
Setelah selesai melaksanakan shalat subuh bersama,Wilona memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Leon mengatakan kalau pukul tujuh pagi nanti mereka akan cek out dari hotel dan akan tinggal di penthouse milik Leon. Seharusnya mereka cek out pukul dua siang,tapi Leon tidak ingin berlama-lama di hotel.
Wilona saat ini sedang berkemas diri untuk meninggalkan kamar hotel sambil menunggu Leon untuk menjemputnya,sebenarnya Wilona ingin menghubungi Leon. Tapi,sayang dirinya tidak memiliki nomor ponsel Leon.
Saat ini Wilona sedang duduk di sofa bed dan sibuk dengan ponselnya yang berdering karena banyaknya pesan chat yang masuk ke nomornya. Wajar saja banyak notifikasi di ponselnya,karena seharian penuh dirinya menjadi ratu dalam satu hari dan dirinya pun tidak sempat memegang ponsel sama sekali. Wilona tersenyum membaca satu persatu pesan yang berasal dari para langganan di butiknya. Ada satu pesan yang membuat Wilona tersenyum getir dan ada rasa kesal saat membaca pesan tersebut.
"Selamat ya atas pernikahan kamu,dasar pelakor. Wanita penggoda,kamu bahagia kan karena sudah merebut Leon dari aku?"
Claudia mengirim pesan pada Wilona dan mengatakan semua kekesalannya karena sudah merebut Leon dari dirinya. Dalam benak Wilona saat ini dirinya benar-benar bingung dengan apa yang harus dirinya lakukan. Hubungan Wilona dan Claudia bukannya semakin membaik,tapi malah semakin memburuk. Claudia akan semakin membenci dirinya,itulah yang saat ini Wilona pikirkan. Berkali-kali dirinya mengerjapkan kedua matanya agar air matanya tidak keluar lagi,tapi sia-sia saja air mata itu kini turun lagi. Wilona memeluk kedua kakinya dan dirinya kini menangis begitu terisak.
Leon datang tanpa disadari oleh Wilona, pria itu mendengar suara isakan dari Wilona yang terdengar sangat pilu. Seorang wanita yang sering menampilkan wajah datar dan selalu berbicara dengan nada dingin dan sinis di hadapannya kini terlihat begitu rapuh. Leon menatap punggung Wilona yang masih bergetar,cukup lama Leon berdiri tanpa bersuara membiarkan Wilona menangis sepuasnya. Walaupun dirinya tidak tahu apa yang membuat gadis itu menangis.
Wilona mengangkat wajahnya dan menghapus air matanya,segera dirinya pergi ke kamar mandi,Wilona masih tidak menyadari bahwa Leon sudah ada di dalam kamar. Setelah mencuci wajahnya,Wilona pun keluar dari kamar mandi dan mendapati Leon yang sudah duduk di sofa bed sambil menatap ke layar ponselnya.
"Leon"
Leon pun mendongak dan melihat sebentar ke arah Wilona,lalu kembali fokus ke layar ponselnya.
"Sudah selesai?" Tanya Leon dan dijawab anggukan kepala oleh Wilona.
"Ayo" ujar Leon sambil berdiri dan melangkah keluar kamar.
Wilona pun mengikuti langkah Leon dari belakang dan saat mereka keluar kamar sudah ada Roy yang setia dengan koper kecil miliknya.
"Selamat pagi nona Wilona" sapa Roy dengan tersenyum sambil membungkukkan dirinya sebentar.
Wilona pun ikut menundukkan diri "selamat pagi juga tuan Roy" jawab Wilona.
Wilona dan Roy sama-sama saling tersenyum dan interaksi mereka pun tidak luput dari tatapan tajam Leon.
"Roy,cepatlah" ujar Leon dengan tak sabar dan sedikit ada rasa kesal pada Roy yang selalu bersikap manis pada Wilona.
Leon berjalan dengan cepat mendahului Roy dan Wilona. Wilona menatap punggung Leon yang sudah mendahului dirinya berjalan menuju lift dengan cepat dirinya menyusul Leon yang sudah di depan lift.
"Biar ku bantu nona" ujar Roy
"Tidak perlu tuan Roy,aku bisa membawanya sendiri" jawab Wilona dengan tersenyum
"Sudahlah Roy biarkan dia bawa sendiri,bukankah tadi dirinya mengatakan seperti itu?" Ujar Leon yang menatap sinis pada Roy,sedangkan Roy yang mendapat tatapan seperti itu seketika bulu kuduknya berdiri bahkan dirinya sampai sulit menelan salivanya.
Wilona menepuk punggung Roy dan pria itu pun menoleh ke arah Wilona,lalu Wilona kembali membawa koper miliknya,begitupun dengan Roy yang membawa kopernya juga.
Setelah tiba di lobby dan Roy sudah selesai mengembalikan kunci pada resepsionis segera pria itu kembali ke mobil yang sudah terparkir di depan lobby. Roy membukakan pintu untuk Leon dan Wilona.
"Terima kasih" ucap Wilona pada Roy
"Sama-sama nona" jawab Roy dengan tersenyum
Lagi-lagi Leon menatap tajam pada Roy "cepatlah Roy,kamu ingin aku memecat mu?" Ujar Leon dengan nada mengancam
Wilona hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Leon yang seperti itu. Mobil pun melaju meninggalkan hotel tersebut.
"Roy,kita mampir ke restoran terlebih dahulu. Karena kami belum sarapan." Ucap Leon
...*******...
Saat ini mereka sudah tiba di penthouse milik Leon,setelah dari restoran untuk sekedar sarapan mereka langsung menuju penthouse milik Leon. Wilona menatap kagum pada interior penthouse tersebut. Penthouse dengan interior yang begitu mewah sangat memanjakan mata Wilona,bahkan sampai dirinya tidak dapat berkedip dengan mulut sedikit terbuka.
"Wah,berapa harga penthouse ini ya? apa seperti ini harga penthouse 5M itu? Sepertinya lebih dari itu." Ucap Wilona pada dirinya sendiri
"Apakah kamu hanya akan berdiam diri di situ saja?" Ucapan Leon berhasil membuyarkan lamunan Wilona yang sedang menatap kagum pada bangunan tersebut.
"A-ah iya,tidak.. mmm,maksudku dimana kamar kita?" Ujar Wilona tergagap dan kembali mencoba menetralkan dirinya kembali.
"Kamar kita?" Tanya Leon dengan mengernyitkan dahinya
"Ya,dimana kamarnya?" Jawab Wilona lagi
"Hahaha,kamar kita? Cih,jangan mimpi nona Wilona. Kita tidak akan tidur satu kamar,bukankah sudah aku katakan kalau aku tidak sudi satu kamar dengan dirimu. Apa kamu lupa?" Pertanyaan Leon kembali mengingatkan pada Wilona siapa dirinya itu.
"Maaf" lirih Wilona dengan sedikit menundukkan pandangannya. "Lalu,dimana kamar ku?" Tanya kembali Wilona dengan menatap wajah Leon dengan wajah datarnya.
"Cih" Leon hanya berdecak sebal karena dirinya kembali mendapatkan tatapan datar dari Wilona. Pria itu segera berlalu meninggalkan Wilona dan berjalan terlebih dahulu menuju lantai dua dimana kamar mereka berada.
Wilona dengan susah payah membawa koper miliknya untuk menaiki tangga menuju lantai dua. Lagi-lagi Leon berdecis karena melihat Wilona yang begitu kesulitan membawa koper,dengan rasa malas bercampur kesal akhirnya dirinya mengangkat koper milik Wilona ke atas dengan satu tangan.
"Dasar lambat" ujar kesal Leon pada Wilona
Wilona hanya menatap bingung pada Leon,karena tidak ada hujan dan angin pria itu mau membantu dirinya untuk pertama kalinya. Seulas senyum terbit pada wajah Wilona,dengan segera dirinya pun menyusul Leon yang sudah beberapa langkah di depannya.
"Terima kasih" ucap Wilona dengan tersenyum
Leon sempat tertegun dengan senyuman yang Wilona berikan,tapi dengan cepat dirinya merubah ekspresi di dirinya kembali seperti semula.
"Cih,jangan ge-er… Aku tidak suka melihat wanita lambat kaya kamu,udah kaya keong gitu. Lambat…." Ucap Leon ketus
Wilona tidak memperdulikan apa yang diucapkan oleh Leon,karena dirinya sudah mulai terbiasa dengan kata-kata pedas yang keluar dari bibir Leon.
Leon berjalan menuju sebuah pintu dengan cat berwarna abu-abu. Lalu,pria itu membuka pintu kamar tersebut dan masuk kedalamnya dengan diikuti Wilona di belakangnya.
"Ini kamarmu dan di sebelah adalah kamarku,masing-masing kamar terhubung dengan balkon yang sama." Ujar Leon sambil membuka pintu balkon kamar Wilona dan betapa kagumnya Wilona melihat pemandangan kota di pagi hari. Pagi hari saja indah apalagi malam hari,pikir Wilona.
"Ingat perjanjian kita,pernikahan ini hanya berjalan selama dua bulan. Tidak ada skinship diantara kita selama pernikahan berlangsung,kamu paham?" Tanya Leon pada Wilona yang sudah berdiri di balkon kamar menatap kagum ke arah langit yang cerah dengan memejamkan matanya menikmati udara sejuk pagi ini.
Seperti yang sudah-sudah Leon kembali terpesona pada Wilona,semilir angin mengibaskan rambut panjang Wilona yang hitam lebat membuat daya tarik Wilona semakin kuat. Tanpa sadar ada desiran aneh menjalar ke jantung Leon,dengan cepat dirinya memegang dada sebelah kirinya yang tiba-tiba saja berdetak begitu kencang.
Anggap saja ini kamar mereka ya.... Kalau tidak suka bisa kalian berimajinasi sendiri dengan kamar yang menurut kalian cocok. 🤭