WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
28. Menemanimu



Dalam cinta, ada masanya untuk berharap, dan ada waktu untuk berhenti. Ada saat untuk memperjuangkan, namun ada juga untuk mengikhlaskan. Ketika engkau mencintai satu orang tanpa syarat, lalu kehilangan cinta itu, itu meninggalkan luka yang tidak pernah sembuh, hati yang sedih dan hancur, kekosongan selamanya.


Sepeninggalnya Wilona beberapa jam lalu,Averus yang selalu setia berada di samping ranjang tempat tidur Rose. Pria itu menatap sendu pada wanita yang sangat dirindukan olehnya,bertahun-tahun dirinya tersiksa karena rasa rindunya kepada wanita itu. Kini tuhan sudah mempertemukan dirinya dengan wanita yang selalu ada dihatinya ini. Averus berjanji pada dirinya untuk tidak akan pernah meninggalkan wanita pujaannya ini apapun yang terjadi dirinya tidak akan pernah melepaskan Rose lagi. Averus menggenggam tangan Rose yang terbebas dari selang infus dengan pelan-pelan,karena takut mengganggu tidurnya. Pria itu mencium tangan wanitanya yang masih terbaring lemah,tangan kirinya terulur menyentuh kepala Rose dan membelainya pelan. 


"Aku akan selalu ada untukmu sayang,aku tidak akan meninggalkan dirimu." Ujar Averus dengan menyelipkan kecupan di kening Rose. 


Rasa kantuk dan lelah yang menyerbu dirinya tidak bisa tertahankan lagi oleh Averus,pria itu merebahkan kepalanya di sisi kiri Rose yang masih tertidur. Waktu terus berjalan,Rose yang merasa ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil pun terbangun. Rose melirik sebentar ke arah jam dinding,pukul dua pagi dirinya terbangun dan ketika ingin bangun dirinya mendapati Averus yang sedang terlelap dengan memegangi tangan kirinya. Rose pun merasakan hatinya terenyuh mendapati pemandangan seperti itu,pria yang sudah menghancurkan hidupnya kini kembali di hadapannya. Bahkan dengan sangat terang-terangan pria itu memintanya untuk kembali bersamanya dan tidak akan meninggalkannya lagi seperti dulu. Averus yang merasa ada pergerakan kecil dari tangan Rose pun terbangun,pria itu beberapa kali mengedipkan matanya dan sedikit mengucek matanya. Betapa terkejutnya pria itu melihat Rose yang sudah membuka matanya. 


"Kenapa kamu bangun? Kamu membutuhkan sesuatu? Apa kamu haus? Atau kamu lapar?" Tanya Averus bertubi-tubi dan mampu membuat Rose terkekeh 


Averus tercengang melihat Rose yang tertawa seperti itu,tawa yang sangat dirindukan oleh Averus. Pria itu pun menatap wanita itu dengan senyum bahagianya. Rose menyadari kalau Averus sedang menatapnya,kemudian wanita itu berusaha kembali menetralkan dirinya,seketika raut wajahnya kembali datar seperti pertama awal Averus melihatnya di kampus putrinya. 


"Saya hanya ingin ke kamar mandi" ujar Rose sambil mendudukkan dirinya


Averus berniat membantu Rose,tapi wanita itu menolaknya. Rose membawa infusannya bersama tiang penyangganya. Ketika ingin berjalan,tubuh Rose terhuyung dan dengan sigap Averus menangkap tubuh Rose. 


"Jangan keras kepala,Rose. Izinkan aku membantumu untuk sampai di kamar mandi." Ucapan tegas Averus membuat Rose tidak dapat berkutik,dengan pasrah dirinya menerima tawaran dari Averus karena memang dirinya masih merasa sangat lemas. 


Setibanya di dalam kamar mandi Rose meminta Averus untuk keluar,dan pria itu pun menurut. Beberapa menit kemudian Rose sudah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi. Averus kembali membantu Rose untuk berjalan menuju ke tempat tidurnya. 


"Kembalilah tidur ini baru jam setengah tiga pagi. Aku akan menemanimu sampai dokter mengizinkan dirimu pulang." 


"Terima kasih" jawab Rose tanpa menatap wajah Averus. 


Averus pun tersenyum kecut,tapi dirinya harus ekstra sabar dalam menghadapi Rose untuk saat ini. Dirinya begitu sangat sadar,bahwa dia sudah menorehkan luka yang begitu dalam pada wanitanya. Mungkin kata maaf tidak akan bisa mengembalikan semuanya,tapi niatnya itu benar-benar tulus dari dasar lubuk hatinya. Rose merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Averus. Pria itu menatap punggung Rose dengan tatapan nanar. 


"Rose" 


"Maafkan aku" 


Averus menjeda ucapannya,sejenak dirinya menghela nafas dan membuangnya dengan begitu  kasarnya. 


"Seandainya dulu aku tidak menuruti keinginan papaku untuk menikahi Elsa,mungkin kita akan terus bersama. Tapi,ketika aku memberontak dan tidak ingin menuruti keinginan papa. Dia mengancam ku dengan mengatakan akan membuat dirimu celaka,bukan hanya dirimu saja yang akan celaka. Namun,kak Mark dan Erisa pun akan celaka jika aku tidak menurut." Ujar Averus yang menundukkan kepalanya,sedangkan Rose kembali membuka matanya setelah mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Averus. Bagaimanapun juga dirinya tidak boleh egois,dia harus mendengarkan  alasan apa yang membuat Averus menghilang begitu saja tanpa kabar. Rose membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Averus.


*Flashback on* 


Sore itu Averus yang baru saja pulang mengantarkan Rose kembali ke rumahnya tiba-tiba saja mobilnya dihadang oleh sebuah mobil hitam dan pria itu tahu siapa mereka. Dengan sangat kesal Averus keluar dari mobilnya,pria itu membuka kacamata hitamnya. 


"Katakanlah" ujar Averus kepada pria dengan berpakaian serba hitam yang terdiri dari empat orang. 


Salah satu dari mereka pun menunduk sebagai tanda hormat "selamat sore tuan muda,kami diperintahkan oleh tuan Joshua untuk membawa anda kembali ke mansion." Jawab orang itu yang tidak lain adalah para pengawal keluarga Aksara. 


"Haahh… katakan pada papa,aku akan ke mansion nanti malam. Karena aku harus kembali ke apartemen untuk mengerjakan beberapa tugas akhir tahunku." Ujar kembali Averus


"Tapi,tuan mud…" ucapan pengawal itu terhenti karena ucapan Averus. 


"Jika kalian tidak percaya denganku,maka kalian bisa ke apartemenku nanti malam." Sambung Averus pada pengawal itu. 


"Baiklah tuan muda,kalau begitu kami undur diri" jawab pengawal itu dengan membungkukkan ke bali tubuhnya sedikit begitupun dengan pengawal lainnya.


Para pengawal itu pun kembali ke mobil mereka masing-masing,begitupun dengan Averus. Mereka kembali menjalankan mobilnya menuju ke tempat yang menjadi tujuan mereka masing-masing. Averus kembali menuju apartemen miliknya,setibanya disana Averus langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Hari ini benar-benar begitu melelahkan,sejenak Averus termenung mengingat wajah wanita yang sudah bersama ya cukup lama. Pria itu tersenyum mengingat hal-hal kebersamaannya dengan Rose. 


"Aku akan menikahi mu Rose,cepatlah lulus. Aku benar-benar ingin seutuhnya memilikimu." 


Karena rasa kantuk yang menyerang akhirnya Averus pun terlelap di sofa ruang tv. 


...**...


Malam pun tiba,Averus menepati janjinya untuk datang menemui papanya di mansion. Averus melajukan kuda besinya dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan menuju mansion. Ketika Averus sudah tiba di mansion,dirinya sudah disambut oleh Andreas sang kepala pelayan. 


"Selamat malam tuan muda" ucap Andreas.


"Selamat malam Andreas,dimana papa?" jawab Averus dengan menampakkan senyumnya dan tidak lupa dirinya bertanya keberadaan sang papa. 


"Tuan besar sedang berada di ruang keluarga tuan muda." Balas Andreas