WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
49. Menyelesaikan Masalah



Leon sepertinya tidak begitu menikmati sarapan pagi ini,pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Tubuhnya memang ada di hadapan Averus dan Rose tapi tidak dengan jiwanya. Semenjak dirinya mengetahui Wilona koma,Leon merasa jiwanya seakan terbawa oleh Wilona yang sedang menikmati tidur lelapnya dengan bantuan alat medis yang menempel pada tubuhnya.


"Aku sudah selesai pah" ujar Leon yang langsung bangun dari duduknya dan berjalan kembali menuju ranjang Wilona. 


Averus berniat mengatakan sesuatu pada Leon tapi segera dihentikan oleh Rose. "Biarkan saja dulu,jangan terlalu keras terhadapnya." Ujar Rose dengan memegang tangan Averus.


Helaan nafas Averus keluar begitu saja dan mengangguk menyetujui ucapan Rose. 


"Wilona… Bangun sayang…. Jangan menghukumku seperti ini." Ucap lirih Leon


Pintu ruang rawat Wilona kembali terbuka, "selamat pagi" ujar seseorang yang datang dengan mengenakan jas dokternya. 


"Pagi juga Javier,kapan kamu kembali dari negara B?" Tanya Averus


"Semalam aku baru tiba paman,maafkan Javier saat paman membutuhkan Javier sedang tidak ada disini." Jawab Javier yang merasa bersalah. 


"Tidak apa nak,paman mengerti keadaan kamu yang sebagai dokter profesional." Jawab Averus dengan tersenyum


"Halo bibi,apa kabar?" Tanya Javier pada Rose yang sedang menghampiri mereka berdua. 


Rose tersenyum "bibi baik,Javier." Jawab Rose singkat.


Javier langsung menuju ranjang Wilona dan sedang melihat Leon dengan terus menggenggam tangan Wilona. Javier menepuk pundak adik sepupunya itu dan tersenyum melihat Leon yang kini mau berdekatan dengan Wilona. 


Leon pun menoleh "kak Javier" ujar Leon yang langsung berdiri dan memeluk tubuh Javier. Begitupun dengan Javier yang membalas pelukan dari Leon. 


"Kamu harus sabar dan kuat jangan lupa perbanyak doa agar Wilona mampu melewati masa kritisnya." Ujar Javier 


Leon pun mengangguk "iya kak terima kasih" jawab Leon yang sudah merenggangkan pelukannya.


"Sering-seringlah berkomunikasi pada Wilona,agar dirinya dapat mendengarkan apa yang kamu katakan di alam bawah sadarnya. Aku yakin jika kamu sering mengajaknya berkomunikasi maka Wilona akan mampu melewati masa kritisnya." Ucap Javier kembali.


"Iya kak,aku akan melakukan apa yang kak Javier katakan. Sekali lagi terima kasih ya kak." Jawab Leon 


"Selama dokter Erik yang menangani Wilona tidak ada jadwal bertugas maka Wilona akan menjadi tanggung jawabku. Jadi nanti aku akan sesekali memeriksakan keadaan Wilona." Tutur Javier


"Terimakasih kak" ucap Leon


Leon kembali duduk di dekat brankar Wilona,dengan menggenggam tangannya. 


"Lona,bangunlah… Kenapa kamu betah sekali tidur seperti ini? Maafkan atas semua ucapan dan tindakanku yang telah menyakitimu."  Ujar Leon dalam hatinya


*


Siang ini Leon masih setia menunggu Wilona yang masih memejamkan kedua matanya. Ternyata dunia di alam bawah sadar sana lebih nyaman dibandingkan dengan dunia yang sesungguhnya. Sudah dua hari Leon menjaga Wilona sendirian,seperti saat ini di ruang rawat Wilona hanya ada Leon seorang,itupun sesuai permintaannya agar hari ini tidak ada yang menemaninya untuk menjaga Wilona.


"Wilona… Mau sampai kapan kamu tidur? Maafkan aku yang sudah menyakiti hatimu,aku benar-benar dibutakan oleh cinta saat itu. Maafkan aku Wilona…. Maaf." Ucap Leon yang selalu setia menggenggam tangan Wilona sambil menundukkan kepalanya dengan isakan yang dikeluarkan oleh Leon


Tanpa Leon sadari ada seseorang yang menatap sendu pada Leon sedang berdiri di depan pintu masuk ruang rawat Wilona.


"Masuklah,kalian harus menyelesaikan masalah kalian. Seperti yang aku katakan tadi,bahwa Leon yang memintamu untuk datang. Maka dari itu aku menjemputmu dan membawamu kesini agar kalian dapat menyelesaikan masalah di antara kamu dan juga Wilona,Claudia" Ucap Roy  yang meminta Claudia untuk menemui Leon


Leon yang menyadari ada seseorang yang masuk pun segera menghapus air matanya dan menoleh ke arah pintu masuk. Leon bangun dari duduknya dan menghampiri Claudia yang sudah berdiri di tidak jauh dari dirinya. 


"Leon" panggilnya lembut


Leon menatap Claudia dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Claudia sendiri. 


"Ikut aku" ucap Leon dengan berjalan melewati Claudia dengan ekspresi datarnya menuju pintu dan Claudia pun mengikuti kemana langkah Leon.


Leon masuk ke ruang rawat sebelah yang biasa Rose atau yang lainnya gunakan untuk beristirahat saat menjaga Wilona.


"Leon aku merindukanmu" ucap Claudia yang langsung memeluk tubuh Leon dari belakang


Leon terdiam sejenak kalau boleh jujur dirinya masih belum bisa melupakan Claudia,tapi saat dirinya mengingat Claudia sudah berani membohonginya Leon segera melepaskan pelukan Claudia dengan begitu kasar. 


"Lepas…" geram Leon yang membuat Claudia tercengang dengan sikap Leon


"Ada apa Leon?" Tanya Claudia pada Leon yang sedang menunjukkan sikap kasarnya


"Tidak usah berlagak tidak tahu,aku yakin Roy sudah mengatakannya padamu tujuan dirimu ada disini." Jawab Leon dengan nada yang begitu dingin


Claudia tidak dapat berkata apapun,bibirnya terasa kelu. Seketika keringat dingin keluar dari tubuhnya,udara dalam ruangan tersebut semakin terasa dingin. 


"Ka-kamu be-benar su-sudah mengetahui semuanya?" Tanya Claudia dengan nada bicara seperti azis gagap


"Ya,jadi apa alasanmu membuat kebohongan seperti itu pada semua orang tentang Wilona dan juga kebohongan tentang MAXIM ALEXANDER?" Pertanyaan Leon membuat Claudia membeku degup jantungnya tiba-tiba saja berdetak begitu kencang karena rasa takut bercampur dengan rasa malu karena Leon sudah mengetahui semuanya tentang dirinya.


"A-ku…. A-aku..." 


"Jawab yang benar,Claudia…" Ucap Leon dengan berteriak di hadapan wanita yang pernah mengisi hatinya


Claudia semakin menundukkan kepalanya dengan tubuh Claudia yang terjingkat karena terkejut dengan teriakan Leon. 


"Maafkan aku Leon…. Maafkan aku yang sudah membohongimu,aku melakukan itu karena…" 


"Karena apa huh? Apa?" Tanya Leon kembali dengan nada yang tinggi seperti sebuah bentakan.


Lagi-lagi Claudia terjingkat mendengar ucapan Leon yang sedikit membentaknya. 


"Aku terpaksa melakukan itu karena aku merasakan sakit hati pada Wilona,Leon. Sejak dulu saat kami masih sekolah menengah ata Wilona selalu menjadi primadona di sekolah,hampir semua pria datang hanya ingin mendekati dirinya. Bahkan banyak yang terang-terangan menyatakan cinta padanya dan ada satu pria yang  mengajaknya untuk menikah setelah mereka lulus sekolah dan pria itu yang aku sukai. Kami memang dulu sangat dekat dan bahkan kami bersahabat baik,Wilona tahu kalau aku menyukai pria itu dan akhirnya Wilona menolaknya. Aku sangat senang saat Wilona menolak pria itu,tapi saat prom night yang diadakan di sekolah kami,aku melihat mereka berciuman dan membuat hatiku terluka. Aku menangis dan melangkahkan kakiku entah kemana sampai aku menyadari bahwa aku sudah ada di gudang sekolah. Saat aku ingin kembali….


Bersambung



Wilona Charlotte



Leon Averus Aksara