
Jangan sesekali berharap pada manusia, sebab pada akhirnya akan ada rasa kecewa di sana, terlebih jika kamu belum terbiasa dengan hal-hal tersebut. Berharaplah hanya kepada sang pencipta pemilik alam semesta yang maha agung dan besar, dengan mengharap hanya kepada-Nya akan mendatangkan ketenangan serta kebahagian. Pada dasarnya setiap orang itu menginginkan kebahagian, dan itu merupakan pilihan, jangan sampai ketika kita ingin bahagia namun yang dipilih bukanlah jalan kebahagiaan. Hingga kapanpun tentu tidak akan bertemu dengan bahagia, sebab kita memilih sesuatu hal yang dirasa kontradiktif dengan yang diinginkan.
Meninggalkan orang yang kita cintai memang akan terasa begitu berat dan sulit. Bisa jadi suatu saat nanti akan menjadi sebuah penyesalan yang mendalam. Ada banyak alasan mengapa harus meninggalkannya, biarpun berat keputusan harus tetap diambil. Terkadang lebih baik pergi dan jauh agar orang yang dicintai bisa hidup bahagia. Cinta itu bukan hanya soal memiliki, tapi soal kebahagiaan. Sebuah harapan untuk bisa melupakan orang yang dicintai, hal ini dapat dilatarbelakangi dengan berbagai hal, bisa jadi cinta yang bertepuk sebelah tangan adalah alasannya. Cinta bertepuk sebelah tangan memang sangat menyakitkan, berusaha melupakan hal tersebut akan membuat diri menjadi lebih baik dan lebih bahagia. Hingga suatu hari nanti dipertemukan dengan orang yang benar-benar menyambut cinta kita dengan kesungguhan hati.
"Aaaarrrggghhh….. "Rose kembali berteriak dan menjambak rambutnya sendiri,Averus yang tersadar dari lamunannya kini bangun dan menghampiri Rose yang masih menjambak-jambak rambutnya.
"Rose" ujar pria itu sambil memeluk wanita yang sangat dicintainya,karena kebodohannya itu,wanita ini menjadi menderita karenanya.
"Rose… maafkan aku. Aku tidak akan meninggalkan dirimu lagi,aku mohon Rose maafkan aku." Lirih Averus yang masih memeluk Rose.
Rose yang sangat terpukul ketika mengingat kejadian silam membuat dirinya lemah dan tiba-tiba saja pingsan dalam pelukan Averus.
"Rose"
"Rose… bangun sayang"
Averus terus menepuk-tepuk pipi Rose,tapi nihil wanita itu tidak sadarkan diri. Dengan cepat Averus membuka pintu yang dikuncinya dan menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan mobil dan segera ke lokasi dimana dirinya berada,lalu kembali mengangkat tubuh Rose yang lemah itu. Suara derap langkah kaki berlari mengalihkan pandangan Averus.
"Tuan" ujar salah satu pengawal dengan membungkukkan sedikit tubuhnya dengan hormat.
"Semuanya sudah siap?" Tanya Averus yang berdiri mengangkat tubuh Rose
"Sudah tuan,mau saya bantu tuan?"
"Tidak usah,jangan sampai orang tahu aku membawa wanita ini. Aku tidak ingin kehidupan wanita ini menjadi berita di media."
"Baik tuan"
Mereka meninggalkan ruangan itu dengan pengawalan yang sangat ketat,tidak ada yang mengetahui kalau Rose yang sedang digendong oleh Averus. Mobil melaju keluar dari kampus itu,di lama mobil Averus terus menatap wanitanya.
"Rose… maafkan aku karena sudah membuat dirimu menderita. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya,aku janji Rose." Lirih Averus,pria itu pun meneteskan air matanya untuk kesekian kalinya
Sopir dan pengawal yang berada di depan kursi pengemudi pun saling melirik,mereka sudah lama bekerja bersama Averus. Tapi,baru kali ini mereka melihat tuannya itu begitu rapuh di hadapan wanita yang belum sadarkan diri itu. Betapa dahsyatnya kekuatan wanita itu mampu membuat sang Averus meneteskan air matanya bahkan meminta maaf pada seseorang. Bahkan ketika mendiang istri pertamanya meninggal Averus tidak meneteskan air mata sedikit pun,hanya dirinya sering mengurung diri di ruang kerjanya dengan berkas-berkas yang harus dirinya cek. Semenjak istri pertamanya meninggal Averus memang selalu menyibukkan diri dengan bekerja,sampai dirinya bertemu dengan sahabat lamanya Antonio yang tidak lain adalah ayah dari Gabriel. Sejak pertemuan mereka itu,Antonio sering mengajak Averus untuk sekedar keluar menikmati suasana di luar. Antonio adalah orang yang sangat mengenal Averus bahkan kisah cintanya dengan Rose pun dirinya tahu.
Setibanya di rumah sakit segera para perawat dan dokter yang sudah dihubungi oleh salah satu pengawal Averus pun sudah bersiap menyambut kedatangan mereka. Ketika mobil memasuki pelataran parkiran khusus para tamu VVIP,pengawal segera turun dan membuka pintu belakang,Rose dipindahkan ke atas bangkar dan segera dibawa ke ruang rawat VVIP,disanalah dokter dan suster memeriksakan kondisi Rose. Perkiraan untuk sementara dari dokter adalah bahwa Rose saat ini sedang kelelahan,tambah lagi dengan kondisi perut yang juga kosong. Nafas lega terdengar dari bibir Averus,dirinya benar-benar sangat bersyukur karena tidak terjadi sesuatu yang begitu fatal pada kondisi Rose. Averus duduk dikursi dengan memegang tangan Rose yang masih terlelap,lamunan Averus buyar ketika suara dering ponsel berdering di atas nakas. Averus meraih ponsel itu dan menatap sebuah nama bertuliskan My Baby,seketika Averus mengernyitkan kedua alisnya.
Dengan sangat ragu akhirnya Averus menjawab panggilan telepon tersebut.
"Halo,bibi" suara dari sambungan telepon itu
Averus terdiam dan bergumam "bibi?"
"Halo bibi,bibi lagi dimana? Aku mengkhawatirkan dirimu,bi? Tadi aku menunggu dirimu datang ke acara wisudaku,tapi ternyata bibi tidak datang untuk melihat diriku mengenakan baju kebesaranku di acara itu." Suara seorang gadis terdengar begitu lirih bagi Averus.
"Bibi,apakah kamu mendengarkan ku?" Tanya lagi gadis itu,tapi Averus tetap tidak bersuara. Bahkan menelan Saliva nya pun terasa sulit.
"Bibi,kenapa bibi dari tadi hanya diam saja? Wilona dari tadi mengoceh,tapi bibi malah diam saja. Bibi dimana? Wilona akan menjemput bibi."
"Wilona" Suara Averus terdengar lemah,dirinya sempat terkejut dengan nama itu. Tapi,segera di dienyahkan karena nama itu bukan hanya satu orang saja.
"I..ini siapa? Apa yang terjadi pada bibi? Apa yang kamu lakukan pada bibi?" Pertanyaan Wilona membuat Averus segera bangun dari duduknya
Averus menarik nafasnya,lalu membuang nya dengan pelan " bibi mu baik-baik saja,sekarang Rose sedang ada di rumah sakit E Hospital. Jika,kamu ingin bertemu dia ada di ruang VVIP. Aku akan menunggunya disini sampai dirimu tiba."
"Baiklah tunggu aku." Wilona segera menutup sambungan telepon tersebut,dan dengan segera dirinya melajukan motor barunya itu menuju rumah sakit.
Wilona berlari kecil menuju ruang rawat VVIP,setelah tiba di ruang itu Wilona bertanya kepada suster penjaga yang ada di lobby lantai VVIP untuk menunjukkan ruang rawat bibinya. Sempat terjadi perdebatan antara Wilona dengan suster jaga,Wilona tidak diizinkan masuk oleh suster penjaga karena disini adalah ruang VVIP dan hanya orang tertentu saja yang boleh masuk. Dengan terpaksa Wilona menghubungi kembali ponsel bibinya.
"Halo tuan,saya sudah didepan lobby ruang VVIP. Tapi,saya tidak diizinkan masuk,bisakah anda keluar tuan? Karena saya juga ingin melihat bibi saya.
Setelah Wilona menghubungi ponsel bibinya dan berbicara pada orang asing yang berada di kamar VVIP bersama bibinya itu pun akhirnya keluar dari ruang rawat. Wilona yang sedang membalas pesan dari Grace pun tidak tahu kedatangan Averus.
"Wilona"
Wilona pun terkejut dengan kedatangan Averus,gadis itu membulatkan matanya menatap pria yang tak lain adalah papa dari sahabatnya.
"Paman…" gumam Wilona