WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
30. Memaafkan Masa Lalu



Cinta selalu memberi ruang maaf yang luas bagi segala kesalahan. Asal ada keinginan untuk memperbaikinya. Lisan saja tidak cukup untuk memberi maaf. Perlu hati juga untuk memaafkan. Sehingga tulus adanya. 


Tanpa pengampunan, hidup diatur oleh siklus kebencian dan pembalasan yang tak ada habisnya. Salah satu momen paling membahagiakan adalah ketika kamu menemukan keberanian untuk memaafkan.


Kita harus selalu belajar memaafkan, belajar menerima bahwa orang lain bisa gagal dipercaya, sama seperti diri kita juga. Saat kita mampu memaafkan dan tersenyum pada orang yang menyakiti kita, saat itulah kita memastikan bahwa kita lebih baik darinya.


Maaf dan memaafkan, dua hal yang terdengar biasa tapi tak mudah untuk dilakukan. Perlu keberanian, kedewasaan dan juga ketulusan untuk melakukannya.


Meskipun tak serta merta amarah akan hilang, tapi kamu tidak akan bahagia jika masih menaruh dendam. Renungkan apa yang akan terjadi jika kamu terus memegang teguh ego mu.


Perlahan tangan Rose menyentuh wajah Averus yang saat ini sedang sedikit menunduk,rasa iba seketika menjalar pada diri Rose. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya masih begitu mencintai pria yang ada di hadapannya ini dan betapa terkejutnya Averus mendapat sentuhan dari tangan yang selalu dirindukannya selama ini. Dengan cepat Averus menggenggam tangan Rose yang masih menempel pada wajahnya dengan kedua tangannya. Sejenak Averus memejamkan kedua matanya dan meresapi sentuhan tangan wanitanya. 


"Maaf" lirih Averus dengan sedikit terisak


Rose pun tidak dapat menyembunyikan kesedihannya,melihat orang yang dicintainya menangisi dirinya pun akhirnya ikut serta larut dalam kesedihan mereka. Isak tangis mereka memenuhi ruangan rawat inap tersebut. Averus memeluk tubuh Rose yang masih berada di atas tempat tidur tersebut,begitupun dengan Rose yang membalas pelukan Averus.


"Aku sudah memaafkan mu… Aku sudah melupakan semuanya…. Aku mencintaimu." Rose berucap disela isakan tangisnya


"Aku lebih sangat mencintaimu sayang." Jawab Averus yang tidak kalah terisak nya dengan Rose dengan tubuh yang masih terus wanita itu. 


...*******...


Rose menggeser tubuhnya dan membiarkan Averus untuk tidur disebelahnya. Averus pun menarik tubuh Rose agar masuk kedalam dekapannya.


"Av,jika kita kembali bersama. Lalu,bagaimana dengan istrimu?" Tanya Rose pada Averus


Averus pun tersenyum "Elsa pasti juga menyetujuinya,mungkin saat ini dirinya sedang memperhatikan kita disana" jawab Averus dengan menunjuk ke atas langit-langit kamar rawat inap Rose. 


Rose mengernyitkan dahinya "apa maksud kamu,Av? Aku tidak mengerti." Tanya lagi Rose pada Averus yang terlihat hanya tersenyum saja.


"Elsa sudah tenang di sana,sudah lama Elsa meninggal dunia. Bahkan sebelum dirinya menghembuskan nafas terakhirnya itu,dirinya berpesan kepadaku agar aku menemukan dirimu." Jawab Averus mengenang masa dimana Elsa menghembuskan nafas terakhirnya,sebelum melanjutkan ucapannya. "Elsa tahu bahwa kamu adalah cinta pertamaku dan pertama bagiku. Aku akui Elsa adalah wanita yang sama seperti dirimu,terkadang aku melihat dirimu dalam diri Elsa." Ujar kembali Averus,tatapan sendu menerawang seakan ingatannya bersama Elsa melintas dalam pikiran nya seakan-akan dirinya sedang menonton sebuah film dokumenter. 


Rose tahu apa yang saat ini dirasakan oleh Averus,kehilangan seseorang yang pernah menemani hidupnya selama bertahun-tahun begitu tersiksa dan menyesakkan ditambah lagi ketika diri kita harus mengingat masa-masa kebersamaan terhadap mereka. Tangan Rose menjulur menyentuh wajah Averus,seketika itu juga Averus menatap wajah Rose. Entah siapa yang memulainya kini bibir mereka saling bersahutan menghisap satu sama lain. Averus menghentikan aksinya ketika melihat Rose sudah tidak berdaya karena pasokan oksigen dalam tubuhnya berkurang. 


Pagi harinya Wilona datang sesuai janjinya semalam. Wilona pagi ini membawakan sarapan berupa Baklava,Simit dan juga kopi khas Turki dan teh untuk mereka. Baklava merupakan roti lapis berisi kacang yang dihidangkan bersama madu atau sirup,sedangkan Simit merupakan roti yang menyerupai bentuk donat namun dengan ukuran yang lebih besar. Tekstur dari Simit juga lebih keras dibanding donat di negara-negara Eropa. Kue khas Turki ini sebetulnya tidak hanya berbentuk mirip donat, tapi ada juga yang bentuknya kotak atau bulat dengan ragam isian, semisal kacang dan coklat. Wilona membawakan makanan itu untuk Averus dan para pengawal yang menjaga bibinya selama dirawat di rumah sakit. Wilona tidak membawakan sarapan untuk sang bibi karena,sebelum datang ke sana dirinya sudah menghubungi Rose terlebih dahulu. Rose mengatakan bahwa dirinya hanya ingin memakan Turkish Delight. 


Rose menginginkan makanan itu sebagai menu penutupnya,karena dari rumah sakit sudah menyediakan sarapan untuk para pasiennya.  


Averus dan Rose pun tersenyum "morning baby" ucap Rose 


"Morning too,Wilona." Jawab Averus dan dibalas dengan senyuman. 


"Ini untuk paman dan ini pesanan bibi ku sayang" ujar kembali Wilona. 


"Terima kasih sayang" ucap Rose


"Terima kasih Wilona" ucap Averus


Averus dan Rose begitu menikmati sarapan dan cemilan mereka,Wilona menatap dua insan manusia yang di mabuk cinta ini dengan begitu sangat bahagia. 


"Paman,bibi,apakah kalian akan meresmikan hubungan kalian?" Tanya Wilona dan membuat Averus juga Rose saling menatap.


Averus mengalihkan tatapannya ke arah Wilona "tentu saja,paman akan segera meresmikan hubungan kami. Paman akan menikahi bibimu,Wilona. Paman berjanji akan selalu mencintai,menyayangi dan selalu menjaga bibimu ini." Jawab Averus sambil mengecup tangan Rose dan mampu membuat wajah Rose merona. 


"Apakah paman akan melaksanakan pernikahan kalian setelah Grace? Atau sebelum Grace menikah?" Tanya kembali Wilona. 


Sejenak Averus terdiam,sepertinya pria itu lupa bahwa sebentar lagi putrinya akan menikah. 


"Jangan bilang paman lupa jika dua minggu lagi Grace akan menikah." Celetuk Wilona dan mampu membuat Averus salah tingkah.


"Haha,iya paman melupakan hal penting itu." Jawab Averus sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. 


Wilona tertawa sedangkan Rose hanya menepuk keningnya saja. Sejenak Wilona berhenti tertawa ketika dirinya mengingat Leon. Wilona berpikir tentang tanggapan Leon atas hubungan papahnya dengan bibinya itu. Karena,Wilona tahu kalau Leon begitu sangat membenci dirinya. 


"Paman" panggil Wilona


"Ya,ada apa?" Jawab Averus


"Bagaimana dengan Leon? Apakah dirinya dapat menerima hubungan kalian? Karena yang aku tahu Leon sangat membenciku." Tanya Wilona sambil menundukkan kepalanya. 


Averus paham apa yang dimaksudkan oleh Wilona,memang Averus belum memikirkan tentang bagaimana reaksi Leon jika dirinya memberitahukan ingin menikah lagi. Sudah pasti putranya itu akan tidak sangat setuju,berbeda dengan diri Grace. Sudah satu tahun ini Grace meminta dirinya untuk segera mencari pendamping lagi,agar dirinya tidak merasa kesepian dan selalu terlihat iri jika Grace sedang bersama Gabriel. Memang anak itu paling sangat berbanding jauh dari Leon.