WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
Pernikahan



Setelah melakukan fitting baju Leon mengantarkan Wilona pulang,tapi sebelum itu Leon mengajak Wilona ke sebuah restoran untuk makan malam. Leon baru sadar kalau dirinya juga melewatkan makan siangnya karena kedatangan Claudia yang mendadak ke kantornya. 


Leon mengajak Wilona makan malam untuk pertama kalinya dalam hidup Leon dan juga Wilona. Mereka berada di sebuah rooftop hotel yang nantinya akan menjadi tempat resepsi pernikahan mereka. Hotel itu menyediakan restoran untuk umum yang terletak di rooftop gedung hotel. Disinilah mereka menikmati makan malam mereka dengan pemandangan kota pada malam hari. 


Mereka menikmati makan malam mereka tanpa adanya obrolan,sesekali Leon melirik ke arah Wilona yang hanya fokus ke makanannya,hingga makan penutup disajikan barulah Leon membuka suaranya.


"Apakah kamu sangat menikmati makan malam saat ini nona Wilona?" Tanya Leon yang sambil minum wine yang sudah disajikan oleh pelayan. 


Wilona menatap Leon sejenak "tentu kita harus menikmati makan malam  saat ini,apapun jenis makanannya kita harus menikmatinya. Apakah ada masalah tuan Leon?" 


Leon mengangkat kedua bahunya "tidak ada" jawab Leon dengan santainya


Leon tetap memperhatikan apa yang dilakukan Wilona,gadis yang sedang berada di hadapannya saat ini benar-benar sangat sulit ditebak hatinya. Bahkan ekspresi datar pada wajahnya itu selalu membuat Leon gugup. 


Wilona memandang langit langit malam sambil sesekali menikmati coklat panas yang sudah di pesannya setelah selesai makan. Leon menadangi wajah Wilona yang semakin indah di bawah pantulan lampu remang-remang. Wilona mendekap tangannya di dada seolah mencari kehangatan pada coat yang dikenakannya. Malam ini sangat cerah,bintang-bintang memancarkan kilaunya pada malam ini. 


"Kita akan menikah" Leon kembali membuka suaranya


Wilona yang sedang asyik memandangi langit malam ini akhirnya dengan terpaksa mengalihkan pandangannya kepada pria yang sedang duduk berhadapan dengannya dengan mengernyitkan dahinya. 


"Apakah kamu senang karena akhirnya kamu menikah denganku nona Wilona?" Ucapan Leon membuat Wilona merubah ekspresi wajahnya dengan menatap tajam ke arah Leon. 


"Apa maksud anda tuan Leon?" 


"Cih,tidak usah berpura-pura tidak tahu nona Wilona. Apakah kamu menjebak korban mu dengan cara yang sama seperti yang kamu lakukan kepada ku saat ini? Tapi,bedanya aku yang berhasil menikah denganmu,itu pun karena papaku yang memintanya." Ujar Leon dengan nada sinis


Wilona mengerti kemana arah pembicaraan Leon. 


"Kenapa anda tidak membatalkan saja pernikahan ini dan menikahi kekasih anda?" 


Kali ini Leon tidak dapat menjawab pertanyaan Wilona,tidak mungkin jika dirinya akan menjawab bahwa Claudia sudah sering menolak lamarannya untuk menikah dengannya. 


"Kenapa anda diam tuan Leon?" Tanya Wilona lagi dengan tetap menatap Leon dengan tatapan tajamnya yang seakan-akan ingin menerkam Leon hidup-hidup. 


Leon masih terdiam bahkan saat ini ekspresi wajahnya berubah menjadi sedingin es. Suasana menjadi tegang sesaat mereka berdua tidak lagi bersuara. Mereka berusaha menyimpan perasaan mereka masing-masing. 


"Ini sudah malam,sebaiknya cepat habiskan coklat panas mu. Aku akan mengantarmu pulang" 


Wilona tidak menjawab lagi,gadis itu langsung bersiap dan berdiri dari duduknya "aku sudah selesai" jawab Wilona dengan nada getir sambil mengambil sling bag yang ditaruh di dekat kursinya.


...******...


Hari pernikahan pun tiba,tidak ada aral yang melintang menghambat acara pernikahan Leon dan Wilona. Pernikahan mereka berjalan sangat lancar,sesuai yang direncanakan oleh Averus dan Rose. 


Saat Leon sedang duduk di sebelah Wilona sekilas pria itu melihat wajah Wilona dengan senyum yang selalu mengembang,bahkan Leon sempat terpesona melihat pemandangan yang ada di sebelahnya. Tanpa Leon sadari ada seorang yang sedang memperhatikan sikap Leon yang sedang mencuri pandang pada Wilona. Claudia duduk di tempat yang tidak akan Leon ketahui,tangannya mengepal cukup kuat dengan wajah yang sedang menahan amarah. 


Saat ini,Wilona dan Leon sudah berada di dalam kamar hotel yang sudah disiapkan oleh Grace. Tentu ini adalah pengalaman pertama  Wilona untuk tidur di kamar hotel bintang lima milik keluarga Averus. Harum ruangan menambah suasana menjadi romantis,seandainya pernikahan mereka didasari atas cinta. Mungkin saat ini Leon dan Wilona menikmati malam pertama mereka dengan keromantisan. 


Leon berjalan menuju kamar mandi tanpa berucap satu kata pun pada Wilona.  Sedangkan Wilona sendiri,saat ini gadis itu sedang duduk di tepi ranjang yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar. Tangannya menyentuh beberapa kelopak bunga mawar itu dan menatap dengan tatapan begitu nanar. 


Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Leon yang baru saja selesai dengan ritual mandinya yang sudah terlihat sangat segar. Pria itu hanya mengenakan handuk kimono,dan mampu membuat Wilona sedikit gugup dengan apa yang dilihatnya. Karena begitu gugup Wilona langsung menundukkan wajahnya dan sedikit meremas gaun pengantinnya. 


"Mandilah,aku akan keluar menemui Roy." Ujar Leon dengan memerintahkan Wilona untuk membersihkan dirinya. 


Wilona pun menuruti apa yang diucapkan oleh Leon untuk segera menuju kamar mandi. Untung saja Wilona tidak kesulitan saat membuka gaun pengantinnya,jika tidak maka akan terjadi drama seperti cerita novel yang lainnya. 


Leon sudah berpakaian dengan pakaian biasa,dirinya hanya mengenakan kaos oblong berwarna abu-abu dan celana pendek. Pria itu segera menghubungi Roy agar sekretarisnya itu memesankan kamar untuk dirinya. 


"Roy,apakah yang aku perintahkah sudah kamu laksanakan?" Tanya Leon dari sambungan telepon itu.


"Sudah bos dan kebetulan kamar itu tepat di sebelah kamar kalian. Nanti akan ada yang mengantarkannya ke kamar bos." Jawab Roy


"Oke,kerja yang bagus terima kasih." 


Tidak lama Leon mengakhiri panggilannya bel kamar pun berbunyi,segera Leon berjalan untuk membuka pintu kamar dan di sana sudah ada seorang pria dengan setelan casualnya menyerahkan sebuah amplop kepada Leon dan setelah itu pria suruhan Roy pun pergi. Leon nampak tersenyum dan segera dirinya menutup kembali pintu kamar hotel. 


Wilona keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya dan juga gadis itu sudah berganti pakaian dengan piyamanya. Tanpa disadari oleh Wilona, Leon sedang menatap dirinya yang lagi mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Betapa terkejutnya Wilona ketika kepalanya mendongak dan mendapati Leon yang sedang berdiri menatap dengan tatapan yang tidak dapat diartikan oleh Wilona. 


"Maaf,aku tidak tahu kalau kamu ada disini." Ujar Wilona dengan menatap ke arah lain dan sesekali menundukkan kepalanya


"Hhmm" jawab Leon singkat


"Kamu mau tidur? Kalau mau tidur saja di kasur itu,aku akan tidur di sofa bed itu." Ujar Wilona dengan menunjuk ke arah sofa bed yang berada di dekat kasur. 


"Tidak… aku tidak akan tidur satu kamar dengan dirimu. Aku akan tidur dikamar sebelah." Jawab Leon sambil memperlihatkan kunci kamar hotel pada Wilona. 


Wilona hanya menatap nanar pada diri Leon,sebenarnya ada rasa kecewa pada dirinya. Tapi,Wilona sadar kalau pernikahan mereka hanya karena kesalahpahaman orang tua Leon dan tidak ada rasa cinta pada diri Leon untuk Wilona. 


"Baiklah" ucap Wilona pelan 


Leon meninggalkan Wilona di malam pertama mereka,air mata Wilona pun akhirnya turun tanpa permisi. Rasa sesak menjalar di dadanya,sesakit inikah mencintai seseorang yang tidak mencintai kita? Wilona pun sempat berpikir pernikahan macam apa yang akan dijalani oleh dirinya dan juga Leon. Bagaimana dirinya dapat menjalani hari-harinya di dalam pernikahan yang tidak didasari oleh cinta yang sepenuhnya? Akankah nantinya Wilona akan sanggup menyandang status baru ketika Leon mengajukan perceraian. Memang tidak ada pembicaraan tentang kontrak pernikahan atau sejenisnya yang dapat merugikan sebelah pihak,tapi pikiran Wilona selalu saja memikirkan masa depan. Maka dari itu dirinya harus mempersiapkan diri agar siap menerima semua kenyataan yang ada. 


Seandainya Wilona dapat memilih,dirinya tidak ingin dalam pernikahannya bersama Leon tidak ada kata cerai dari dirinya maupun Leon. Bagi Wilona pernikahan itu sakral dan hanya akan terjadi pada dirinya satu kali saja selama masa hidupnya. Itu adalah prinsip yang selalu ditanamkan oleh sang ayah,ketika ayah Wilona masih hidup.