WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
55. Pulang



Sebuah mobil sport memasuki kawasan apartemen mewah,seorang pria dengan setelan kasualnya memasuki lobi apartemen tersebut,dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya menambah nilai plus pada penampilannya saat ini. Banyak mata menatap kagum pada pria berpostur tubuh tinggi itu,pria itu melangkah begitu santai sambil mendorong koper yang dibawanya memasuki lift dan segera menekan tombol lantai yang akan menjadi tujuannya saat ini. 


Setibanya di lantai sepuluh pria itu segera keluar dengan menarik kopernya dan menuju kamarnya. Setelah pintu itu terbuka pria itu segera masuk dan merebahkan bobot tubuhnya di atas sofa depan tv.


"Akhirnya… Setelah sekian lamanya aku bisa  kembali lagi ke negara ini." Ujar pria tersebut.


Saat sedang memejamkan matanya,tiba-tiba saja dering ponsel terdengar dari saku celana panjangnya. 


"Halo.." jawab pria itu


"Tuan kami sudah menemukannya" jawab lawan bicaranya di sambungan telepon tersebut.


Senyum smirk tampil di wajah pria itu "bagus… besok aku akan menemuinya,pastikan mereka selalu aman." 


Pria itu segera menutup ponselnya dan kembali menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan memandangi langit-langit apartemennya. 


"Claudia… Tunggu aku… Max,tunggu daddy. Daddy akan menjemputmu dan mommy kamu,sayang." Gumam pria itu yang masih belum diketahui identitasnya. 


Sejenak pria itu berpikir bagaimana dirinya akan menemui Claudia dan juga putranya,seketika ide licik pun kembali terlintas dalam pikirannya. Tidak lama pria itu menghubungi seseorang dan berbicara tentang rencananya besok. 


...******...


Di rumah sakit,Wilona sedang bersiap untuk pulang ke rumah peninggalan kedua orang tuanya. Setelah melewati perdebatan kecil dengan Leon akhirnya Wilona diizinkan untuk menginap beberapa hari di rumah peninggalan kedua orang tuanya. Dengan syarat Leon ikut menginap di rumah mertuanya itu,awalnya Wilona menolak,tapi Leon mengatakan sesuatu hal yang membuat Wilona tidak enak hati dengan Leon. Leon mengatakan bahwa dirinya belum pernah melihat bahkan menginjakkan kediaman Wilona sejak mereka menikah. Pada akhirnya Wilona pun menyanggupi persyaratan dari Leon. 


Wilona sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Erik dan Javier karena sudah benar-benar pulih,hanya saja dirinya harus sering melakukan terapi untuk memperlancar jalannya,kaki Wilona sudah  dapat berjalan  walaupun belum sempurna.


"Sudah siap semuanya?" Averus yang baru tiba langsung menanyakan kesiapan Wilona dan Leon yang akan pulang hari ini. 


"Iya,kami sudah siap pa." Jawab Leon sambil mendorong kursi roda Wilona. 


Averus berjalan terlebih dahulu dengan diikuti Leon yang mendorong kursi roda Wilona,serta para pengawal yang dengan setia berada di depan Averus dan di  belakang Leon. 


Dirumah kedua orang tua Wilona sang bibi dan Grace sedang menyiapkan beberapa makanan untuk menyambut kedatangan Wilona dari rumah sakit. 


"Aku harap dengan kejadian ini,hubungan Leon dan Wilona membaik." Gumam Rose dan dapat didengar oleh Grace. 


Grace menoleh ke calon ibu tirinya itu,terlihat Rose sedang memikirkan sesuatu. Lalu,Grace mendekat dan memeluk Rose dengan begitu sayang.


"Aku juga berharap begitu,mom. Aku berharap Wilona dapat bahagia dengan kakakku." Jawab Grace yang masih memeluk Rose. 


Semenjak papanya mengatakan akan menikahi Rose,Grace langsung memanggil Rose dengan sebutan mommy. Grace adalah orang pertama yang begitu merestui hubungan papanya dengan Rose,baginya kebahagiaan sang papa adalah kebahagiaannya juga. 


Dengan sigap Leon menggendong tubuh Wilona untuk duduk di kursi roda,dengan degup jantung yang begitu cepat Wilona mencoba menetralkan dirinya dengan cara mengalihkan semua pandangannya dari Leon. 


"Terima kasih" ucap Wilona dengan rasa gugup yang melanda dirinya saat Leon membantunya. Leon pun hanya dapat tersenyum,tanpa diketahui Wilona,pria itu juga merasakan sama dengan apa yang dirasakan Wilona. 


Rose dan Grace sudah terlihat berdiri di depan pintu dengan senyuman yang mengembang,mereka begitu antusias menyambut kedatangan Wilona di rumah. 


"Selamat datang sayang" Rose segera menghampiri Wilona dan memeluk tubuh yang terlihat semakin kurus itu,Rose memeluk dengan begitu lama seakan menyalurkan rasa rindu yang  baru terobati. 


Wilona tersenyum lebar "terima kasih,bi." Jawab Wilona dengan mengeratkan pelukannya pada sang bibi.


Grace pun juga tidak mau kalah dengan Rose yang memeluk Wilona. Grace kini juga sedang memeluk tubuh sahabat sekaligus kakak iparnya itu. 


"Ayo masuk,makan siang sudah siap untuk kalian semua." Ujar Rose mempersilahkan mereka semua untuk masuk kedalam.


Semuanya pada masuk kedalam rumah,sedangkan para bodyguard dengan setia berjaga di berbagai sudut rumah Wilona.


Siang ini berlalu begitu cepat karena mereka melalui dengan canda tawa dan keseruan saat mereka berkumpul setelah jam makan siang. Saat ini Wilona sedang berada di kamarnya bersama Leon,ada rasa kecanggungan diantara mereka saat ini. Berbeda dengan halnya di rumah sakit,dirinya tidak akan merasa canggung karena ada perawat yang selalu datang untuk mengecek keadaan Wilona dan terkadang Leon keluar bersama Roy. Tapi,kali ini berbeda Leon belum ada tanda-tanda keluar bersama Roy,apalagi Roy juga berada di rumah ini karena undangan jam makan siang.


"Ini kamarku,maaf tidak sebesar kamarmu di penthouse." Ujar Wilona yang sudah berada di kamar bersama Leon 


"Hhmm…" Leon hanya bergumam sambil memperhatikan seluruh kamar Wilona. 


Wilona ingin mencoba  berdiri dari duduknya di kursi roda dengan sigap Leon membantu Wilona berdiri dengan posisi tubuh Leon memeluk Wilona. Sehingga pandangan mereka pun saling bertemu,saat itu juga mereka berdua merasakan gelenyar aneh saat Leon maupun Wilona menyentuh tubuh lawannya. Dengan rasa gugup yang masih berada di dirinya Wilona mencoba menyingkir dan berusaha berdiri tegak walaupun kaki kirinya masih belum terlalu kuat untuk menapak lebih lama. 


"Kamu ingin kemana?" Tanya Leon yang menuntun istrinya untuk berdiri


"A-aku ingin merapikan pakaianmu dan untuk dimasukkan ke dalam lemariku." Jawab Wilona dengan rasa gugupnya.


"Tidak perlu,nanti saja aku akan merapikannya sendiri,sebaiknya kamu istirahat. Kamu pasti ngantuk setelah minum obat kan?" Ucap Leon dengan bertanya di sela perbincangan mereka.


Wilona hanya dapat mengangguk,tanpa berbasa-basi lagi Leon membantu Wilona untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang tidak sebesar milik Leon di rumahnya.  


"Istirahatlah,aku akan merapikan dan memindahkan pakaian kita dari dalam koper ke dalam lemari itu kan?" Tanya leon sambil menunjuk lemari yang ada di sudut kamar. 


"Ya,maaf tidak bisa membantu kamu merapikannya." Jawab Wilona saat dirinya sudah memposisikan tubuhnya dengan nyaman,dirinya juga merasa sangat bersalah dengan Leon karena tidak dapat membantunya.


"It's ok,jangan merasa berkecil hati begitu" ucap Leon sambil mengacak rambut Wilona yang sudah merebahkan dirinya. Lalu, Leon berjalan mendekati lemari tersebut dan membuka kedua pintu  lemari Wilona. 


Saat Leon membuka pintu lemari tersebut,dirinya sempat terkejut dengan hoodie yang menggantung di dalam lemari Wilona. Hoodie yang begitu sangat dikenal oleh ya,ya dirinya mengingat kalau dulu ia pernah mempunyai hoodie seperti itu,tapi entah kemana hoodie itu.