
Saat Leon membuka pintu lemari tersebut,dirinya sempat terkejut dengan hoodie yang menggantung di dalam lemari Wilona. Hoodie yang begitu sangat dikenal oleh ya,ya dirinya mengingat kalau dulu ia pernah mempunyai hoodie seperti itu,tapi entah kemana hoodie itu.
Tangan Leon terulur mengambil hoodie tersebut "i-ini.." ucap Leon saat sudah memegang hoodie itu,lalu berbalik dan menatap ke arah Wilona yang sudah bangun dengan posisi menyandar di kepala ranjang tempat tidurnya.
Wilona paham dengan apa yang akan Leon tanyakan pada dirinya. Dengan rasa canggung Wilona tersenyum dengan terpaksa.
"Itu milikmu.." akhirnya mau tidak mau Wilona mengatakannya.
Leon terlihat mengerutkan dahinya "bagaimana bisa ada padamu? Apakah Grace yang meminjamkannya?" Tanya Leon dengan rasa penasarannya,sambil berjalan mendekati tempat tidur Wilona dan duduk di dekat istrinya itu.
Wilona menggelengkan kepalanya "tidak… tapi,kamu yang meminjamkannya pada ku saat itu." Jawab Wilona dengan tatapan tertuju pada hoodie milik Leon seakan sedang mengingat saat Leon memberikan hoodie itu.
"Aku?" Tanya Leon dengan menunjuk dirinya
"Ya… Kamu" jawab Wilona lagi
"Ta-tapi bagaimana bisa? Kapan aku memberikannya padamu?"
Wilona terlihat menghela nafasnya dan membuangnya dengan kasar,lalu wanita itu menceritakan bagaimana hoodie itu ada di dalam lemarinya itu. Leon sangat terkejut saat mendengar cerita yang dilontarkan oleh Wilona. Dirinya baru menyadari bahwa Wilona pernah bertemu dengannya sebelum dirinya berpacaran dengan Claudia.
"Ja-jadi itu kamu…" jawab Leon dengan senyum tipisnya
"Ya… maaf belum sempat mengembalikan hoodie itu karena saat ingin aku mengembalikannya saat itu juga kamu sudah bersama Claudia,jadi aku urungkan niatku dan akan mengembalikannya di waktu yang tepat karena aku takut menimbulkan masalah jika aku datang menemuimu." Jawab Wilona dengan menundukkan wajahnya
Leon paham akan maksud yang dikatakan oleh Wilona,dirinya juga pernah menjadi orang yang ikut membuat luka di hati Wilona.
"Maaf…" Lirih Leon
Wilona mendongakkan kepalanya dan tersenyum "lupakan… Sebaiknya kita lupakan semuanya." Jawab Wilona dengan senyum tulus di wajahnya,melihat itu pun Leon ikut tersenyum.
"Oke,sebaiknya kamu istirahat aku akan kebawah menemui Roy setelah merapikan baju-baju kita." Ucap Leon dan dibalas dengan anggukan oleh Wilona.
Leon kembali merapikan pakaian mereka dengan memasukkannya ke dalam lemari,setelah rapi Leon kembali menatap Wilona yang sudah terlelap. Leon mendekatkan dirinya pada Wilona yang sudah terlelap,senyum lebar tercetak jelas di wajah Leon. Leon menundukkan wajahnya dan dengan begitu pelan dan lembut dirinya mencium kening Wilona.
"Istirahatlah.." ucap pelan Leon sambil mengusap lembut pipi Wilona.
...*****...
Di tempat lain tepatnya di rumah nenek Claudia,ada keributan sedikit di rumah itu semua orang yang ada di sana begitu frustasi karena Maxim tiba-tiba saja menghilang.
Saat itu Claudia sedang bekerja diberitahukan oleh sang nenek bahwa Maxim sudah tidak ada di sekolah. Dengan rasa khawatir Claudia segera meminta izin pada atasannya untuk pulang secepatnya.
"Nenek,bagaimana ini? Maxim tidak ada di taman maupun rumah teman-temannya." Ucap Claudia yang sudah begitu frustasi atas kehilangan putranya itu.
"Maafkan nenek nak,karena telat menjemput Max" jawab nenek Ardila sambil menundukkan kepalanya dengan suara isakan tangisnya.
Claudia mendekat dan memeluk tubuh sang nenek yang sudah renta itu. "Tidak nek,jangan menyalahkan diri nenek ini semua salahku yang juga tidak menjaga putraku dengan baik. Seharusnya aku meminta seseorang untuk menjaga Max." Ucap Claudia yang juga sedang menangis sambil memeluk sang nenek. Ingin rasanya Claudia melaporkan kehilangan atas putranya tapi sayangnya ini belum 24 jam.
Disaat sedang menangis dan meratapi kesalahannya,tiba-tiba saja berdering dan menampilkan nomor yang belum tersimpan olehnya. Dahi Claudia pun mengkerut.
"Nomor siapa?" Batin Claudia
Panggilan pertama di abaikan oleh Claudia hingga ada sebuah notifikasi pesan dari nomor tersebut.
📩
Angkatlah panggilan dariku,jika kamu masih ingin bertemu dengan putramu,Maxim.
"Ha-halo…" ucap Claudia dengan tergagap
"Halo mommy…" teriak Maxim di sambungan telepon itu
"Max ..Max… Kamu dimana sayang?" Tanya Claudia dengan suara bergetar,nenek Ardila yang masih terisak segera menghampiri cucunya itu.
"Max,kamu kah itu? Max kamu dimana sayang nenek dan mommy kamu begitu khawatir." Nenek Ardila menempelkan telinganya di ponsel Claudia.
Pada akhirnya Claudia menloudspeaker panggilan tersebut.
"Mommy dan nenek tidak perlu khawatirkan Max,karena Max saat ini sedang bersama daddy. Tadi daddy datang menjemput Max di sekolah." Jawaban Maxim membuat Claudia dan nenek ardila terdiam dan saling memandang.
"Sa-sayang… A-apakah daddy kamu ada di dekatmu?" Tanya Claudia dengan begitu ragu dan tidak percaya atas apa yang dikatakan Maxim. Pasalnya Maxim tidak pernah bertemu dengan pria yang menjadi daddy nya karena Claudia sendiri pun tidak mengenal siapa yang sudah memperkosa dirinya dan sudah hampir lima tahun dirinya tidak pernah bertemu bahkan mengingat dengan pria bejat itu.
"Yes,mommy… Daddy sedang berada di sebelah Max."
"Bo-boleh mommy berbicara pada daddy kamu Max?"
"Tentu mommy,pasti mommy juga ingin menyusulku kan? Karena daddy mengatakan kalau mommy akan datang untuk menjemputku,dan bermain bersama daddy." Jawaban Max lagi-lagi membuat Claudia merasa begitu khawatir.
Lamunan Claudia buyar saat suara barito diseberang panggilan tersebut membuyarkan lamunannya.
"Halo…" jawab pria itu
"Ha-halo… Ka-katakan dimana Max?" Jawab Claudia dengan tidak sabaran ingin segera mengetahui dimana keberadaan mereka.
Terdengar suara tawa kecil dari panggilan tersebut. "Kamu begitu tidak sabaran sayang,tunggulah beberapa menit lagi akan ada seseorang yang akan menjemputmu di rumah nenek Ardila. Maka dari itu bersiaplah dan berdandanlah dengan cantik." Jawab pria itu dan langsung mematikan sambungan telepon tersebut.
"Halo… Halo…. Max…. Halo..." Teriak Claudia saat sambungan teleponnya terputus.
"Brengsek…." Umpat Claudia
"Nak…" Ardila memanggil Claudia
"Nek…" Claudia berhambur ke dalam pelukan sang nenek,dan menumpahkan kembali tangisnya dalam pelukan hangat itu. Nenek Ardila mengusap pelan punggung Claudia yang terus terisak. Sekelebatan kejadian kelam saat pertama kali Claudia diasingkan di rumahnya ini muncul seperti sebuah film kusut yang terekam dengan sangat jelas.
"Apa yang harus aku lakukan,nek…?" Tanya Claudia yang masih terisak di dalam pelukan sang nenek.
"Temui pria itu… Selesaikan semuanya dengan kepala dingin." Jawab nenek Ardila
"Tapi nek…"
"Ssstt… Bagaimanapun juga pria itu adalah ayah biologis putramu,cicit kesayangan nenek."
"Kenapa nek..? Kenapa dia datang disaat aku sudah melupakan semuanya nek dan menerima kenyataan ini dalam hidupku dan Max juga sudah tidak menanyakan dimana daddynya berada."
"Nenek tahu dan nenek sangat tahu apa yang kamu rasakan selama ini,nak. Tapi bagaimanapun juga suatu saat nanti Max akan membutuhkan sosok ayah dalam kehidupannya. Temui pria itu dan tanyakan alasan dirinya kenapa baru datang menemui kalian setelah lima tahun ini." Jawaban nenek Ardila pembuat Claudia melepaskan pelukannya dan kembali menatap sang nenek.
"Baiklah nek aku akan menemuinya"
Tidak lama Claudia ingin bersiap untuk mengganti pakaiannya,tiba-tiba bel pintu rumah sang nenek berbunyi.
"Kamu bersiaplah biar nenek yang akan melihat siapa yang datang." Ucap nenek Ardila dan dijawab anggukan oleh Claudia