
"Aku terpaksa melakukan itu karena aku merasakan sakit hati pada Wilona,Leon. Sejak dulu saat kami masih sekolah menengah atas Wilona selalu menjadi primadona di sekolah,hampir semua pria datang hanya ingin mendekati dirinya. Bahkan banyak yang terang-terangan menyatakan cinta padanya dan ada satu pria yang mengajaknya untuk menikah setelah mereka lulus sekolah dan pria itu yang aku sukai. Kami memang dulu sangat dekat dan bahkan kami bersahabat baik,Wilona tahu kalau aku menyukai pria itu dan akhirnya Wilona menolaknya. Aku sangat senang saat Wilona menolak pria itu,tapi saat prom night yang diadakan di sekolah kami,aku melihat mereka berciuman dan membuat hatiku terluka. Aku menangis dan melangkahkan kakiku entah kemana sampai aku menyadari bahwa aku sudah ada di gudang sekolah. Saat aku ingin kembali dan keluar dari gudang aku dikejutkan oleh seorang pria dengan berpakaian yang sudah berantakan dengan kondisi mabuk. Aku bingung harus melakukan apa? Saat aku ingin melarikan diri,pria itu mencekal tanganku dan membawaku ke dalam gudang,dan disanalah kesucianku direnggut oleh pria itu. Setelah pria itu merenggut apa yang ku banggakan,aku mencoba kembali untuk meminta pertolongan pada Wilona. Tapi,saat aku tiba aku sedang melihat dirinya begitu bahagia bersama para pria dan teman yang lainnya. Saat itu juga aku membenci Wilona,aku mulai membuat berita tentang Wilona dengan cara memfitnahnya. Aku juga pernah menyuruh seseorang untuk memberi pelajaran kepadanya dengan cara mencelakai dirinya,misiku berhasil dengan kejadian itu Wilona pergi meninggalkan kota ini bahkan dirinya pindah sekolah karena yang ku dengar Wilona sempat mengalami depresi karena kekerasan yang dilakukan oleh teman-temanku. Setelah satu bulan Wilona pindah aku dinyatakan hamil,kedua orang tuaku begitu shock saat mendengar diriku hamil. Lalu aku diungsikan ke rumah nenek di pedalaman desa,nenek begitu menyayangiku bahkan nenek sangat tulus merawat diriku. Aku membesarkan putraku sendiri sampai dirinya berusia dua tahun,lalu aku melanjutkan kembali sekolahku. Saat aku lulus ada seseorang yang melamarku,tapi aku menolaknya. Saat kejadian aku diperkosa malam itu aku sedikit merasa ketakutan saat berhubungan dengan pria. Hanya dengan kamu aku bisa melakukan itu Leon,hanya dengan kamu aku dapat merasakan kenyamanan itu,itulah alasan kenapa aku selalu menolak dirimu saat mengajakku untuk menikah. Maafkan aku Leon karena aku sudah membohongimu bahkan membuat fitnah untuk Wilona,aku sungguh minta maaf."
Claudia menangis terisak setelah menceritakan semuanya tentang kehidupan yang menimpanya. Hanya karena iri hati dirinya bahkan dengan teganya memfitnah sahabatnya sendiri hanya untuk sebuah pembalasan karena sakit hati.
Dengan rasa iba Leon meraih tubuh Claudia yang sudah bergetar karena sedang menangis ke dalam pelukannya. Leon mengusap punggung Claudia dengan lembut. Leon tidak akan menyangka kalau Claudia mengalami hal yang begitu berat dalam hidupnya.
"Maafkan aku Claudia… Maaf." Ucap lirih Leon
Cukup lama Leon memeluk tubuh Claudia yang masih terisak,ketika Claudia sudah mampu menguasai dirinya dan tidak lagi Leon mendengar isakan yang keluar dari bibir Claudia. Leon mengajak wanita itu untuk duduk di kursi yang ada ruangan tersebut.
Leon mengambil sebuah botol air mineral yang memang sudah disediakan disana oleh pihak rumah sakit. Leon memberikan botol tersebut kepada Claudia setelah membuka segelnya botol minuman tersebut.
"Apakah kamu sudah mencari tahu siapa pria yang sudah merenggut kesucianmu itu?" Tanya Leon
Claudia menggelengkan kepalanya yang masih menunduk dan sesekali terdengar suara sesegukan sehabis menangis yang membuat Claudia tidak menjawab pertanyaan Leon.
"Apakah kamu ingat sketsa wajah pria itu?" Tanya Leon kembali
Claudia berpikir sejenak,lalu wanita itu mendongak menatap Leon "seperti Maxim,ya.. Wajah Maxim mengingatkan aku dengan pria itu." Jawab Claudia dengan mata sembab dan hidung yang memerah karena sehabis menangis.
"Apakah kamu mempunyai foto terbaru putramu itu?"
Dengan cepat Claudia menganggukkan kepalanya dan merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya. Setelah menemukan ponselnya tersebut Claudia segera mencari foto Maxim yang baru saja diambilnya beberapa hari yang lalu.
"Ini.." ucap Claudia dengan menyodorkan ponselnya pada Leon
Lalu leon menerima ponsel tersebut dan dengan cepat dirinya mengirim foto itu ke nomor ponselnya. Saat itu juga ponsel Leon berbunyi tanda pesan masuk.
Leon langsung mengecek ponselnya dan membuka pesan berupa foto putra Claudia. Leon terkejut saat melihat foto Maxim,bagai dejavu dirinya pernah melihat wajah itu. Leon mengernyitkan dahinya berusaha mengingat wajah yang begitu familiar baginya.
Claudia melihat ke arah Leon yang sedang memasang wajah seriusnya.
"Leon.." panggil Claudia
1
2
3
"Leon…." Teriak Claudia karena sejak tadi dirinya dicuekin saat memanggil Leon
"Ya…" Jawab Leon yang terkejut mendengar Claudia yang berteriak
"Ada apa? Kenapa kamu berteriak seperti itu?" Tanya Leon kesal pada Claudia
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu tidak menyahut saat aku panggil dirimu berkali-kali." Jawab Claudia yang juga tidak mau kalah pada Leon.
"Kamu memanggilku? Kapan?" Tanya Leon dengan begitu polos
"Aish… Sudah lupakan." Ucap kesal Claudia
"Aku sudah meminta seseorang untuk mengidentifikasi wajah putramu itu." Ujar Leon yang kembali pada topik awal mereka.
Claudia tertegun saat mendengar ucapan Leon.
"Lalu,apa yang harus aku lakukan saat kamu sudah mengetahui siapa pria itu?" Tanya Claudia
Leon menatap wajah pias Claudia "kamu harus meminta pertanggungjawaban kepada pria itu,bagaimanapun juga pria itu adalah ayah biologis dari putramu itu. Aku akan membantumu menemukan bajingan itu" Jawab Leon dengan begitu serius dengan menatap lurus ke depan
"Lalu,bagaimana dengan hubungan kita Leon?" Tanya Claudia kembali
Leon kembali menatap Claudia,helaan nafas kasar Leon terdengar oleh Claudia.
"Claudia,aku minta maaf karena harus mengatakan ini kepadamu. Aku ingin mengakhiri hubungan kita,aku ingin menebus kesalahanku pada Wilona. Aku juga tidak mungkin meninggalkan Wilona dalam keadaan seperti ini." Jawab Leon dengan sedikit rasa tidak enak hati pada Claudia
"Apakah kamu mencintai Wilona?" Pertanyaan Claudia sukses membuat tubuh Leon menegang dan bibirnya terasa kelu,bahkan dirinya sendiri tidak tahu apa yang saat ini dirinya rasakan.
"A-aku…" suara Leon menggantung saat Claudia melanjutkan ucapannya
"Lupakan pertanyaanku tadi,aku akan menerima keputusanmu ini Leon. Terimakasih karena sudah mengisi hari-hariku dengan kasih sayangmu. Terimakasih untuk semuanya,aku akan berusaha melupakan dirimu. Maafkan aku juga yang sudah membohongi dirimu." Jawab Claudia dengan senyum kecutnya
Leon semakin merasa bersalah pada wanita yang ada di hadapannya saat ini,ingin rasanya dirinya kembali bersama Claudia. Tapi,itu tidak akan mungkin karena kondisi Wilona saat ini dan dirinya juga sudah berjanji untuk selalu ada di sisi Wilona saat mengetahui fakta tentang Wilona dan Claudia.
MAXIM ALEXANDER