ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 34 Menghabiskan waktu di Mansion



Ddrrttt...


Ddrrttt...


Ddrrttt...


Ponsel Zee terus berdering saat dirinya masih memilih pakaian di walk in closet.


Setelah memakai celana dan meraih asal satu kaos , Zee melangkahkan kaki keluar dari walk ini closet dan meraih ponsel yang sejak tadi dia letakkan di atas nakas dekat ranjang.


Zee melihat nama yang tertera pada layar ponsel dan dengan santai menggeser tombol warna hijau dan tersambung dalam panggilan suara..


"Halo Vanya.." ucap Zee memulai pembicaraan.


"Zee, aku lagi iseng coba coba setelan di ponsel pemberian kamu dan aku lihat ada satu nomor yang tersimpan aku pikir itu nomor kamu makanya aku langsung coba telpon.." ucap Vanya dengan suara yang sumringah.


Terasa sekali gadis itu sangat menyukai pemberian dari Zee sampai membuat Zee tersenyum simpul,


"Iya Vanya , jaga baik baik ponsel itu ya. Ponsel akan sangat berguna saat kita di Paris nanti, kamu bisa menambah teman dan belajar main sosial media juga. Oh iya.. bagaimana dengan jurusan yang akan kamu masuki ? apa semua lancar tidak ada kendala kan ? tanya Zee sambil duduk di sebuah sofa setelah memakai kaos tidurnya.


"Aku deg degan karena minggu depan akan jadi hari yang baru buatku, tapi aku juga senang sekali karena akan menimba ilmu akan bidang yang aku sangat minati dari dulu. Aku juga sudah pelajari profil kampus dan lingkungan di dalam kampus, aku gak sabar sih pingin cepet masuk kuliah ."


Vanya sangat bersemangat menceritakan pada Zee dan hal itu membuat keduanya semakin larut dalam pembicaraan yang akrab layaknya adik dan kakak mungkin.


Tidak terasa jam di dinding sudah menunjuk pada pukul setengah dua belas malam , Zee dan Vanya mengakhiri panggilan suara pertama mereka lalu mulai membaringkan diri untuk istirahat.


Ngobrol hal hal ringan dengan Vanya membuat Mood Zee terasa lebih baik, entahlah dia hanya merasa nyaman saja saat ngobrol dengan Vanya.


Saat ini cuaca sedang cerah dengan udara yang sedikit sejuk karena semalam hujan salju.


Zee mengajak Vanya bermain di halaman belakang mansion, lebih tepatnya Zee sedang memamerkan kuda peliharaannya yang saat ini masih berada di dalam kandang .


"Kamu mau coba naik kuda Vanya ?" tanya Zee yang kini sedang menuntun salah satu kuda miliknya keluar kandang.


"Kenapa kuda di luar negeri bisa sebesar ini ya Zee ? bede sekali dengan yang ada di Bali ." Vanya bergidik saa harus mendongak untuk melihat kuda Zee.


"Ayo kita main kuda bareng, " kata Zee tanpa merespon pertanyaan Vanya sebelumnya.


Meski Vanya sudah menolak lantaran takut dengan ukuran tubuh kuda yang besar, tapi Zee mampu meyakinkan jika semua pasti baik baik saja dan sejurus kemudian,


Zee tampak menyiapkan seekor kuda kesayangan nya yang berwarna hitam dan jantan. Setelah memasang Peralatan pada tubuh kuda Zee membantu Vanya naik duluan .


"Kamu kecil jadi duduk didepanku aku akan dibelakangmu." ucap Zee saat mengulurkan tangan dan membantu Vanya .


"Astaga Zee , ini tinggi banget !!" Vanya takut, benar benar takut saat membayangkan dirinya jatuh dari atas kuda sebesar ini.


Hap !!


Dengan satu gerakan cepat Zee naik dan memposisikan duduknya di belakang Vanya. Tubuh keduanya saling menempel dan itu sempat membuat debaran halus dalam diri masing masing.


Tangan Zee meraih tali kuda lalu..