
Bukannya mengangkat tangan dari tubuh Vanya yang kecil, Zeevan justru semakin tergoda untuk sedikit menggoda istrinya yang tampak grogi memberontak ingin melepaskan diri.
"Diamlah Vanya, astaga kamu ini benar benar deh. " Zeevan ingin kembali tidur sambil memeluk Vanya seperti guling.
Sontak Vanya memberontak semakin menjadi jadi, kalah tenaga jika dibandingkan dengan Zeevan tapi Vanya tidak kalah akal.
Lengan kekar sang suami menjadi sasaran gigitan keras Vanya sampai Zeevan memekik kesakitan.
"Aarrkkhh !!!" Zeevan meringis kesakitan lalu melepaskan tubuh Vanya dari dekapannya sambil mengusap usap bekas jejak gigitan pada lengan.
Niat hati Zeevan hanya menggoda namun justru dirinya yang kesakitan digigit Vanya. AAA DASAR VANYA !!!
"Awas kamu ya Vanya !!" Zeevan gegas bangun hendak menangkap Vanya yang berlari menghindar sambil tertawa lepas mengejek.
"Itu akibatnya kalau jahil sama aku mlweee... hahahaa !!"Vanya lari menghindar dan Zeevan berusaha menangkap Vanya yang ternyata cukup lincah kayak kelinci.
"Awas ya, kamu harus mendapatkan hukuman yang sama !!" Zeevan meyuarakan ancaman meski dengan nada bercanda.
Hahaha... hhahaaa.. "tangkapa aku kalau bisa mwlee... " ejek Vanya sambil menjulurkan lidah sambil berlari membuat Zeevan semakin geregetan.
Suara tawa mengisi kamar hotel tempat Zeevan dan Vanya menginap. Dua anak muda itu berlari memutari sofa panjang di depan tivi sambil saling melempar tawa ejekan dan candaan ancaman.
Hampir saja Zeevan berhasil menarik kaos Vanya dari belakang, lalu Vanya ganti arah lari lagi masuk ke dalam kamar dan..
Bughh !!
Vanya melempar sebuah bantal tepat mengenai wajah Zeevan yang sontak melotot pura pura marah.
"Vanya, aku udah peringatkan kamu ya. awas saja nanti aku tangkap kamu !!" Zeevan pura pura tersakiti dam hendak balas dendam. Padahal sebenarnya Zeevan hanya menganggap ini hiburan ringan.
Mengambil ancang ancang untuk serangan selanjutnya, Vanya meraih sebuah guling, begitu juga Zeevan yang meraih bantal yang tadi mengenai wajahnya.
Kini keduanya tidak lagi saling berlari menghindar tapi keduanya sedang melakukan pillow war alias perang bantal.
Baik Zeevan maupun Vanya sama sama tak mau kalah. Zeevan berusaha mengenai lengan Vanya sedangkan Vanya juga berusaha mengenai lengan Zeevan.
Bugghh !! bugghh !!
Hahaa.. hahaaa !!!
Saling memukul kemudian tertawa, berkali kali Vanya terhuyung lantaran ukuran tubuhnya yang lebih pendek dari Zeevan.
Sedangkan Zeevan yang melihat Vanya tertawa lepas seolah terus menyerang padahal Zeevan sendiri tidak sampai mengeluarkan banyak energi seperti Vanya.
Zeevan hanya sedikit bersenang senang menghibur Vanya agar bisa melupakan pikiran sedih yang kerap kali masih menyelimuti Vanya.
Karena kalau Zeevan mengerahkan energinya untuk benar benar melawan pasti Vanya akan kalah secara telak. Lalu dimana kesenangannya kalau permainan selesai dengan cepat.
Merasa sudah cukup bermain perang bantal, Zeevan menahan guling yang Vanya arahkan padanya.
"Capek. Tapi kalau aku lengah pasti kamu bakal balas gigit lenganku jadi aku harus ngalahin kamu duluan hahahaa !!" Vanya yang merasa bersemangat menarik ingin melepaskan guling yang di tahan oleh Zeevan.
Karena tenaga yang tidak sebanding, bukannya mendapatkan apa yang diinginkan justru..
BRUKK !!
Zeevan dan Vanya sama sama saling menarik kuat guling yang di genggam tangan satu sama lain, karena tenaga Zeevan lebih kuat tapi pura pura lemah maka saat Vanya menarik sekuat tenaga bukan cuma guling yang Vanya dapatkan tapi juga Zeevan yang ikut tertarik kearahnya lalu..
Keduanya sama sama terjatuh, terjatuh diatas kasur dengan posisi Zeevan berada diatas tubuh Vanya dana Vanya yang melongo lantaran lagi lagi kenapa dirinya yang terhimpit.
"Z.. Zee... " ucap Vanya lirih
"Vanya... " ucap Zeevan tak kalah lirih.
"Le.. lepaskan aku Zee. Berat.." Vanya mencoba memalingkan muka dari Zeevan yang menatap kedalam dua netra tanpa kedip.
"Ssttt.. jangan banyak bergerak. " ucap Zeevan yang merasakan Vanya terlalu banyak bergerak sampai mengenai sesuatu di bawah sana.
Vanya sendiri tidak sadar jika gerakan tubuhnya yang meronta ingin lepas justru mengenai sesuatu milik Zeevan dibalik celana pendek yang dia pakai.
Apa ini astaga... ucap Vanya membatin kala menyadari benda apa yang sudah di senggol
"Ma.. maaf.. maafkan aku Zee, tolong lepaskan. " ucapa Vanya dengan bibir yang bergetar merasa takut.
Zeevan masih tidak bergeming dari posisinya hingga, sempat terlintas pikiran mesum soal hukuman diatas ranjang.
Sah sah saja kan mereka sudah menikah..
Tapi sesaat kemudian Zeevan mengerjapkan mata seakan sepenuhnya sadar jika ini bukan momen yang tepat.
Zeevan sudah berjanji pada dirinya sendiri jika kelak melakukan percintaan pertama maka hanya akan dia lakukan bersama wanita yang dia cintai.
Dan wanita itu bukan Vanya, melainkan seseorang yang saat ini pasti sudah menunggu kepulangan Zee di Paris.
"Jangan berpikir aneh aneh Vanya. Aku gak mungkin ngajak kamu bermain permaiana ranjang suami istri, kamu bukan tipeku. " ucap Zeevan begitu saja lalu beranjak dari tubuh Vanya yang masih terasa gemetar.
Huft... Vanya menghela nafasnya panjang sambil menatap atap langit langit kamar yang berwarna putih seperti awan.
Hampir saja Vanya, syukurlah Zee tidak macam macam denganku.. batin Vanya merasa lega tetapi entah kenapa saat Zeevan mengatakan kalau Vanya bukanlah tipenya Zeevan sontak membuat Vanya kecewa.
Kenapa aku harus kecewa hanya karena aku bukanlah tipe wanita idaman Zeevan ?? bukankah itu justru hal yang bagus. Aku gak perlu gede rasa apalagi berandai andai Zeevan bakal suka sama aku. Vanya kembali melenguhkan nafas sesaat sebelum dirinya beranjak dari atas kasur lalu menoleh mencari keberadaan Zeevan yang tiba tiba menghilang masuk ke dalam kamar mandi.
Didalam Kamar mandi Zeevan merutuki perbuatannya tadi yang hampir saja memaksa untuk mencium Vanya.
Zeevan mengusap kasar wajahnya sambil menikmati guyuran air shower yang terasa dingin hingga mampu meredamkan sebuah gejolak panas yang tiba tiba muncul saat berinteraksi dengan Vanya.
Come on Zee, Vanya bukan tipemu.. tipemu adalah semua kebalikan yang ada pada diri Vanya. ingat kan seseorang menanti kepulanganmu di Paris... gerutu Zeevan yang kemudian melanjutkan sesi mandinya.