
Sejak kejadian ciuman diatas kuda itu , baik Vanya maupun Zee sama sama merasa lebih dekat. Entah bagaimana dengan Zee tapi Vanya merasa perasaan nya selalu menghangat setiap bersama Zee.
Hari berganti hari , kini sudah tiba saatnya Zee dan Vanya akan memulai aktivitas baru mereka di kota Paris.
Pagi hari usai sarapan Zee dan Vanya mulai bersiap untuk berangkat, lagi lagi keduanya hanya membawa satu tas ransel kecil yang hanya berisi barang barang penting pribadi.
"Mom, Dad kami pergi dulu.." ucap Zee yang berada di depan Vanya.
Satu persatu mereka berpelukan pamit pada kedua orang tua. " Kebetulan juga, setelah ini Daddy dan Mommy akan balik ke Amerika. Urusan bisnis di Prancis sudah beres." ucap Daddy Devan saat mengurai pelukan pada putra dan putrinya.
"Belajar yang sungguh sungguh ya kalian berdua , mommy selalu mendoakan semoga kalian bisa menjadi orang yang sukses kelak." ucap mommy Lucy yang selalu tersenyum manis keibuan.
Perpisahan singkat keluarga Sanders dimana satu mobil milik Zee melaju dengan kecepatan sedang mengikuti mobil mewah milik Daddy Devan di depannya.
Kedua mobil menyusuri jalan keluar area mansion beruntun hingga tiba di persimpangan, mobil mereka berpisah karena tujuan mereka juga berbeda.
Daddy Devan akan menyelesaikan satu urusan di perusahaan sebelum bertolak ke Amerika nanti siang, pesawat pribadi keluarga Sanders sudah mendapatkan ijin untuk melakukan penerbangan pada siang nanti.
Mobil Zee menuju kota Paris dengan kecepatan sedang. Saat bersama Vanya Zee dilarang ngebut atau ugal ugalan karena takut akan menimbulkan trauma seperti dulu bagi Vanya. Zee selalu mengingat nasehat mommy Lucy.
Perjalanan dari mansion Sanders ke apartemen mereka di kota Paris memakan waktu sekitar empat puluh lima menit.
Cukup jauh memang , namun keduanya sama sama menikmati perjalanan. Zee dan Vanya sama sama memasang earphone pada telinga . Mendengarkan musik yang sepertinya berbeda selera.
Zee mendengarkan lagu lagu pop rock klasik sedangkan Vanya tentu saja memutar playlist lagu lagu B T S kesayangan nya.
Siang hari tepat memasuki jam makan siang, mobil Zee sudah terparkir di basement parkir sebuah gedung apartemen tempat tinggal mereka berdua selama kuliah du kampus Paris university.
"Kita pesan makanan lewat online saja, aku capek banget soalnya." ajak Zee saat keduanya masuk ke dalam lift dan menekan lantai tempat unit mereka berada.
"Aku ngikut aja sih, kamu yang lebih paham ." respon Vanya singkat dengan senyum yang entah kenapa kini terlihat manis di mata Zee.
Brukk..
Baik Zee maupun Vanya sama sama langsung duduk ambruk di sebuah sofa usai menyalakan pendingin ruangan.
Siang hari ini terasa cerah sekaligus gerah membuat Zee dan Vanya memilih tetap berada di dalam apartemen.
Selagi Vanya melihat lihat isi apartemen, Zee memainkan ponselnya memesan beberapa menu makanan online.
Apartemen mewah memiliki dua kamar , satu untuk Zee dan satu lagi untuk Vanya. Selain kamar semua ruangan adalah milik bersama, hanya kamar tidur yang menjadi privasi masing masing.
Sama seperti di mansion, semua yang mereka butuhkan sudah lengkap tersedia mulai dari pakaian bahkan sampai bahan makanan di dalam kulkas.
Setiap beberapa hari sekali akan ada petugas yang membawakan belanjaan segar untuk anak majikan mereka, entah itu mau di masak atau tidak tapi setiap tiga hari sekali petugas tersebut akan mengganti isi di dalam kulkas.
Kemudian untuk pelayan, Zee dan Vanya tidak harus bersusah payah melakukan pekerjaan rumahan karena sudah ada pelayan yang khusus mengurus laundry dan memasak.
Untuk kebersihan sendiri sudah ada robot canggih yang otomatis bergerak saat menemukan sensor debu atau kotoran di lantai dan sekitarnya.