
Pergumulan dunia ini membuat hina orang yang memuliakannya, merendahkan orang yang menyanjungnya, dan menjadikan miskin orang yang mengajarkan, jangan tertipu dengan dunia. Orang yang beneran baik tidak akan menghakimi yang belum baik. Orang yang beneran ikhlas tidak akan mengungkit-ungkit yang sudah lewat. Orang yang beneran kaya tidak akan merendahkan yang masih miskin.
Malam harinya Leon yang sedang termenung di dalam kamarnya,mengingat tentang kejadian tadi pagi. Sekelebatan tentang kejadian tadi pagi di taman membuat dirinya merasa sangat gelisah. Kejadian tadi pagi terus saja melintas dalam pikirannya seperti sebuah kaset kusut. Bahkan pria itu menyesali menerima ajakan dari Claudia untuk berjalan-jalan pagi di dekat taman komplek perumahan Wilona.
Flashback on
Dering ponsel Leon berbunyi ketika pria itu sedang termenung karena merindukan kekasihnya. Leon meraih ponselnya dan seulas senyum terbit di wajahnya saat ini,orang yang sedang dipikirkannya itu menghubunginya. Claudia menghubungi Leon karena ingin memberitahukan Leon,kalau gadis itu sedang dalam perjalanan kembali ke apartemennya.
"Halo sayang" ujar Claudia
Leon tersenyum "halo juga sayangku"
"Apa kamu merindukan diriku?" Tanya Claudia
"Ya,aku bahkan sedang memikirkan dirimu saat ini." Jawab Leon yang benar-benar merindukan kekasihnya itu.
"Sayang besok pagi aku mau kita lari pagi di taman" ujar Claudia dengan nada manjanya
"Baiklah,kita akan ke taman mana? aku akan menjemputmu pagi sekali."
"Mmm,kita akan ke taman dekat dengan rumah temanku."
"Dimana sayang?"
"Dekat komplek perumahan dimana Wilona tinggal,aku ingin kesana karena tempatnya sangat bagus."
Seketika Leon terdiam,sebenarnya Leon tidak ingin ke taman itu. Tapi,karena Claudia menginginkannya mau tidak mau pria itu menurutinya.
"Baiklah,tunggu aku besok pagi di apartemenmu." Jawab Leon dengan lesu.
"Tentu sayang aku akan menunggumu,aku sayang kamu. Muach"
"Aku juga"
Flashback off
Perlakuan kasarnya terhadap seorang gadis seakan bertolak belakang dengan dirinya yang bernotaben sebagai pria yang sangat lembut kepada perempuan. Terkadang kesalahan yang terjadi disebabkan oleh tindakan yang bodoh, baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Haahh
Helaan nafas kasar keluar begitu saja dari bibir Leon,pria itu memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing. Kejadian tadi pagi benar-benar membuatnya tidak bisa memejamkan matanya. Leon melirik ke arah jam dinding yang berada di sebelah kanannya,jam menunjukkan pukul delapan malam. Sebenarnya ini masih belum larut malam,entah kenapa Leon merasa tubuhnya sangat lelah. Tapi,ketika pria itu ingin memejamkan matanya lagi-lagi bayangan wajah kesakitan Wilona terlintas dalam pikirannya. Leon segera bangkit dari tidurnya,dan meraih jaket serta kunci mobil yang ada di atas nakas.
Akhirnya setelah mengitari taman Leon menemukan tempat duduk dekat dengan air mancur. Di kursi taman itu Leon melihat seseorang mengenakan hoodie hitam dengan kepala yang juga tertutup dengan bagian dari hoodie tersebut,tanpa berpikir panjang lagi pria itu pun duduk di sebelah orang tersebut. Betapa terkejutnya Leon ketika orang yang berada di bangku taman itu menengok ke arahnya,begitupun dengan orang itu.
"Leon"
"Wilona"
Mereka sama-sama terkejut dengan pertemuan yang tidak disengaja ini. Seketika peristiwa kejadian tadi pagi terlintas kembali di pikiran mereka masing-masing. Wilona segera memalingkan wajahnya menatap air mancur yang ada di hadapannya dan berusaha menetralkan degup jantungnya. Sedang Leon,pria itu masih menatap Wilona dari arah samping. Leon melihat bekas luka yang tertutup plester di kening sebelah kanan gadis itu. Leon menundukkan kepalanya,pria itu kembali merutuki dirinya karena sudah berbuat kasar terhadap gadis ini. Kemudian Leon kembali menatap kembali wajah Wilona,walaupun hanya dari samping saja pria itu bisa melihat jelas kecantikan yang terpancar dari wajah Wilona.
Wilona merasa seperti sedang diperhatikan pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari taman ini. Wilona berdiri dari kursi taman,ketika hendak melangkahkan kakinya,Leon memanggil namanya.
"Wilona" Leon memanggil
Gadis itu pun menengok ke arah Leon dengan wajah kebingungannya.
"Apakah anda memanggil saya,tuan?" Tanya Wilona sambil menunjuk dirinya
"Ya,saya memanggil anda nona Wilona" jawab Leon dengan menatap gadis dihadapannya ini dengan tatapan tajam dan dingin seperti biasa.
Wilona dapat melihat tatapan yang masih tidak bersahabat pada dirinya itu,tubuh Wilona masih diam mematung di tempat. Gadis itu juga menunggu dan ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Leon. Gadis itu sudah siap mendengar kata-kata yang akan menyakiti hatinya malam ini dari pria yang selama ini selalu ada di hatinya.
"Maaf… Saya minta maaf soal kejadian tadi pagi." Ujar Leon
Wilona tercengang dengan apa yang didengarnya. Leon meminta maaf padanya,pria yang terkenal dengan tatapan dinginnya dan juga terkenal kejam dalam dunia bisnis itu mengucapkan kata maaf pada dirinya. Sungguh sangat luar biasa dengan apa yang didengar oleh Wilona malam ini.
"Saya minta maaf atas sikap saya tadi pagi,tidak perlu anda ambil hati." Ucap Leon lagi
Wilona mengernyitkan alisnya,pria yang sedang duduk di kursi taman itu masih sama,selalu mementingkan egonya. Mungkin permintaan yang sudah pria itu ucapkan bukanlah dari hatinya yang tulus. Wilona mengangkat kepalanya dan menatap kembali pria itu dengan tatapan intens.
"Saya sudah melupakan kejadian itu,tuan. Jadi,tidak perlu kita bahas lagi." jawab Wilona ketus
Seperti kesalahan apapun itu yang diperbuat oleh Leon,pria itu tidak akan meminta maaf dengan tulus. Suka atau tidak Wilona hanya bisa menerimanya,karena gadis itu sadar kalau Leon bukanlah siapa-siapanya. Leon berdiri dari duduknya,bahkan pria itu memperhatikan penampilan gadis yang sedang berada di hadapannya ini. Leon menatap lekat Wilona,gadis ini memang sangat cantik dengan mata indah,hidung yang mancung serta yang selalu menarik perhatiannya itu adalah lesung pipi yang berada di kedua pipi Wilona. Gadis itu semakin cantik jika sedang tertawa. Leon juga memperhatikan hoodie yang sedang dikenakan oleh Wilona.
"Sepertinya aku pernah melihat hoodie itu,tapi dimana ya?" Ucap Leon dalam hati.
Wilona paham kemana arah tatapan yang diberikan oleh Leon. Dengan cepat Wilona menyilangkan kedua tangannya didepan dada untuk menutupi tulisan yang berada pada hoodie yang sedang dikenakannya.
"Maaf tuan ini sudah larut malam,saya pamit terlebih dahulu." Ujar Wilona
Baru ingin melangkah tangannya sudah dicekal oleh Leon.