WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
22. Pertemuan Masa Lalu



Moment kelulusan merupakan hal yang paling dinanti-nanti oleh para mahasiswa akhir sebagai puncak dari segala usaha dan jerih payah yang sudah dilakukan selama menempuh studi baik di jenjang S1,S2 dan S3. Momen kelulusan ini pun belum sempurna rasanya,terutama bagi Wilona. Jika tidak  hadir secara langsung pada rangkaian acara kelulusan tersebut, yang dikenal dengan “wisuda”. 


Toga akan menjadi atribut kebanggaan para wisudawan, kehadiran orang-orang terkasih pun turut melengkapi kebahagiaan di hari wisuda, dan tentunya tidak lupa untuk mengabadikan moment istimewa tersebut lewat foto serta video.  Hal tersebutlah yang baru saja Wilona dan Grace rasakan, yaitu mengikuti serangkaian acara wisuda yang sangat istimewa bagi mereka berdua. Tempat untuk diadakannya acara wisuda yaitu di sebuah Hall (sebut saja gedung aula besar) kampus. Yang membuat menarik adalah tampilan interior gedung yang megah mirip bangunan ala-ala kerajaan seperti di film-film. 


Dalam satu acara wisuda, peserta yang hadir tidak berasal dari seluruh Fakultas  atau School (Istilah yang digunakan disini). Fakultas Wilona dan Grace digabung dengan fakultas lain seperti ekonomi dan bisnis. Fakultas lainnya akan memiliki jadwal wisuda pada hari dan jam yang sudah ditentukan. Wisudawan yang hadir terdiri dari seluruh jenjang studi baik S1, S2 dan S3. Tamu undangan yang diperbolehkan masuk kedalam gedung adalah maksimal tiga orang.


Bagi wisudawan yang membawa tamu undangan melebihi kapasitas telah disediakan ruangan khusus dengan layar yang sudah disiapkan. Sehingga tamu undangan tetap bisa melihat rangkaian acara walau tidak berada di ruangan secara langsung. Acara wisuda singkat yang sangat berkesan bagi semua mahasiswa tersebut. Semua orang bahagia, bersyukur, bangga dan kagum.  Tidak menyesal jauh-jauh datang untuk satu setengah jam yang berhasil merajut memori indah selamanya dalam catatan kehidupan ini.


Rose yang datang ke acara wisuda itu sangat bahagia melihat keponakannya lulus dengan nilai yang tinggi. Tanpa Rose sadari ada sepasang mata yang selalu memperhatikan wanita itu. 


"Rosalina" 


Deg 


Rose yang mengenal suara itu pun langsung menoleh dan benar saja. Seorang yang berasal dari masa lalu nya kini sedang berdiri di hadapannya. Rose begitu terkejut dengan pertemuan ini,tapi berbeda dengan orang itu. Tampak wajah bahagia dari raut wajah orang yang berdiri di hadapan Rose. 


"Averus" gumam Rose


Averus pun tersenyum "apa kabar?" Tanya pria itu pada Rose dengan wajah cerianya. 


"Aku baik" jawab Rose dengan nada datar dan dengan raut wajah yang sudah berubah datar setelah tadi sempat terkejut dengan pertemuan mereka. 


"Syukurlah,aku sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan dirimu lagi,Rose" jawab Averus yang masih begitu sangat eksaited atas pertemuan mereka,tanpa memperdulikan Rose yang bersikap datar dan dingin.


"Tapi,sayangnya tidak dengan saya tuan Averus." Ujar ketus Rose


"Rose,kita perlu bicara. Aku mohon beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." 


"Maaf tuan Averus,tidak perlu ada yang dibicarakan kembali,kisah kita sudah lalu dan sudah terkubur lama." 


Rose yang hendak meninggalkan Averus pun segera dicekal tangannya dan dengan nekatnya Averus menarik tangan Rose dan membawanya meninggalkan tempat itu. Leon yang dari tadi memperhatikan mereka berbincang pun sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada mereka. Leon berusaha menerobos kerumunan untuk mengejar papanya dan wanita yang baru dikenalnya sebagai bibinya Wilona. Tapi,sayangnya Leon kehilangan jejak Averus dan Rose. 


"Lepaskan aku,Averus." Rose terus saja memberontak agar pegangan tangan Averus melonggar. 


Averus segera melonggarkan pegangan tangannya pada Rose,dengan lembut Averus memegang tangan Rose yang mengikutinya ke sebuah ruangan yang Rose sendiri tidak tahu itu ruangan apa. Averus segera mengunci pintu ruangan tersebut. 


"Kenapa kamu membawaku ke tempat ini Averus?" 


Averus tidak menjawab pertanyaan Rose,tapi dirinya mengikis jarak diantara mereka. Tatapan tajam Averus masih sama seperti dulu pertama kali mereka bertemu. Rose memundurkan dirinya,tapi sayang dirinya tidak bisa mundur lebih jauh karena ada sebuah tembok di belakangnya. 


"A-apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Rose tergagap


Averus tersenyum menyeringai menatap Rose "aku akan melakukan hal yang sama seperti dulu." Jawab Averus dengan seringai liciknya


"Hentikan Averus" suara Rose tercekat karena amarah yang hampir wanita itu luapkan


"Kenapa? Bukankah kamu menyukainya? Tidakkah kamu ingat malam pertama kita,sayang?" Pertanyaan Averus mampu membuat tubuh Rose meremang dan bergidik ngeri,tangan Averus terus menelusuri wajah Rose yang masih terlihat begitu cantik tanpa keriput. 


"Berhenti Averus" teriak Rose sambil menyingkirkan tangan Averus yang terus menggerayang di wajahnya. 


"Aku tidak akan berhenti,Rose." Teriak Averus didepan wajah Rose,"aku tidak akan pernah berhenti menyentuh dirimu dan tidak akan pernah melepaskanmu lagi,setelah aku menemukan dirimu untuk waktu yang begitu lama. Kamu tahu,Rose? Aku begitu menderita karena tidak berhasil menemukan dirimu. Tapi,aku sangat bersyukur dan sangat berterimakasih pada tuhan karena sudah mempertemukan tulang rusukku yang telah hilang." Averus menangkup wajah Rose dan menatapnya dengan rasa cinta yang begitu menggebu. Rasa kesal,rindu,sayang dan cinta bercampur menjadi satu dalam perasaannya kini. 


Rose menatap mata pria yang juga selama ini dirindukan olehnya,bahkan karena pria inilah dirinya menutup hati untuk pria lain. Rose selalu mengklaim bahwa hatinya itu hanya milik Averus,pria yang sudah menghancurkan kehidupannya bahkan masa depannya. Bahkan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya dan bagi seluruh wanita di dunia yaitu mahkota kewanitaannya. Ya,Averus lah yang sudah merenggut mahkota kewanitaan Rose,sehingga dirinya sempat mengalami depresi sejak mengetahui bahwa Averus sudah menikah dengan pilihan orang tuanya. Dunia seakan runtuh menimpa dirinya,tidak ada lagi yang akan di banggakan oleh dirinya. Dunianya benar-benar sudah hancur hanya dalam hitungan satu hari. 


Sekuat tenaga Rose mendorong tubuh Averus,"hentikan semua omong kosong mu tuan Averus yang terhormat. Saya sudah melupakan semua tentang dirimu,jadi berhentilah meracau tuan." Teriak Rose dengan mata yang memerah karena marah bahkan jari telunjuk Rose mengacung ke arah wajah Averus.


"Rose,maafkan atas semua kesalahanku pada dirimu. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya,Rose. Aku ingin menikahimu." Jawab Averus dengan pandangan yang begitu sendu seakan memohon pada wanita yang ada di hadapannya ini. 


Rose menggelengkan kepalanya "tidak semudah itu tuan Averus,kamu tidak tahu apa saja yang sudah diriku lalui selama bertahun-tahun ini." Jawab Rose dengan meluapkan amarahnya di depan Averus. 


"Rose.." 


"Stop" ujar Rose dengan tangan yang terangkat ke hadapan Averus. "Berhentilah mengatakan kesempatan pada diriku. Aku sudah muak dengan kamu Averus,kamu tahu… semenjak malam itu,aku selalu mencari dirimu. Tapi,setelah aku menemukanmu,kamu sudah menjadi milik wanita lain dan membuangku seperti sampah." Lanjut Rose dengan nada bergetar dan air mata yang tiba-tiba saja keluar.