ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 7 Menolak menikah dengan pembunuh



Vanya mengikuti para orang dewasa itu menuju ruangan khusus tempat dimana Zee juga sudah berada di sana.


"Duduklah Vanya.. " titah tuan Devan meminta agar Vanya duduk di sofa yang bersebelahan dengan Zee.


Sekilas pandangan mereka bertemu lalu saling senyum simpul dan sejurus lagi keduanya kembali saling diam.


"Seperti yang kita ketahui, ini tentang kondisi kesehatan ayah kamu maka.. " tuan Devan memberi kode pada asisten Clark untuk lanjut memberikan penjelasan.


Mommy Lucy yang berada disamping sang suami merasa khawatir, "Semoga Vanya bisa menerima keputusan ini.. "


"Tenanglah sayang segalanya akan baik baik saja, " tuan Dev mengusap punggung tangan sang istri.


Mommy Lucy tersenyum manis dibalas tatapan teduh tuan Dev sang suami.


Asisten Clark menjelaskan semuanya, tentang isi wasiat yang telah disetujui oleh dua pihak keluarga serta selembar surat lainnya yang berisi tentang kesanggupan keluarga Sanders bertanggung jawab sampai Vanya berhasil menjadi wanita dewasa yang sukses dalam meraih cita cita.


Respon yang diharapkan tidak sesuai kenyataan, awalnya Asisten Clark mengira sangat mudah membujuk gadis kecil di hadapannya.


Tapi salah, ternyata saat Vanya dan Zee mendengar kata pernikahan sontak keduanya melotot protes tak terima, terutama Vanya yang saat itu juga sadar jika pria bule tampan disampingnya ternyata adalah pelaku penabrakan keluarganya.


"PEMBUNUH !!!!" Vanya yang histeris gesit mencengkeram kerah kemeja yang dipakai Zee lalu dengan agresif Vanya memukuli Zeevan sampai tubuh keduanya berada di lantai ruangan.


Posisi Zeevan berada di bawah Vanya yang mendominasi serangan bru tal,


Plakk Plakk !!!


Bugh !!


Plakk !!


"Stop heii !!!" Zee hanya bisa menahan pergerakan tangan Vanya yang belum puas memukuli dirinya.


Bagi Zee, pantang membalas serangan seorang wanita. Seandainya Vanya adalah laki laki pasti saat ini keduanya sudah duel dan Zee tidak akan segan membalas.


Sial sekali.. batin Zee kesal lantaran tidak bisa membalas pukulan Vanya.


"Astaga, tolong hentikan !! Zee !! Vanya !! BERHENTI !!!" Teriak mommy Lucy histeris kemudian pingsan.


Brukk..


Tuan Devan berhasil menahan bobot tubuh sang istri lalu segera membaringkan sang istri di sebuah sofa panjang dekat jendela.


Sedangkan Asisten Clark yang berhasil melerai kedua bocah itu kini berdiri diantara Zee dan Vanya.


"Bisakah kalian berdua tenang !! Zee duduk !!" tegas perintah Asisten Clark membuat Zee mendengus kesal sambil mengusap sudut bibirnya yang terasa asin.


Sial.. kuat juga tenaga gadis itu. batin Zee yang merasakan darah di sudut bibirnya.


Zee memilih duduk didekat sang mommy yang masih pingsan sedangkan Vanya, "Lepaskan aku !! kalian semua jahat Aarrgghh !!!"


Vanya memberontak hendak lari dari ruangan namun Asisten Clark mencekal kuat lengannya membuat Vanya meringis menahan sakit sambil berontak.


"Tenanglah Vanya !! tenang dan dengarkan baik baik karena wasiat ini adalah keinginan ayahmu !!" ucapan Asisten Clark tentang kata Ayah membuat Vanya seketika terkukai lemas bersimpuh dilantai dengan air mata berderai bercampur emosi.


"Kalian jahat hiks !! Bapak tidak mungkin membuat wasiat seperti itu, aku tidak mau menerima pernikahan dengan pembunuh hikss.. " isak tangis Vanya membuat seisi ruangan terpaku tak berusaha mencegah menenangkan kondisi mental gadis kecil tersebut.


Untuk beberapa saat mereka membiarkan Vanya larut dalam pemikirannya sendiri.


"Apa tidak ada solusi lain selain pernikahan Dad ? Uncle ?" tanya Zee kesal pada sang ayah dan asistennya.


Mana mungkin aku menikahi gadis kecil yang sama sekali bukan tipeku, lagian aku sudah punya pacar dan terlebih lagi aku sudah janji sama Mischa untuk melamar saat wisuda sebentar lagi, Aarrggjhh !!! Zeevan merasa kepalanya mau pecah.


Perkiraan Zee tentang kesepakatan hanya sebatas nominal uang untuk ganti rugi atau beasiswa kuliah untuk Vanya sampai lulus Sarjana, bukankah itu sudah lebih dari cukup ??


"Zee, kamu sudah berjanji akan bertanggung jawab apapun hasil akhir kesepakatan ya kan, maka sekarang adalah saatnya kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu dengan cara menikahi Vanya, " ucap Daddy Devan tegas.


"Tapi Dad, ah come on.. bagaimana bisa aku menikah dengan gadis kecil yang sama sekali bukan tipeku, aku tidak bisa Dad. " Zee masih mencoba protes untuk menolak pernikahan.


"Cinta bisa datang belakangan karena terbiasa, saat ini Vanya tidak punya sandaran hidup. Ibunya meninggal dan baru dimakamkan beberapa jam yang lalu. Sedangkan ayahnya.. entah kapan Pak Beni bisa keluar dari ruangan steril intensif. Untuk sekali ini saja son, Terimalah Vanya.." ucap Daddy Devan terdengar lirih pelan tapi menyiratkan ketegasan lewat sorot matanya.


Vanya masih terisak lemah bersandar pada kaki sofa, tubuhnya seakan tidak bertulang bahkan tenaga untuk bangkit saja seolah sirna.


Bapak.. kenapa bapak tega memaksa Vanya menikah dengan pria pembunuh ibu pak ?? Sampai kiamat pun Vanya tidak akan sudi hiks..


"Pria jahat .. pembunuh... " lirih sekali Vanya berucap sambil menatap kearah Zee dengan tatapan tajam berlinang air mata


Zee yang merasa di tatap pun berani membalas , keduanya saking bersitatap yang satu merasa semakin benci to the bone, dan yang satu lagi merasa tiba tiba jijik lalu memilih memalingkan muka kearah sang ibu yang pingsan.


Situasi cukup terkendali sampai mommy Lucy mengerjapkan mata sadarkan diri. Saat semua orang menghampiri mommy Lucy,


Dengan gesit Vanya mengendap kabur dari ruangan tersebut. Tidak akan ada lagi kesempatan kabur selain saat ini.


Vanya langsung berlari sekuat tenaga menjauh dari Rumah sakit. Masih mengenakan pakaian dari rumah sakit beralaskan sandal rumah sakit juga Vanya berlari kearah pulang.


Jarak rumah Vanya dengan rumah sakit cukup jauh sekitar 3 kilometer, tapi tekad menghindari pernikahan paksa membuat Vanya seolah memperoleh tenaga lebih untuk melangkahkan kaki sesegara mungkin.


Sesekali Vanya menoleh kebelakang mewanti wanti siapa tahu ada yang berhasil menyusul dirinya, Gusti Sang Hyan Widhi... semoga mereka tidak mengejarku. Bapak.. maafkan Vanya ya pak, Vanya tidak mau menikah dengan pembunuh meski itu adalah keinginan terakhir bapak. Vanya janji akan segera kembali menjemput bapak saat para bule itu pergi dari Bali.


Bagi Vanya si gadis piatu saat ini tempat paling aman adalah Rumah, ya.. Vanya yakin mereka tidak akan bisa menemukan dirinya jika dirumah.


Peluh bercampur keringat membuat penampilan Vanya tampak lusuh tapi dia tidak peduli jika saat ini setiap orang yang berpas pasan dengannya menganggap dirinya gembel atau orang gila.


Tujuan Vanya hanya satu, Rumah..