ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 62 Sofa ruang teather



Zee nyengir menggoda membuat Vanya menghentikan sesi makannya lalu meletakkan cup berisi chi bab yang baru habis setengah nya karena Vanya kini tengah siap mengarahkan pukulan kearah Zee.


Zee bukannya marah tapi justru semakin tertawa kala Vanya yang masih kesal bertambah gemas memukul i tubuh Zee, tentu saja Vanya tidak mengarah kan seluruh tenaga nya.


Vanya hanya gemas karena Zee membandingkan dia dengan makanan,


"Minta maaf gak !" ucap Vanya sambil mencubit perut keras Zee, membuat si empunya terkekeh bukan minta ampun justru makin meledek.


"Minta maaf untuk apa , memang kamu seperti itu kok Vanya hahaa !!" wajah Zee sampai memerah menahan geli , bisa saja menahan tapi Zee membiarkan Vanya melampiaskan rasa kesal nya.


"Kan memang benar , kamu itu orang asing tapi aku suka, aku suka sama orang asing yang sekarang jadi istri aku hahaa !!" ucapan Zee sebenarnya membuat Vanya merona malu, makanya dia memilih untuk terus mencubit gemas tubuh Zee.


Bahkan saat ini tanpa keduanya sadari jika posisi keduanya terlalu intim dimana, Zee bersandar setengah terbaring pada sandaran Sofa sedangkan Vanya diatas tubuh Zee duduk melingkar kan kakinya sambil terus menyerang Zee.


Merasa sudah cukup puas Vanya hendak turun dari tubuh Zee namun sialnya justru di tahan oleh Zee.


"Ayo kita bercinta lagi, istriku.." ucapan Zee yang tiba tiba menarik tubuh Vanya kembali keatas tubuhnya sambil merengkuh tengkuk leher Vanya dan entah suasana yang mendukung atau keduanya memang sama sama mau meski malu malu.


Kenapa aku merinding sama kalimat yang baru saja diucapkan Zee, astaga jantungku berdebar. batin Vanya yang mulai larut.


Hhmmpphh~


Hhmmpphh~


Bibir keduanya beradu saling menyesap dan me lu mat lembut . Semakin lama ciuman lembut itu terasa semakin panas hingga Vanya menjerit kecil saat Zee menggigit bibirnya agar membuka.


Dengan satu gerakan cepat Zee menyusupkan lidahnya untuk menari dan mengobrak abrik di dalam mulut mungil Vanya.


Vanya tidak menolak meski kurang bisa mengimbangi namun dia berusaha membalas setiap gerakan yang Zee lakukan padanya.


Sementara mulut keduanya sibuk beradu bertukar saliva, Tangan Zee yang satu tetap menahan tengkuk leher Vanya dan tangan lainnya tampak menyusup masuk ke dalam kaos yang dipakai Vanya.


Tanpa melepaskan pengait be ha tangan Zee menarik kain yang menghalangi dua gundukan kenyal itu lalu dengan lincah mulai memainkan tangannya , meremas lembut me mi lin pucuk pu ting payu dara Vanya yang terasa kencang meski tidak besar tapi pas di dalam tangkupan telapak tangan Zee.


"Sshhh ahh~" satu lenguhan Vanya lolos begitu saja seolah dirinya larut dalam aktivitas nakal sang suami.


Hingga dengan refleks Vanya menaikkan kaos yang dia pakai hingga terpampang lah secara jelas dua gundukan kenyal yang menantang minta disentuh.


Vanya menarik bibir menjeda ciuman mereka kemudian membusungkan dadanya agar Zee menyusu secara langsung.


Tatapan mata keduanya sama sama berkabut hingga Zee tanpa ragu benar benar menikmati menyusu payu dara sang istri.


Setiap hisapan diiringi gerakan ujung lidah yang menoel noel pucuk pu ting membuat Vanya meremas kepala Zee gemas.


Zee tidak berhenti meski Vanya mulai meremas menahan kepalanya agar melepas pu ting nya yang terasa ngilu karena bayi besar Zee menghisap terlalu kuat.


"Ahh Zee~ sakit ahh !" rintihan Vanya terdengar bagai melodi yang merdu di telinga Zee.


"Sorry baby, ini terlalu nikmat dan menggemaskan.." Zee terkekeh saat kembali merengkuh ciuman basah bersama Vanya.


Seiring ciuman terus berlanjut, satu persatu kain yang menutupi bagian tubuh keduanya kini sudah teronggok begitu saja kesembarang tempat dan tubuh Zee dan Vanya yang sama sama polos mulai basah akan keringat.


Penyatuan yang selalu membuat milik Vanya ngilu lantaran ukuran milik Zee yang menurut nya besar sedangkan milik nya yang mungil .


Vanya bergoyang pelan diatas tubuh Zee sambil kedua tangan berpegangan pada bahu sang suami.


Zee sampai harus mendongak menikmati sensasi terjepit sekaligus tersedot semakin dalam, secara perlahan namun pasti karena terus saling bergoyang seirama, milik Zee yang besar itu menancap sepenuh nya ke dalam liang basah Vanya yang ketat.


Bahkan tangan Zee membantu pinggul Vanya bergoyang, sama sama saling memberikan dan menerima kenikmatan.


"Aghh iya baby seperti itu~" racau Zee saat merasakan miliknya benar benar ngilu terhisap dalam bercampur nikmat.


Gerakan pinggul memutar lalu menekan pelan, sungguh membuat Vanya menggila. Tapi Vanya tidak berani bergerak bru tal karena ingin menikmati permainan pelan yang nikmat.


Malam itu Suasana ruang teather yang temaram menjadi saksi percintaan lembut tapi panas dua sejoli suami istri yang sama sama menikmati tubuh satu sama lain.


Film yang diputar sudah selesai tapi tidak begitu dengan Zee dan Vanya yang justru semakin larut dalam permainan diatas sofa .


"Zee i cant take it, aku mau sampai, "


Ahh~πŸ’¦πŸ’¦


Tubuh Vanya ambruk diatas tubuh Zee, otot dinding rahim Vanya berkedut menikmati pelepasan yang terasa spesial karena dirinya kali ini sungguh menikmati.


Huhh.. huhh.. huhh..


Nafas Vanya tidak teratur dan Zee mengijinkan sang istri untuk menikmati pelepasan nya dahulu.


"Setelah ini, let me play baby.." ucap Zee membisik di dekat daun telinga Vanya yang masih ngos ngosan.


"Pelan ya Zee ,jangan kasar ."


"Aku akan main pelan dan dalam, pasti kamu akan suka baby.."tangan Zee mengusap punggung Vanya yang basah berkeringat.


Lalu dengan tanpa melepaskan penyatuan Zee mengangkat tubuh mungil Vanya untuk berbaring di sofa dengan Zee yang mengungkung diatasnya.


Merasakan Vanya lebih tenang dan nafasnya teratur, Zee mulai menekan pinggul nya kembali menikmati liang basah berlendir yang kini terasa licin .


Zee bermain pelan dan lembut, tepat seperti apa yang dia katakan tadi.


Sambil menjilat i daun telinga sang istri, Zee terus bergoyang pelan menusukkan miliknya dengan sangat dalam tapi pelan.


Setiap tekanan membuat tubuh Mungil Vanya ikut tersentak, terus seperti itu hingga saat sudah berapa lama tapi kini Vanya mulai kembali meracau menikmati setiap hentakan tubuh sang suami yang kenapa bisa seksi sekali mengungkung tubuh mungilnya.


Dua kaki Vanya membuka Lebar dan menekuk membiarkan Zee memompa lebih dalam lagi , lagi dan lagi..


Durasi yang sudah berlangsung berjam jam membuat dua bagian milik keduanya sama sama merasakan licin dan geli.


Vanya menikmati sambil meremas otot perut Zee yang tampak sangat kencang dan seksi. Sedangkan Zee kini mengangkat dua kaki Vanya agar merapat di pundaknya.


Posisi Vanya menjadi setengah miring dan dia sama sekali tidak keberatan saat Zee sang suami bergerak semakin cepat.


Milik Zee semakin terasa terjepit dengan posisi bercinta seperti ini, saling terasa licin , basah dan nikmat keduanya sama sama mengejar sebuah rasa pelepasan yang tinggal sedikit lagi mereka gapai.


"Zee aku mau sampai ahh !"


"Hang on baby, together wait.."


Zee memompa lebih cepat dan kuat , miliknya pun merasakan hal yang sama dengan sang istri dimana saat ini,


Otot dinding rahim Vanya kembali menegang bersamaan dengan milik Zee yang terasa menggembung semakin besar hingga dalam beberapa hentakan kuat tubuh keduanya menegang bersamaan hingga


Ahh Zee~πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Akkhh my wife~πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Tubuh berkeringat Zee ambruk diatas tubuh Vanya nafas keduanya sama sama ngos ngosan dan tanpa melepaskan tautan satu sama lain.


"Biarkan seperti ini dulu.."


Batang berurat Zee mulai melemas sembari menikmati sensasi kedutan di dalam milik Vanya, setiap berkedut terasa tersedot ke dalam bagai dipijit, keduanya sama sama merasakan nikmatnya surga dunia suami istri.