WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
9. Video Rekaman



Layaknya roda kehidupan yang terus berputar, terkadang kita sering merasa masalah yang kita hadapi berat dan membuat kita berpikir bahwa masalah tersebut tidak akan berlalu. Namun percayalah, semua hal di dunia ini tidak ada yang permanen dan suatu saat akan berlalu termasuk masalah kita.Ketika seseorang menghina dirimu, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan waktu memikirkan kamu, bahkan ketika kamu tidak memikirkan mereka.


Tersenyumlah jika kamu dihina karena itu tanda sebentar lagi kamu akan ditinggikan oleh Tuhan yang maha adil. Tidak perlu membela diri mati-matian dan jelaskanlah  seadanya,lalu biarkan waktu yang membuktikan. Sabar itu indah dan kuat sedangkan fitnah adalah kesempatan untuk melatih kesabaran.


Wilona kembali ke rumahnya masih dalam keadaan basah kuyup,untung saja bibi Rose sedang tidak ada dirumah. Setelah menaruh sepedanya di garasi,Wilona masuk lewat pintu belakang. Ia segera masuk kamar dan membersihkan dirinya,Wilona melepaskan hoodie milik Leon yang ia pakai tadi. Sesaat Wilona menatap hoodie yang sudah di masukkan ke keranjang pakaian kotor itu,Wilona menatap sendu ke arah hoodie milik Leon. Wilona langsung menormalkan dirinya kembali ia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan karena sikap Leon kepadanya. 


"Apakah sesakit ini rasanya mencintai seseorang yang tidak mencintai kita?" Tanya Wilona pada dirinya sendiri yang sedang berada di depan cermin.  


...********...


Leon sedang menunggu Claudia yang masih ditangani oleh dokter karena  luka pada siku tangan Claudia. Saat ini mereka sedang berada di sebuah klinik milik sepupu dari Leon. Klinik milik dokter Javier terbilang sangat besar. 


"Sudah selesai nona,luka anda sudah dibersihkan dan saya akan memberikan obat pereda nyeri,diminum jika nyeri saja." Ucap dokter yang tidak lain adalah kakak sepupu Leon. 


"Terimakasih dokter" ujar Claudia dengan senyum manisnya. 


"Terimakasih Kak Javier,maaf sudah mengganggumu di hari libur seperti ini." Minta maaf Leon pada Javier


"Tidak apa,ini adalah tugasku sebagai dokter. Dibutuhkan jika dalam keadaan darurat. Tapi,untuk kecelakaan kecil seperti  ini sebenarnya bukan darurat." Jawab Javier dengan senyum yang seperti sedang mengejek. 


"Maaf ya kak,mungkin karena Leon terlalu mencintai aku jadi dia panik dan langsung menghubungimu." Claudia meminta maaf dan  berusaha memberi penjelasan pada Javier tentang hal ini. 


Javier menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Leon "ya,saya sudah bisa melihatnya. Sepertinya adik saya ini sudah sangat dibutakan hatinya untuk cintanya pada diri anda nona." 


"Baiklah kak,kami pamit dulu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih dan maaf sudah mengganggu kak Javier,aku akan mentransfer bayarannya." Leon mengajak Claudia pulang dan tidak lupa Leon mentransfer uang ke rekening Javier. 


Tidak lama Javier menerima notifikasi dari ponselnya kalau Leon sudah berhasil mentransfer uang dengan nominal yang cukup fantastis kalau dilihat dari luka yang dokter Javier obati pada Claudia. 


"Sudah masuk,thank u." Ujar Javier sambil menunjukkan notifikasi di ponselnya. 


Leon dan Claudia keluar dari klinik dokter Javier,tapi sebelum Leon dan Claudia benar-benar keluar Javier bertanya kepada Leon. 


"Leon,apakah kamu nanti siang ada di mansion?" Tanya Javier


Leon menatap ke arah kakak sepupunya itu "tentu kak,aku ada di mansion. Setelah mengantar Claudia ke apartemennya aku akan segera pulang kerumah." Jawab Leon 


"Baiklah aku akan menunggumu di mansion saja,aku ingin bertemu dengan paman dan Grace." Ujar Javier kembali


Leon pun mengangguk dan segera keluar dari klinik tempat dokter Javier bekerja. Sepeninggalnya Leon dan Claudia dari kliniknya Javier mengeluarkan ponselnya dan melihat video yang sempat sengaja direkam ketika sedang berolahraga tadi pagi sebelum Leon menghubunginya. 


Seulas senyum terbit dari wajah Javier "apa yang kamu lakukan tetap salah Leon,kamu benar-benar sudah dibutakan dengan cinta Claudia." Helaan nafas kasar keluar dari bibir Javier,ia tidak menyangka dengan apa yang ia lihat di taman tadi. 


Ya,saat Javier sedang berolahraga di taman dekat kliniknya itu,tidak sengaja Javier melihat Claudia sedang berbicara dengan gadis yang belum ia kenal. Ketika Javier ingin merekam sekeliling taman untuk ia taruh di medsos nya tidak sengaja kejadian antara Claudia dan Wilona terekam jelas oleh ponselnya. Jelas di rekaman itu kalau Claudia menjatuhkan dirinya sendiri,bukan didorong oleh Wilona. Tapi,sayangnya ketika Claudia jatuh Leon melihat posisi Wilona seperti sedang mendorong Claudia. Yang sebenarnya itu Wilona ingin menolong Claudia yang jatuh. 


Javier sudah tiba di mansion Averus,dokter muda yang tidak kalah tampannya dengan Leon itu memasuki mansion dengan senyum yang selalu terbit di wajahnya ketika bertemu dengan para pekerja di mansion Averus. 


"Selamat siang paman" ujar Javier sambil memeluk pamannya 


"Lihatlah dokter muda kita ini,selamat datang nak. Bagaimana kabar mu?" Tanya Averus


"Aku baik paman. Paman sendiri bagaimana? Tidak ada keluhan lagi kan' dengan perut paman?" 


Akhir-akhir ini memang Averus sering mengeluhkan perutnya yang sering sakit karena sering telat makan dan jarang memperhatikan pola makan sehatnya. 


"Tenang saja paman sudah lebih baik sekarang karena paman mempunyai dokter yang handal seperti dirimu." Jawab Averus sambil tertawa bersama Javier. 


Averus mempersilahkan Javier untuk duduk menemaninya sambil menunggu jam makan siang tiba. Cukup lama Averus  dan Javier berbincang-bincang di ruang keluarga. 


"Paman,dimana adik kecilku?"


"Kamu ini seperti tidak tahu saja,satu bulan lagi kan' adikmu itu lulus dari kuliahnya,setelah itu ia akan menikah. Jadi,hari ini Grace sedang keluar bersama Gabriel untuk fitting baju pernikahan mereka." Jawab Averus dan dibalas anggukan oleh Javier. 


"Aku lupa kalau sebentar lagi adik kecilku akan menikah." Ujar Javier dengan terkekeh 


"Ya,Gabriel takut adik kecilmu itu didahului oleh orang lain,haha." 


"Paman benar,Gabriel sepertinya sudah sangat bucin dengan Grace." 


"Sebentar lagi adikmu menikah,lalu kapan kamu akan menikah,nak?" Tanya Averus yang membuat Javier terdiam lalu tersenyum kecut. 


"Aku belum tertarik memikirkan hal itu paman." Ujarnya lirih


"Paman sangat paham apa yang kamu rasakan,Javier. Paman tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai,terkadang cinta itu memang tragis." Averus menatap keluar jendela dimana terlihat jelas sebuah taman yang indah berada dekat kolam renang. Javier menatap sang paman,terlihat jelas raut wajah sang paman yang begitu menderita karena cintanya sudah meninggalkan dirinya. 


"Paman merindukan bibi Anne?" Tanya Javier


Averus menoleh pada Javier "ya,paman juga merindukannya" jawab Averus dan mampu membuat Javier mengernyitkan dahinya. Ucapan pamannya terasa ambigu bagi Javier. Ketika Javier masih dalam pemikirannya tiba-tiba Leon masuk ke ruang keluarga dan menyapa Javier. Penampilan Leon sudah terlihat sangat segar,itu artinya sebelum ia ke ruang keluarga Leon menyempatkan diri untuk membersihkan dan berganti pakaian di kamarnya.


"Halo,kak. Aku kira kak Javier tidak jadi datang." Ucap  Leon menyapa  Javier. 


"Aku orang yang selalu konsekuen dalam menepati janji Leon." Jawab Javier dengan santai


Leon menganggukkan kepalanya "ya,aku tahu itu kak."