
Hari sudah menjelang senja dan Zee belum membalas pesan yang Vanya kirimkan, beberapa kali Vanya menghela nafasnya panjang berharap semoga sang suami lekas muncul di hadapan.
Petugas perpustakaan beberapa kali mengingat kan kepada para murid yang masih berada di dalam ruang baca agar segera keluar karena gedung perpustakaan akan tutup beberapa menit lagi.
Dengan terpaksa Vanya pergi meninggalkan gedung perpustakaan dengan rasa kesal karena sang suami tidak membaca pesan yang dia kirimkan.
Padahal dia sendiri yang nyuruh aku kasih kabar sekecil apapun , eh malah dia ponselnya gak aktif. Dasar Zee !! Vanya menendang angin di depannya.
Suasana kampus di kala senja memang sudah sangat sepi, temaram langit menyemburat jingga membuat Vanya memutuskan untuk segera pulang ke apartemen,
Jika jalan kaki mungkin aku akan sampai dalam waktu kurang dari tiga puluh menit ,Hhmm baiklah sesekali jalan kaki gak apa apa kan xixiixii gak ada Zee atau Merry ini. Gumam Vanya yang mantap melangkahkan kakinya menuju ke arah dari kampus ke apartemen.
Vanya berjalan sendirian keluar dari gerbang kampus melewati sisi tepi jalan khusus pedestarian. Baru pertama kali ini Vanya menikmati jalan kaki di sore hari, ternyata suasana seperti ini sangat terasa sejuk menentramkan hati.
Dari kejauhan tampak seseorang diatas motor bersiap mengarahkan kecepatan motor tepat mengarah ke Vanya.
"Seharian aku nungguin kamu bi*tch, akhirnya kamu muncul juga dan bingo , kali ini kamu sendirian pas sekali hahahaa... sekarang aku pastikan kamu akan mati !!" ucap pengendara motor ambisius.
Bruumm.. Brumm.. Bruummm...
Motor melaju dengan kecepatan penuh mengarah langsung tepat kearah Vanya yang tampak berjalan lambat sambil menikmati keindahan bunga di pinggir jalan.
Motor dalam kecepatan diatas batas normal saat berjarak kurang dari sepuluh meter tiba tiba,
AWAASSS !!!
Seorang pejalan kaki dengan secepat mungkin menarik tubuh Vanya yang sedang membungkuk memainkan bunga di pinggir jalanan khusus pedestrian.
Vanya yang menoleh pun kaget membelalakkan kedua bola matanya saat melihat motor berkecepatan penuh mengarah tepat padanya namun beruntung seorang pejalan kaki berhasil menyelamatkan tubuh Vanya meski sampai harus mengalami sedikit lecet .
CIIITTT.. BBRAAKKK !!!!
Motor yang dalam kecepatan penuh itu gagal mengenai Vanya justru kini terseok menubruk bangku taman hingga membuat pengendara tersebut terjungkal terlempar dari atas motor beberapa meter.
Sontak kejadian tersebut menyita perhatian banyak pejalan kaki yang berada di sekitar lokasi.
Sebagian ada yang menolong Vanya , sebagian ada yang menolong si pengendara motor karena mereka menduga ini adalah kecelakaan karena rem blong.
"Nona , anda tidak apa apa ? nona !" pejalan kaki yang menolong Vanya beberapa kali menepuk wajah Vanya pelan yang seketika tampak shock hingga wajahnya berubah pucat dan tubuhnya dingin.
"Seperti nya nona ini mengalami shock atau trauma, sebaiknya segera kita bawa ke rumah sakit ayo." ucap seorang pejalan kaki lainnya yang kini tengah mengubungi ambulance.
Sementara itu, beberapa orang membantu pengendara motor yang terpental beberapa meter dari lokasi kejadian.
Salah seorang penolong membantu membuka helm untuk memeriksa kondisi vital, "Dia pingsan, dan beruntung memakai helm karena jika tidak pasti kepalanya akan bocor karena membentur aspal."
"Ambulance akan segera tiba, kita bawa mereka ke rumah sakit yang sama agar ditangani lebih cepat." ucap salah seorang lainnya.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit mobil ambulance membawa dua pasien yaitu Vanya dan Sabrina ke rumah sakit kota.
Keduanya langsung di bawa masuk ke ruang tindakan untuk pemeriksaan menyeluruh.
Vanya kembali mengalami trauma, momen kecelakaan yang hampir dialami mengingatkan Vanya akan kecelakaan ketika hari ulang tahunnya yang ke 18 di jalanan dekat pantai Kutha.
Vanya tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis saat ini air mata Vanya mengalir begitu saja tanpa terisak tanpa mengeluarkan suara.
Vanya menangis dalam diam mengingat kembali kedua orang tua yang telah tiada.
"Pasien mengalami trauma, seperti nya kita tunggu pihak keluarga nya tiba." ucap salah seorang perawat yang membantu dokter memeriksa kondisi vital Vanya.
Seorang perawat menemukan sebuah ponsel di dalam tas ransel yang dipakai oleh Vanya, dengan inisiatif perawat tersebut mencari nomor yang sering dihubungi dan karena Vanya tidak menyimpan banyak kontak maka dengan cepat perawat tersebut menekan sebuah nomor yang ternyata tersambung ke ponsel milik,
Zee sedang dalam perjalanan kembali ke apartemen saat ini dia benar benar lelah bekerja seharian bahkan sampai tidak sempat memegang ponsel.
Zee tidak terlalu khawatir karena biasanya Vanya akan selalu bersama Merry bahkan beberapa kali Merry selalu mengantar Vanya pulang ke apartemen saat dirinya tidak bisa menjemput.
Saat hampir tiba di gedung apartemen ponsel.Zee terus berdering. Sekilas Zee melihat nama yang tertera pada layar . Tersenyum sekilas karena itu adalah telpon dari sang istri.
"Vanya pasti sudah sampai di apartemen dan tidak menemukan aku, makanya dia nelpon biar aku cepat pulang, Hmm manis sekali.."
Zee meraih ponselnya lalu menggeser tombol hijau keatas agar tersambung dalam panggilan.
Bukan suara Vanya yang Zee dengar pertama kali justru suara seseorang yang terdengar asing tapi sopan.
Zee mengerutkan keningnya saat mencoba mencerna kalimat yang diucapkan perawat rumah sakit diujung sambungan .
"Apakah benar ini dengan keluarga nona Vanya, kami dari rumah sakit kota ingin mengabarkan jika saat ini pasien bernama Vanya Sanford tengah mendapatkan perawatan diruangan Daisy lantai 3 rumah sakit kota. Mohon pihak keluarga bisa segera kemari karena pasien mengalami trauma usai kecelakaan yang hampir di alami.." perawat mengucapkan kalimat panjang yang jelas dan tidak bertele tele.
"Ya aku suaminya. Aku kesana sekarang." Zee menjawab dengan singkat sebelum tancap gas berbalik arah menuju rumah sakit kota.
Pikiran Zee seketika khawatir tidak bisa tenang, apa yang terjadi sama kamu Vanya, kenapa bisa kecelakaan dan trauma apa yang kamu alami, Astaga.
Mobil Zee Tiba di rumah sakit kota dalam waktu kurang dari sepuluh menit karena ngebut. Setelah memarkirkan di depan loby Zee menitipkan kunci ke seorang security dan gegas berlari kearah resepsionis.
Wanita resepsionis mengarahkan Zee untuk ke tempat Pasien bernama Vanya Stanford di rawat. Dengan langkah cepatnya Zee mencari dimana letak kamar Vanya saat ini berada.
Ceklek.
Zee membuka pintu kamar bertuliskan Daisy nomor 6 dilantai 3. Zee melangkah masuk dengan hati hati tidak ingin mengejutkan.
"Vanya, astaga sayangku.." Zee menghambur kearah Vanya yang kini terbaring diatas ranjang pasien dengan tatapan kosong dan air mata yang terus mengalir.
Begitu menoleh ke arah suami yang memeluknya seketika Vanya seolah tersadar dari tatapannya yang kosong dan kini Vanya memeluk erat tubuh Zee seperti anak kecil yang ketakutan dan butuh perlindungan.
Vanya menangis dan kini dengan suara terisak yang memilukan telinga, Zee mengeratkan pelukan sambil mengusap punggung Vanya mencoba menenangkan.
"Sudah ya sayang, ada aku disini semua pasti baik baik saja." ucap Zee yang tidak tahan untuk tidak ikut sedih kala melihat istri kecilnya serapuh ini.
"Zee.. aku takut hiks, aku takut..."