WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
32. Salah Paham



Wilona menatap pantulan dirinya di depan cermin toilet wanita. Bayangan tentang kejadian Leon dan Claudia membuat tubuhnya menegang dan ada rasa sakit dalam dadanya. Sesak,itulah yang saat ini sedang Wilona rasakan. Betapa sakitnya melihat pria yang dicintainya itu sedang melakukan hubungan intim dengan wanita yang bahkan belum ada ikatan suci sebuah pernikahan diantara mereka. 


Bayangan itu terus melintas dalam pikirannya seperti sebuah siaran langsung bahkan suara ******* mereka pun masih terus bergema dalam pendengarannya. Wilona segera menutup telinganya itu dengan kedua tangannya,dengan memejamkan mata agar suara dan adegan demi adegan itu menghilang dari pikirannya. Wilona dengan cepat pula membasuh wajahnya dengan air dan mengambil tisu untuk mengelap wajahnya yang basah. Gadis itu pun mencoba menetralkan dirinya kembali,menarik nafas dengan begitu dalam dan mengeluarkannya dengan kasar. 


Setelah cukup lama dirinya berada di dalam toilet,akhirnya Wilona keluar dan ingin kembali bergabung dengan Grace. Ketika Wilona berjalan untuk menuju ballroom hotel tiba-tiba saja tangannya tercekal oleh sebuah tangan sehingga tubuhnya berbalik ke arah orang tersebut dan menabrak dada bidang orang itu. 


Wilona mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat pria yang dari tadi menjadi sesak di hatinya. 


"Leon" gumam Wilona


"Ya ini aku,kenapa? Kamu takut?" Jawab Leon dengan menatap Wilona dengan sangat tajam dan tangannya menahan pinggang Wilona agar gadis itu tidak dapat pergi dari hadapannya. 


Wilona menggelengkan kepalanya "mau apa kamu?" Tanya Wilona kembali dengan nada yang sedikit bergetar


Leon tidak menjawab pertanyaan dari Wilona,tapi pria itu menarik tangan Wilona dan menggenggamnya dengan begitu kencang sehingga Wilona merintih kesakitan karena cekalan dari tangan Leon yang begitu kencang. 


"Lepaskan aku Leon,ini sangat sakit." Rintih Wilona


Leon tidak memperdulikan ucapan Wilona,bahkan saat ini genggaman tangannya semakin kencang di kala Wilona memberontak agar dirinya melepaskan cengkeramannya. Tanpa Leon dan Wilona sadari ada salah satu orang suruhan Averus yang melihat kejadian itu. Pria itu segera menekan earpiece yang tersambung dengan beberapa pengawal Averus dan melaporkan apa yang sudah dirinya lihat kepada rekan lainnya agar segera menyampaikannya langsung pada Averus. 


Leon membawa Wilona ke salah satu  kamar hotel yang masih terletak di lantai itu,dengan cepat Leon menghempaskan tubuh gadis itu ke atas ranjang. Tubuh Wilona seketika itu juga memantul setelah di hempaskan ke atas kasur yang empuk. Leon mendekat dan dengan cepat merenggangkan ikatan dasinya,Wilona berusaha bangkit dari posisinya. Namun,sayang gerakannya kurang cepat dari Leon. Tubuh Wilona terkunci oleh Leon,bahkan saat ini posisi Leon sudah berada di atas tubuhnya dengan mencengkram tangan Wilona di atas kepala gadis itu. 


Tubuh Wilona bergetar begitu hebat ketika Leon dengan sangat lancangnya mencium bahkan melu*** bibir mungil Wilona,tidak sampai disitu saja Leon semakin menjadi ketika suara ******* Wilona terdengar olehnya saat Leon menyesap leher jenjang Wilona dan membuat tanda kemerahan di sana. Seketika itu juga seringaian licik terlihat dari raut wajah Leon. Air mata gadis itu tiba-tiba saja keluar dari mata indah Wilona dan membuat Leon sedikit tertegun dengan apa yang dilihatnya. Bahkan Leon berpikir bukankah ini adalah hal yang sering dilakukan oleh Wilona. Tapi,kenapa kini gadis itu seakan takut dengan apa yang Leon lakukan,bukankah seharusnya gadis ini senang atas apa yang saat ini Leon lakukan? Kenapa Wilona menangis? Kenapa Wilona ketakutan? 


Berbagai pertanyaan dalam pikiran Leon membuat pria itu ragu dalam menjalankan misinya untuk membuat pelajaran terhadap Wilona. Disaat Leon sedang dalam pemikirannya sendiri,tiba-tiba saja Wilona mendorong tubuh Leon dan dengan gerakan cepat pula Leon menarik kembali tangan Wilona sehingga tubuh gadis itu berada di atas Leon. Saat itu juga pintu terbuka dengan sangat kencang sehingga menimbulkan suara dentuman yang berasal dari pintu kamar tersebut. 


"Leon" teriak Averus yang datang bersama para pengawalnya


"Wilona" ucap Rose yang begitu terkejut dengan pandangan yang dilihat oleh dirinya. 


"Bibi" lirih Wilona 


Wilona berusaha bangun dari posisinya,tapi dirinya merasa kesulitan karena kalung Wilona tersangkut dengan kancing kemeja Leon. Tangannya bergetar berusaha melepaskan kalungnya yang tersangkut itu. Dengan sangat geram akhirnya Leon pun membantu Wilona melepaskan kalung itu dan segera memberikannya kepada Wilona. Rose segera membantu keponakannya itu untuk berdiri di sebelahnya,tanpa sengaja Rose melihat sesuatu tanda merah di area leher Wilona. 


"Apa yang ingin kamu katakan dengan kejadian ini Leon?" Tanya Averus dengan menginterogasi  putranya yang sudah berbuat asusila pada Wilona. 


"Tidak ada yang perlu dijelaskan,pah. Ini hanya salah paham saja,aku dan wanita ini tidak melakukan apa-apa." Jawab enteng Leon


"Tidak melakukan apa-apa katamu? Lalu,ini apa?" Ucap Rose sambil menunjukkan tanda kemerahan karta Leon pada leher jenjang Wilona. 


Leon merutuki dirinya,bagaimana bisa dirinya membuat tanda itu di wanita yang sangat dirinya benci. Leon tidak dapat menjawab pertanyaan wanita yang berada di sebelah Wilona. Leon tidak mengenal siapa wanita itu,tidak mungkin itu ibunya. Karena Leon tahu kalau Wilona adalah anak yatim piatu. Sejenak Leon berpikir sampai dirinya mengingat kalau wanita itu adalah bibinya Wilona,tapi bagaimana bisa wanita itu ada di disini bahkan datang bersama dengan papanya. 


"Kamu harus bertanggung jawab atas tindakanmu ini,Leon" perkataan Averus membuat Leon menatap papahnya dengan tatapan bingung. 


"Bertanggung jawab atas apa pah? Aku tidak melakukan apa-apa dengan dia" jawab Leon sambil menunjuk ke arah Wilona yang tertunduk karena malu.


Wilona benar-benar merasa sangat malu seperti sedang benar-benar tertangkap basah karena melakukan perbuatan yang dilanggar oleh agama. Ini hanya salah paham,tapi dirinya bingung harus menjelaskannya bagaimana. Rose masih memberi ketenangan pada Wilona,wanita itu tahu apa yang dirasakan oleh keponakannya ini. Averus melihat ke arah Rose yang memeluk tubuh Wilona yang bergetar karena menangis,walaupun tidak ada suara tangisan dari Wilona. Tapi,Averus tahu bahwa gadis itu sedang menangis dalam diam. 


"Menikahlah dengan Wilona" ucapan Averus membuat Leon dan Rose menatap Averus begitupun dengan Wilona yang masih mengeluarkan air matanya. 


"Tidak pah,aku tidak ingin menikah dengan gadis seperti dia,pah. Papah tidak tahu siapa gadis ini,jika aku menikah dengannya orang-orang akan menghina  keluarga kita pah." Jelas Leon dengan nada sedikit meninggi dalam berbicara kepada papahnya. 


"Papah sangat mengenal siapa Wilona,papah akan merasa kalau keluarga kita akan lebih terhina jika kamu tidak mau mempertanggungjawabkan tindakanmu terhadap gadis yang tidak berdosa terhadap keluarga kita,Leon." Jawab Averus dengan nada yang tak kalah meninggi seperti Leon. 


"Menikah dengan Wilona atau kamu akan papah asingkan ke pulau tanpa berpenghuni." Lanjut Averus dengan mengancam putranya. 


Leon mengusap kasar wajahnya,dirinya menatap sinis pada Wilona yang masih menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal begitu kuat dengan rahang yang mengeras karena menahan semua emosinya. 


"Baiklah aku mengalah" jawab Leon dengan pelan,tapi dapat didengar oleh mereka. 


Wilona mendongakkan kepalanya dan menatap Leon yang juga menatapnya dengan rasa benci yang memuncak dalam diri Leon. Wilona dapat merasakan kebencian itu hanya dengan melihat mata Leon saat menatap dirinya.