
(Kemarin sempat diterima, eeh gak lama kena kena tolak lagi. Tolong jangan ditolak lagi bab ini, jujur ini sudah kesekian kalinya saya revisi bab ini. Padahal menurut saya tidak terlalu banyak adegan dewasanya. Bahkan semuanya kebanyakan di blur kata-katanya. Kalau bab ini kena tolak lagi, fix saya langsung tamatin ceritanya tanpa ada adegan iya iya nya untuk WILONA & LEON. Saya harap ini terakhir saya revisi, tolong kerja samanya ya kawan editor aku, jeball. Aku capek revisi mulu)
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Maaf…maafkan aku,sayang!" Lirih Leon yang semakin pelukannya pada Wilona
Wilona semakin terisak dalam pelukan suaminya. Cukup lama Wilona menangis dan kini tangisnya pun sudah mulai mereda.
"Sikapmu yang selalu menolakku membuat aku selalu ingin bercermin agar aku dapat menjawab semua pertanyaan yang ada di kepalaku,kenapa kamu selalu menolak diriku? Namun sayang cermin yang aku punya kini sudah pecah….. Bahkan pecah berkeping-keping…Hingga aku tidak bisa bercermin lagi,sampai akhirnya aku merasakan penolakan lagi darimu,suamiku." Wilona berbicara dengan nafas yang terasa sangat sesak dalam dirinya.
Leon benar-benar tidak sanggup lagi melihat istrinya yang ternyata memendam keluh kesahnya sendirian selama kebersamaan mereka. Ini salahnya,karena selalu berpikir dan merasa takut kalau Wilona akan menolak dirinya juga. Ternyata apa yang ia anggap selama ini,begitu bertolak belakang dengan semuanya. Ternyata istrinya juga menginginkan dirinya,sama halnya dengan dirinya yang juga menginginkan Wilona.
"Maafkan aku sayang….!" Leon mencium puncak kepala istrinya berkali-kali, seakan menyalurkan rasa sesalnya saat itu juga.
Leon merenggangkan pelukannya,diraihnya wajah istrinya dengan mata yang sudah terlihat sembab karena menangis. Leon menghapus sisa air mata yang juga meninggalkan jejak di wajah wanitanya. Dengan percaya diri dan keyakinan dirinya Leon untuk memulai me*nci*um dan memberi lu*m***n pada bibir Wilona,menyalurkan ha*sr*@tnya saat ini. Bahkan tangan Leon menekan tengkuk leher Wilona agar c**man mereka semakin dalam. Leon tersenyum saat Wilona membalas lum*t*nnya.
Leon membimbing tubuh istrinya untuk bangun dan setelahnya mendorong sedikit tubuh Wilona menuju tempat tidur mereka tanpa melepas pagutan satu sama lain. Leon mulai menyentuh tubuh istrinya menjalankan kewajibannya memberi Wilona nafka batin. Kali ini Leon sangat berhati-hati dan pelan-pelan, sesuatu yang berharga dan mahal harus dinikmati sedikit demi sedikit dan penuh kesabaran.
Wilona menutup matanya sedikit merinding dan grogi, bahkan tubuhnya saat ini sudah bergetar. Leon menyadari akan hal itu, ini pertama bagi Wilona untuk menyerahkan seluruh hidupnya pada sang suami. Kali ini tidak ada paksaan, semua dilakukan atas dasar cinta.
"Jangan takut, rileks saja. Nanti kamu akan merasa sangat menyenangkan." Suara Leon terdengar serak karena dalam pengaruh gairah yang ingin ia tuntaskan saat ini juga.
Mendengar ucapan Leon, Wilona langsung membuka matanya. Dia tahu seorang istri harus memberikan yang terbaik untuk sang suami, terutama di ranjang. Karena kebutuhan suami yang pertama adalah urusan ranjang. Leon begitu puas memandang wajah istrinya dari dekat, menciumnya memberikan sentuhan lembut untuk wanitanya. Perlahan tapi pasti, Wilona berusaha mengikuti keinginan Leon. Walaupun dia sendiri sebenarnya menikmati indahnya asmara yang memabukkan.
"Terima kasih sayang sudah menjaganya untukku. I love you…!" Ucap Leon dengan senyum merekah di wajahnya.
Wilona tidak menjawab ucapan Leon,tapi bibirnya terangkat ke atas dan mengangguk menanggapi apa yang dikatakan suaminya. Wilona sudah sangat lelah karena permainan mereka yang cukup membakar gairah malam ini. Setelah adanya drama di antara mereka akhirnya mereka dapat merasakan sensasi yang luar biasa di pernikahan mereka selama ini,dan juga Leon sudah menjadikan Wilona istrinya seutuhnya. Sudah dapat dipastikan setelah ini tidak akan ada drama lagi sebelum mereka melakukan kegiatan panas mereka nantinya.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Leon dengan tangan yang terus mengusap punggung istrinya.
Wilona mengangguk. "Ya, kamu menyakiti badanku, Leon. Tubuhku semuanya sakit dan terasa sangat perih di sana." Jawab Wilona dengan menunjuk ke arah bagian bawah tubuhnya dengan memberi kode melalui kedua matanya.
"Maaf...!" Leon terkekeh menjawab ucapan istrinya dan kembali mengeratkan pelukannya pada Wilona.
Pagi menjelang,Leon bangun terlebih dahulu. Saat membuka matanya hal yang pertama ia lihat tentulah sang istri yang masih terbaring di sebelahnya. Ditatapnya wajah sang istri dengan begitu intens,tangan Leon bergerak untuk menyingkirkan beberapa rambut yang menghalangi wajah istrinya. Seulas senyum nampak di wajah Leon,dirinya mengingat pergulatan mereka semalam yang penuh gairah. Leon merasakan euforia dalam hidupnya karena orang yang pertama menyentuh Wilona adalah dirinya sendiri,bahkan Leon merasakan sensasi yang luar biasa saat bermain bersama istrinya itu. Berbeda dengan saat dirinya bermain bersama Claudia dulu,mungkin karena Claudia sudah tidak perawan lagi sedangkan Wilona masih bersegel resmi dan dialah orang pertama yang membukanya.
"Terima kasih karena sudah mencintaiku sejak lama,terima kasih karena sudah menjaga mahkotamu untuk diriku. Maafkan atas semua kesalahan diriku di masa lalu,aku berjanji akan terus melindungi,menyayangi dan mencintaimu setulus hatiku. Kamu adalah milikku,wanitaku,istriku dan ibu dari anak-anakku." Gumam Leon dalam batinnya sambil tersenyum memandangi wajah istrinya yang begitu cantik,apalagi saat dalam keadaan tertidur seperti ini.
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
Akhirnya bab ini aku revisi lagi karena kemarin sempat dapat penolakan dari NT, mungkin karena terlalu nanas kali ya,jadi kena tolak. Aku juga lupa kalau disini tuh untuk adegan nanasnya harus lebih direm lagi beda dengan tempat lain.
Mohon maaf ya atas keterlambatan dalam cerita ini,jujur aja aku masih belum bisa bagi waktu untuk cerita ini dan juga ceritaku yang masih ongoing di aplikasi lain. Cerita ini udah tamat ya para pembaca, Sekali lagi aku ucapkan maaf lahir batin,dan selamat hari raya idul fitri 🙏🥰.