
Mobil yang Membawa Zeevan dan istrinya Vanya memasuki wilayah perkampungan nelayan di pesisir pantai sebelah timur Bali.
Jalanan kampung pedalaman yang sulit dijangkau kendaraan roda empat membuat Zee terpaksa menitipkan mobilnya di rumah pak lurah yang berada di dekat jalan utama.
Sekalian menitipkan mobil sekalian juga Vanya dan Zee menemui pak Lurah untuk menyerahkan berkas pernikahan keduanya.
Ini di lakukan karena selama menunggu proses pengurusan paspor dan berkas kepindahan Vanya ke luar negeri, pasangan muda beda karakter ini akan tinggal di kampung rumah Vanya berada.
Pak lurah turut prihatin dan menyampaikan rasa turut berduka cita yang mendalam kepada Vanya yang kini sebatang kara usai kedua orang tuanya meninggal.
Setelah menyelesaikan proses pemberkasan dirumah pak Lurah, Zeevan mengikuti Vanya yang melangkahkan kaki menuju ke rumah sederhana miliknya.
Rumah kayu bercat biru..
Sekitar sepuluh menit berjalan kaki, Zee dan Vanya akhirnya sampai dirumah kecil berukuran tak lebih besar dari kamar tidur Zee di mansion. Vanya yang melangkah masuk rumah biasa saja berbanding terbalik dengan Zeevan yang terheran heran.
Apa ini disebut rumah ? bentuknya seperti kandang bahkan masih lebih bagus kandang kuda milikku...
batin Zeevan yang masih berdiri bengong di depan pintu.
Vanya bahkan tidak peduli jika saat ini suaminya merasa tidak nyaman. Dengam gesit Vanya membereskan barang barang di dalam rumah, merapikan kamar tidur mendiang bapak dan ibu dan juga kamar tidurnya.
Beberapa hari ditinggal tentu sudah banyak sekali debu dan kotoran yang menumpuk harus dibersihkan.
Vanya membuka tirai depan yang berdebu, kemudian mengambil segagang sapu dan mulai menyapu ruangan.
Zee masih berada diluar, tampak sedang sibuk dengan ponselnya. Entah dengan siapa Zee berbicara lewat sambungan seluler Vanya tidak peduli.
Sekitar hampir satu jam rumah sudah tampak lebih bersih dan rapi. Vanya tidak merasa lelah sedikitpun, melakukan pekerjaan rumah adalah hal yang biasa baginya.
Kkkrrryyuuukkk....
Suara perut Vanya terasa lapar, Vanya melihat bahan makanan yang ada di lemari dapur. Hanya ada stok mie instan dan telur.
Baiklah.. karena keburu lapar maka Vanya memilih untuk membuat mie instan yang dicampur telur.
Vanya menyiapkan dua mangkuk untuk dirinya dan juga pria jahat itu, beberapa menit kemudian mie sudah matang, saat Vanya sedang menuangkan mie ke dalam mangkuk tiba tiba Vanya terisak.
Kembali dirinya teringat bagaimana kala itu Ibu selalu memasak untuk keluarganya, andalan saat ibu tidak punya uang atau bapak belum gajian adalah mie instan di campur telur dengan kuah yang banyak plus nasi.
Hiks..
Vanya mengusap sudut matanya yang mulai berair bersamaan dengan suara langkah Zee yang memasuki ruangan.
"Bau apa ini.. " Zee penasaran lantaran atoma mie instan terasa menyeruak sedap.
"Makan dulu, nih punyamu. " Vanya menggeser pelan mangkuk berisi mie kuah panas lalu beralih menikmati mangkuk berisi mie miliknya.
Vanya enggan bersitatap dengan Zeevan, lebih memilih menikmati makanan sambil memalingkan muka ke arah lain.
Zee mengangkat satu alis heran, "Ini apa ? spageti bukan, hhmm aneh. " Zee duduk dikursi dekat Vanya.
Aromanya sedap membuat perut Zee juga menginginkannya tapi makanan aneh itu membuat Zee mengurungkan niatnya sebelum Vanya menjawab.
"Makan saja yang ada, itu tidak beracun gak akan bikin kamu mati kecuali kalau kamu mau aku cekik ." ucap Vanya ketus sambil kembali menikmati mie di dalam mangkuknya.
Dengan sedikit rasa penasaran Zee mulai mencoba menyeruput sesendok kuah mie yang ternyata, Hhmm enak
Sendok berikutnya Zee mencoba mie serta telurnya, reaksi sama seperti yang pertama, akhirnya sendok demi sendok pun berpindah dari mangkuk ke dalam mulut Zee.
Mie kuah itu terasa menghangatkan perutnya, membuat Zee merasa kurang tapi gengsi kalau mau nambah.
Sesi makan berlangsung tanpa pembicaraan sedikitpun, Vanya yang sudah selesai makan membawa mangkuk kotor nya kebelakang mencuci dan langsung menyimpan di rak piring.
"Cuci sendiri wadah bekas makanmu, disini tidak ada pembantu dan aku bukan babu. " Vanya masih saja berucap sewot dan berlalu begitu saja meninggalkan Zeevan di ruang makan.
Dengan canggung Zeevan mencuci peralatan bekas makannya, ini adalah pertama kali bagi seorang Zeevan Sanders harus mencuci sendiri piring kotor nya. Biasanya sudah ada pelayan yang membereskan begitu dirinya selesai makan.
Sedangkan Vanya, kini duduk di depan teras.
Tidak melakukan apa apa hanya duduk dan menatap kearah laut tempat biasanya bapak bekerja.
Bapak Beni bekerja di bagian pemilah ikan, saat kapal pencari ikan menepi dini hari, bapak Beni beserta teman teman lainnya sudah stand by di bibir dermaga untuk memilah ikan berdasarkan berat ,jenis dan ukuran.
Pekerjaan yang dilakukan pak Beni selalu dimulai dini hari sampai menjelang fajar. setelah dipilah ikan akan di angkut kepasar ikan.
Tak seberapa memang upah yang pak Beni dapatkan, tapi setidaknya cukup untuk menyambung hidup keluarga kecilnya setiap hari.
Vanya menghela nafas panjang, dirinya sudah berusaha ikhlas tetapi entah kenapa segala serpihan kenangan itu terus memenuhi pikirannya.
Lamunan Vanya terusi kala mendengar suara benda terjatuh dari dalam rumah.
Prankk !!!
Gegas Vanya masuk kedalam memeriksa apa yang pecah. Ternyata itu adalah Zeevan yang tidak sengaja memecahkan gelas saat hendak minum air putih.
"Astaga, bisakah kamu tidak menghancurkan barang barang dirumah ini !!!" Vanya marah, ya dia marah lantaran harus melihat Zeevan.
Sebenarnya gelas pecah tidaklah masalah yang harus dibesar besarkan tapi namanya ego seorang gadis yang baru menginjak remaja dewasa,selalu uring uringan.
Vanya Mengalihkan pandangan dari Zee yang meski sudah meminta maaf tapi tetap saja di marahi.
"Ini hanya gelas Vanya, bukan hal besar sampai kamu harus marah marah begitu !" ucap Zee tegas menatap Vanya yang tidak mau bersitatap dengannya.
"Kalau bukan kamu yang memecahkan itu bukan masalah besar. Tapi karena itu kamu ZEE !!! KARENA ITU KAMU MAKANYA AKU TIDAK SUKA !!!" Vanya jelas jelas meninggikan suara di hadapan Zeevan.
"Bersihkan sendiri pecahan gelas ini, aku gak mau tahu pokoknya. " Vanya menghentakkan kaki lalu pergi begitu saja meninggalkan Zee.
"Astaga.. gadis itu sungguh keterlaluan, berani sekali dia mengucapkan nada tinggi padaku. Cih~ awas saja kamu Vanya. " Zee akhirnya membereskan serpihan gelas kaca di lantai.
Karena kurang hati hati, saat Zee memungut serpihan kaca tiba tiba..
~ouch
Jari telunjuk Zee tergores hingga megeluarkan darah segar, mengumpat dalam hati namun tetap menyelesaikan membersihkan serpihan gelas pecah.
Kemudian, Zeevan memilih untuk pergi keluar rumah usai membersihkan luka di jari telunjuknya .