
Leon menatap Wilona yang masih tersenyum menatap ke arah pintu masuk ruangan.
Leon mengambil kursi dan duduk di tempat biasa dia menemani Wilona di samping ranjang tidurnya.
Wilona menatap Leon yang juga sedang menatapnya dengan senyuman yang belum pernah dilihat langsung oleh Wilona. Senyum yang hanya dilihat saat Leon sedang bersama Claudia,sesaat pandangan Wilona mengarah ke arah lain saat dirinya mengingat nama Claudia.
"Wilona" panggil Leon
"Ya" Wilona melihat ke arah Leon sebentar,lalu kembali memandang ke sembarang arah.
"Maafkan aku" ucap Leon sambil menggenggam tangan Wilona yang bebas dari selang infus.
Wilona sempat tersentak saat Leon mengucapkan kata maaf dengan menggenggam tangannya.
"Min-ta ma-maaf untuk a-apa?" Tanya Wilona dengan terbata karena menahan kegugupannya
Leon menatap Wilona begitu intens "atas semua yang aku lakukan padamu,Lona. Maafkan aku karena sudah sering menghinamu karena berita dan kabar tentang dirimu." Jawab Leon yang begitu sangat menyesal atas apa yang sudah terjadi dengan Wilona.
"Lupakanlah,aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Karena bagiku memaafkan orang yang sudah menzalimi dan menyakiti kita adalah menolong diri kita sendiri biar kita bisa melepaskan diri dari rasa marah, kecewa, benci, dan dendam." Pernyataan Wilona membuat Leon semakin merasa begitu bersalah pada Wilona,betapa malu dirinya yang selalu menganggap Wilona seperti wanita murahan,tapi lihatlah apa yang Wilona lakukan saat seseorang sudah melakukan kesalahan padanya. Dia bahkan dengan berbesar hati mau memaafkan orang itu dan melupakan semuanya masa lalu.
"Terimakasih… Terimakasih Wilona." Ucap Leon dengan suara yang terdengar bergetar
"Hei,tidak perlu berterima kasih padaku,bukankah kita yang sebagai umat-Nya harus saling memaafkan? Seperti tuhan yang selalu memaafkan umat-Nya." Jawab Wilona dengan senyumannya yang terpatri di wajahnya.
"Ya,kamu benar." Ucap Leon dengan tawa kecilnya
"Terima kasih" batin Leon
"Leon" panggil Wilona
"Ya,apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Leon
Wilona menggelengkan kepalanya "tidak,aku hanya ingin bertanya saja sama kamu."
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
Brak...
Baru saja mulut Wilona terbuka dan ingin berucap tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka dengan cukup keras. Baik Leon maupun Wilona langsung menoleh ke sumber suara.
"Sayang…" suara bibi Rose yang begitu familiar di telinga Wilona
Senyum Wilona kembali merekah kala melihat bibi kesayangannya datang bersama papa mertua dan juga adik iparnya.
"Bibi.." lirih Wilona saat berada di pelukan Rose
"Alhamdulillah ya allah,akhirnya doa kita semua didengarnya. Bibi sangat merindukan kamu sayang." Ucap rose dengan air mata yang mengalir dan membasahi wajahnya.
"Wilona…" panggil Grace
Wilona pun merenggangkan pelukannya pada sang bibi dan beralih menatap sendu ke arah Grace. Tanpa aba-aba lagi Grace langsung memeluk tubuh ringkih Wilona dengan sangat hati-hati,dia takut akan melukai tubuh sahabatnya itu.
"Aku merindukanmu Wilona" ucap lirih Grace dalam pelukan mereka.
"Aku juga merindukan kamu Grace" jawab Wilona
Lalu,Averus,Gabriel dan Javier pun bergantian memeluk Wilona. Saat Javier memeluk Wilona cukup lama,hati Leon begitu panas akan apa yang dilakukan oleh Javier. Tidak lama pelukan itu pun terlepas dan membuat Leon sedikit lega,tapi tetap menatap Javier begitu sangat tajam.
"Memangnya siapa yang menjagaku selama ini kak?" Tanya Wilona bingung
"Duh,kenapa kamu pakai mempertanyakan hal itu sih,Lona." Batin Leon yang sangat gemas dengan Wilona.
"Siapa lagi kalau bukan suami kamu Wilona" sambar Grace yang sudah begitu gemas dengan kakaknya itu
Wilona menatap tidak percaya pada Leon,"benarkan itu Leon?" Tanya Wilona pada Leon
Leon tidak menanggapi pertanyaan Wilona,dirinya hanya bisa menunduk dan menganggukkan kepalanya.
Wilona pun tersenyum ada rasa bahagia karena Leon mau menemaninya dikala dirinya sedang koma. Disatu sisi Wilona mempertanyakan sikap Leon pada dirinya itu,apakah Leon melakukannya karena ketulusan atau hanya sebagai image menjadi suaminya saja. Karena yang dirinya tahu kalau Leon begitu membencinya,tapi baru saja Leon meminta maaf pada Wilona. Apakah Leon sudah berubah? Entahlah hanya tuhan dan Leon sendirilah yang tahu isi hatinya.
"Terima kasih,karena mau menjaga dan menemaniku selama aku koma." Ucap Wilona dengan tersenyum tulus
Leon pun menganggukkan kepalanya "itu sudah menjadi tugasku sebagai suamimu,Lona." Jawab Leon dengan tersenyum.
"Ehem…" dehem Averus
"Ada yang ingin papa sampaikan kepada kalian semua,papa ingin menikahi Rose setelah Wilona dikatakan sembuh dan diperbolehkan pulang oleh dokter." Ucap Averus dengan sungguh-sungguh
"Wah,papa serius?" Tanya Grace pada sang papa dan hanya dijawab dengan anggukan kepala saja.
"Wah selamat bibi,aku sangat bahagia mendengarnya. Akhirnya cinta kalian bersatu kembali setelah dua puluh tujuh tahun lamanya." Ucap Grace kembali yang begitu sangat antusias
Bagaimana dengan Leon? Justru Leon lah yang meminta Averus untuk menikah setelah Wilona sadar dari komanya.
*Flashback on*
Dalam kamar rawat yang berada di sebelah kamar Wilona,kini Averus dan Leon sedang berada di dalam untuk menjelaskan hubungan antara Averus dan juga bibi Rose.
"Bisa papa jelaskan tentang hubungan papa dengan bibi Rose?" Tanya Leon langsung tanpa basa basi
Averus terlihat menghela nafasnya dengan kasar. "Papa ingin menikahi Rose secepatnya." Jawab Averus
"What?" Leon sangat terkejut dengan apa yang diucapkan Averus
"Ya,papa tidak ingin kehilangan Rose untuk kedua kalinya Leon." Jawab lirih Averus sambil menundukkan kepalanya
Leon yang melihat raut wajah sang papa yang sedikit berbeda dengan sebelum mereka berbincang.
"Papa" panggil lirih Leon
Averus menatap putranya itu,"papa akan menceritakan bagaimana papa bertemu dengan Rose dan mengenal keluarga Wilona." Ucap Averus dengan menatap lurus
Akhirnya Averus menceritakan semuanya dari awal dirinya bertemu dan jatuh cinta pada Rose,hingga tragedi kehamilan Rose yang tidak diketahui oleh Averus sampai dirinya harus menikahi Elsa yang tidak lain adalah ibu kandung Leon dan Grace.
Rasa penyesalan yang Averus rasakan dapat dirasakan juga oleh Leon. Bahkan dirinya membayangkan bagaimana itu adalah dirinya dengan Wilona.
"Baiklah pa,Leon merestui hubungan kalian. Tapi,Leon minta sama papa dan bibi Rose agar tidak terlalu terburu-buru menikah,mengingat Wilona belum sadarkan diri dari komanya. Mungkin sebaiknya papa dan bibi Rose menikah setelah Wilona sadarkan diri." Ujar Leon
"Terima kasih nak,atas restu kalian." Jawab Averus dengan memeluk tubuh sang putra.
*Flashback Off*