WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
59. Kanibal



Claudia dan Bryan masih terdiam,malam pun  semakin larut. Hingga akhirnya Bryan pun meminta Claudia untuk beristirahat. 


"Ini sudah sangat larut,sebaiknya kamu istirahat di kamarmu." Bryan kembali bersuara dan bangkit dari duduknya,lalu pria itu menjulurkan tangannya. 


"Ayo,aku akan menunjukkan kamarmu." Ucap kembali Bryan saat menjulurkan tangannya ke depan Claudia. 


Claudia menatap tangan Bryan yang ada di hadapannya,lalu dirinya menatap Bryan. "Mmm,aku akan tidur dengan Max saja di kamarnya." Jawab Claudia yang mengabaikan uluran tangan Bryan. Dengan gugup dan kaku Bryan menurunkan ukuran tangannya dan tersenyum kecut.


"Baiklah,ayo aku antar kamu ke kamar Max." Ucap Bryan yang masih berdiri di dekat Claudia. 


Claudia mengangguk "terima kasih" jawab Claudia dan hanya di balas senyuman saja oleh Bryan. Bryan berjalan terlebih dahulu menuju kamar Max dengan diikuti oleh Claudia dari belakang.


Mereka sudah di depan kamar Max,saat Bryan membuka pintu kamar putranya itu mata Claudia terbelalak saat melihat luas kamar dan interior yang membuat anak laki-laki  manapun menginginkan kamar itu. 


"Pantas saja Max ingin tidur disini dan tidak ingin pulang,kamar ini begitu luas dan semua kebutuhan dan keinginan Max ada di kamar ini." Batin Claudia saat mengingat Max meminta kamar sendiri dengan interior super hero yang menjadi favoritnya serta miniatur superhero di dalam lemari kecil. Lihatlah sekarang Max memilikinya salam satu hari. 


"Kamu yakin akan tidur disini?" Tanya Bryan lagi sambil melirik Claudia.


Claudia nampak mengangguk. "Iya,aku akan menemani Max tidur disini." Jawab Claudia yang sudah duduk di tepian ranjang sambil mengusap wajah tampan putranya. 


"Baiklah aku akan menyuruh asistenku untuk mengambilkan pakaian ganti untuk dirimu. Aku akan kembali ke kamar ku,kamar ku ada di sebelah kamar Max,jika kamu membutuhkan apa-apa segera panggil aku saja." Jawab Bryan dengan tersenyum manis membuat Claudia terpesona melihat senyuman Bryan.


"I-iya terima kasih" jawab Claudia yang merasa gugup


Dengan berat hati Bryan meninggalkan Claudia di dalam kamar Max,sedangkan Claudia sendiri begitu lega karena tidak lagi berhadapan dengan Bryan. Jujur saja Claudia sangat gugup jika harus berhadapan dengan Bryan,karena ini pertama kali mereka saling bertatap muka dan saling berbicara. 


...******...


Di rumah kedua orang tua Wilona,saat ini Leon sedang menunggu Wilona di depan pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar Wilona. 


"Wilona… Apakah kamu butuh bantuan?" Teriak Leon sambil mengetuk pintu kamar mandi 


"Aku bisa sendiri,Leon." Jawab Wilona yang juga berteriak 


"Tapi,kenapa lama sekali?" Tanya Leon lagi


"Bisakah kamu tidak berisik Leon? Aku sedang buang air besar.." jawab Wilona kesal dengan suara nafas yang sedikit tersendat karena dirinya sedang menahan mulas pada perutnya. 


Leon tercengang saat mendengar apa yang diucapkan Wilona,dengan rasa bersalah dirinya memundurkan kakinya dan berjalan menuju ranjang sambil sesekali menatap pintu kamar mandi dengan rasa yang masih begitu khawatir terhadap Wilona. Leon duduk sambil menggerakkan kaki kanannya dengan begitu cepat,sesekali pula pria itu mencoba mengalihkan rasa khawatirnya pada ponsel yang sedang dipegangnya saat ini. 


Ceklek…


Leon segera bangun saat mendengar pintu kamar mandi terbuka dari dalam,keluarlah Wilona yang berjalan dengan bantuan tongkat penyanggah untuk mempermudah Wilona berjalan. Leon nampak ingin membantu Wilona,tapi tidak diizinkan oleh wanita itu karena ia dapat berjalan sendiri,pikir Wilona adalah hitung-hitung dirinya belajar  berjalan. 


Wilona tersenyum "aku bisa sendiri Leon,sebaiknya kamu istirahat." Jawab Wilona santai


"Kamu ini keras kepala sekali" Leon yang tidak sabaran langsung menggendong Wilona ala bridal style sehingga terdengar suara pekikan dari bibir Wilona,bahkan tongkat yang Wilona pegang pun terjatuh. 


"Yaak,apa yang kamu lakukan Leon? Turunkan aku.." pekik Wilona dengan menatap Leon begitu kesal. 


Leon merebahkan tubuh Wilona di atas tempat tidur dengan pelan dan hati-hati. Leon mematikan lampu kamar dan hanya menyisakan lampu tidur saja. 


"Istirahatlah,aku akan tidur di sofa itu." Ucap Leon sambil menunjuk ke arah sofa yang berukuran mini. 


Wilona diam sejenak,melihat sofa dengan ukuran kecil dan bahkan lebih besar tubuh Leon dibandingkan sofa tersebut. 


"Leon" 


Leon pun menengok "ya" jawab ya singkat


"Sebaiknya kamu tidur di sebelahku saja,aku tidak yakin kamu akan nyaman tidur disana dengan sofa berukuran mini dibandingkan dengan  ukuran tubuhmu yang cukup tinggi itu." Ujar Wilona dengan sangat berhati-hati agar tidak menyinggung perasaan Leon. 


Leon pun berpikir sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh Wilona,sudah dapat dipastikan paginya akan terbangun dengan tubuh yang sakit semua.  "Apa kamu tidak masalah jika aku tidur di sebelahmu?" Tanya Leon yang masih menatap Wilona dan menunggu jawaban dari wanita itu.


Wilona menggelengkan kepalanya "tidak,aku tidak masalah." 


"Kamu tidak takut denganku?" Tanya Leon lagi


Wilona mengernyitkan dahinya "apa kamu kanibal?" Pertanyaan Wilona berhasil membuat Leon tertawa geli


"Apakah aku terlihat seperti kanibal?" Leon masih tertawa geli saat bertanya seperti itu


Wilona mengedikkan bahunya "mungkin…." Jawab Wilona yang juga tertawa 


"Kamu ini ada-ada saja pikirannya,kalau aku kanibal mungkin kamu sudah tidak ada disini,tapi sudah ada di perutku ini,hahaha." Ucap Leon yang langsung tertawa terbahak-bahak 


Mereka berbincang sambil tertawa melempar ejekan dan gurauan agar malam mereka tidak terasa begitu canggung,tanpa mereka sadari bibo Rose sedang mendengarkan pembicaraan mereka yang sambil tertawa,karena kamar Wilona tidak kedap suara maka bibi Rose dapat mendengar ucapan mereka. Seulas senyum terbit di wajah bibi Rose,ia pun meninggalkan kamar Wilona dan segera turun kebawah untuk kembali ke kamarnya. 


Di dalam kamar Wilona dan Leon masih terus tertawa dan bercanda hingga akhirnya mereka saling merasa begitu lelah. 


"Sebaiknya kamu istirahat" ujar Leon


Wilona pun mengangguk "baiklah,kamu juga istirahat" jawab Wilona sambil menepuk sebelahnya yang kosong agar Leon juga ikut merebahkan dirinya. 


Leon pun berjalan menuju ranjang tempat tidur dan merebahkan dirinya di sebelah Wilona. Wilona yang begitu lelah pun akhirnya terlelap,Leon menatap wajah Wilona yang sedang terlelap. Meneliti wajah wanita yang sudah menjadi istri sah nya itu,sekelebatan ingatan saat pertama kali dirinya bertemu dengan Wilona membuat Leon semakin menyesal dan sebenarnya ingin sekali dirinya memeluk tubuh wanitanya ini yang semakin terlihat kurus.  Cukup lama Leon menatap wajah Wilona,hingga akhirnya wanita itu pun bergerak dalam tidurnya menghadap tubuh Leon,sehingga wajah mereka begitu dekat. Deru nafas Wilona dapat Leon rasakan,Leon membawa tubuh Wilona kedalam pelukannya,seketika Leon tidak dapat berkutik saat Wilona semakin mendekatkan dirinya pada ceruk leher Leon.