
Saat Zee menghentakkan kakinya otomatis kuda jantan warna hitam kesayangannya itu mulai melangkahkan kakinya keluar menuju halaman belakang Mansion yang langsung terhubung dengan sebuah hutan buatan di luar sana.
Hutan buatan yang memang sengaja di ciptakan sesuai titah Tuan Dev sebagai perbatasan alami antara area Mansion milik keluarga Sanders dengan area bebas milik pemerintah.
Hiya !!! Hiya !!
Zee mengendalikan kuda agar sedikit berlari masuk ke dalam hutan. Tubuh Zee dan Vanya tentu saja saling membentur seiring irama tapak kaki kuda dan hal itu benar benar membuat keduanya merasa Hhmmm.. posisi yang terlalu intim.
Semakin masuk ke dalam hutan Zee semakin memacu kudanya untuk berlari lebih cepat, Sensasi hentakan serta terpaan angin membuat Zee dan Vanya sama sama menikmati situasi dengan gelak tawa .
"WOHOOO !!!!" teriak Vanya saat kuda yang mereka tunggangi melewati tanjakan landai seperti bukit.
"HIYAAA FASTER BOY !!" Zee semangat mengendalikan kudanya agar lebih cepat dan cepat hingga..
Kuda besar berwarna hitam jantan itu terhenti di atas sebuah bukit dimana terdapat air terjun kecil yang mengalir ke bawah lembah.
Zee dan Vanya sama sama menghela nafas panjang , udara di atas bukit terasa sejuk dan atmosfer sekitar juga lebih segar.
Rasa dingin karena cuaca pun tidak terlalu menusuk tulang lantaran tubuh keduanya yang seperti sedang berdekapan.
Zee tidak melepaskan tali kekang pada kuda dan itu menyebabkan posisi mereka terasa intim dengan tangan Zee yang seolah sedang memeluk tubuh Vanya dari belakang.
Meski begitu Vanya tidak berani berkata jika dirinya kurang nyaman dengan posisi ini . Rasa canggung mendera Vanya yang entahlah, dia merasakan jantungnya berdebar tidak normal.
Mereka tidak banyak bicara , hanya duduk diatas kuda sambil menikmati suasana alam yang syahdu.
"Bagaimana menurutmu heum ?" tanya Zee yang bertanya seolah membisik tepat di telinga Vanya .Tentu saja Zee tidak sengaja, itu hanya karena posisi mereka yang intim.
Zee bertanya tentang pemandangan alam yang terhampar di hadapan mereka.
"Sangat indah Zee , aku suka tapi.. sepertinya aku tetap akan takut naik kuda sendirian." perkataan Vanya membuat Zee terkekeh.
"Vanya.. aku ingin tanya sesuatu, hhmmm.. apakah kamu sudah tidak membenciku seperti waktu kita di Bali ?" tanya Zee tiba tiba dan itu membuat Vanya terhenyak sesaat.
"Itu ya, entahlah sepertinya secara perlahan aku mulai menerima kepergian kedua orang tuaku dan aku juga mencoba untuk tidak lagi menyalahkan keadaan, mungkin ini memang sudah takdirku harus melewati fase kehidupan tanpa di dampingi ayah dan ibu . Dan soal kamu.."
Belum selesai Vanya berkata kata Zee sudah menempelkan jari telunjuk nya di bibir Vanya, seakan ingin meminta Vanya untuk berhenti memikirkan masa lalu dan..
"Ssttt.. look at me Vanya.." Zee meraih dagu Vanya agar menoleh menatapnya.
Zee dan Vanya saling bertumpu pandangan dan seperti adegan di film film dimana situasi tiba tiba menjadi hening dan berhenti berdetak.
Deg..
Deg..
Deg..
Deg..
Degup jantung Zee dan Vanya seperti sedang berpacu cepat seiring keduanya yang semakin dalam menyelami ke dalam netra satu sama lain hingga,
Seakan melupakan semuanya kini hanya ada sepasang sejoli yang mulai terbuai lantunan alam yang terasa sejuk hingga membuat keduanya menginginkan sebuah aktifitas yang akan lebih dari cukup untuk menghangatkan tubuh.
Zee dan Vanya sama sama menatap bibir satu sama lain hingga , tanpa penolakan ataupun paksaan bibir keduanya semakin dekat dan menempel.
Saat bibir keduanya menempel, baik Zee maupun Vanya sama sama memejamkan mata untuk sejurus berikutnya tampak bibir mereka mulai bergerak saling me lu mat lembut .
Vanya dan Zee sudah pernah ciuman waktu di Bali dan ini adalah kali kedua mereka melakukan itu lagi dan Vanya sudah tidak terlalu kaku begitu juga dengan Zee yang tampak lebih luwes menuntun Vanya melakukan hal yang sama dengannya.
Ciuman lembut yang awalnya hanya lu ma tan lu ma tan kini mulai bertambah intens disertai gerakan lidah Zee yang mencoba menyusup masuk ke dalam rongga mulut Vanya yang mungil.
Vanya tidak menolak dia justru menikmati saat lidah Zee mengobrak abrik di dalam mulutnya dengan pelan dan itu justru membuat keduanya semakin menginginkan lebih.
Entah bagaimana bisa begini tapi perasaan Zee terasa nyaman saat melakukan itu pada Vanya, dan Vanya sendiri juga sepertinya mulai menyukai hal hal dewasa yang sedang mereka lakukan sekarang ini.
Satu tangan Zee menopang punggung Vanya agar tidak sampai terjatuh saat Zee mulai bergerak tidak cuma di bibir tapi kini Zee tengah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Vanya.
Vanya mendongak memejamkan mata tidak berontak saat merasakan Zee menyesap kuat lehernya hingga terasa basah dan ngilu.
Sepertinya Zee tidak puas jika hanya menciptakan satu tanda kemerahan karena entah kenapa tubuh Vanya seolah menjadi candu tersendiri dan itu membuat Zee menginginkan lebih.
Padahal dengan Sabrina aku bisa mengendalikan diri tapi kenapa bersama Vanya tubuhku seakan tak terkendali.. monolog Zee dalam hati.
"Ahh Zee.. cu.. cukup.. hentikan ahh.." racau Vanya saat kesadarannya terkumpul kala merasakan tangan Zee yang ingin menyusup meremas sesuatu di balik kemeja yang dia pakai.
Huhhh... huhh.. huhh..
Nafas keduanya seakan terengah engah saat Zee menarik diri lalu tersenyum dan tanpa meminta maaf karena sudah membuat perasaan Vanya amburadul merasakan getaran aneh yang sering disebut, cinta ?
Zee mengusap wajah Vanya yang tampak memerah menahan malu atau sesuatu lainnya dan heii sejak kapan tatapan Vanya terasa menyejukkan hati Zee ?