yang tidak terasa saat mobil milik Merry memasuki pelataran parkir gedung F .


Bak primadona kampus yang selalu menjadi sorotan di setiap gerakannya , semua mata berdecak kagum saat Merry menginjakkan kaki keluar dari mobilnya dengan outfit penampilan bernilai total puluhan juta dollar.


Dari ujung rambut sampai ujung kaki Merry sangat glowing, sparkling , benar benar primadona yang bersinar seperti bintang .


Dengan percaya diri Merry melangkah meraih Vanya yang tampak insecure saat semua orang memandang dirinya sebelah mata.


Memang fashion yang dipakai Vanya tidak semewah Merry, Outfit Vanya sehari hari lebih cenderung konservatif dan hanya mengutamakan nyaman pada diri sendiri dan tidak terlalu terpengaruh akan tren fashion saat ini.


Yang satu primadona, satu lagi upik abu hahaahaa..


Murid baru itu lebih mirip pelayan ketimbang teman Merry deh, level fashion mereka sangat jauh yang satu bersinar seperti bintang sedangkan satunya lagi kusam seperti debu hahaa..


Sepanjang melangkah menuju kelas Vanya terus menunduk merasa risih dan tidak suka saat semua orang yang berpas pasan dengan dirinya dan Merry terus membandingkan mereka.


"Vanya, jangan menunduk begitu. Angkat wajahmu dan melangkah lah dengan tegas dan percaya diri. " ucap Merry saat melihat Vanya yang tiba tiba insecure.


"Aku hanya kurang nyaman Mer, " jawab Vanya dengan senyum kikuk nya.