
Setelah menempuh jarak sekitar lima belas jam,kini Leon dan Johnny sudah tiba di negara K tepatnya berada di pusat kota S. Kedatangan mereka disambut oleh tuan Lee,selaku orang kepercayaan Averus di perusahaan cabang di negara K. Tuan Lee menyambut Leon di bandara untuk mengantarkan Leon ke penthouse milik keluarga Averus.
"Selamat datang tuan Leon,senang sekali akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan anda." Ujar tuan Lee sambil berjabat tangan dengan Leon.
Leon menyambut uluran tangan dari tuan Lee "senang bertemu dengan anda juga tuan Lee" jawab Leon.
Mereka pun meninggalkan bandara dan menuju penthouse,karena Leon merasa begitu sangat lelah setelah melakukan perjalan cukup jauh. Tuan Lee benar-benar mengantarkan Leon dan Johnny ke penthouse milik Averus. Disanalah mereka akan tinggal sementara waktu selama di negara K.
"Kalau begitu saya pamit tuan,selamat beristirahat dan besok pagi saya akan datang lagi untuk menjemput tuan." Ujar tuan Lee pada Leon dengan membungkukkan tubuhnya sebentar.
Leon mengangguk "baiklah tuan,kita bertemu besok lagi." Jawabnya sambil membalas dengan membungkukkan tubuhnya seperti halnya tradisi negara K.
Tuan Lee meninggalkan penthouse milik keluarga Leon,sedangkan Leon sendiri segera berlalu menuju kamar miliknya. Setelah memasuki kamar Leon segera membersihkan diri dengan berendam air hangat. Tubuh yang tadinya terasa sangat lelah,kini kembali segar setelah berendam cukup lama.
Leon keluar dari kamar mandi dan segera mengambil piyama miliknya,setelah berpakaian pria itu segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.
"Aaahhhh…. Akhirnya…. Ketemu kasur juga…" keluh Leon sambil mengusap-usap kasur dengan posisi tubuh yang terlentang dengan mata yang terpejam.
Saat sedang asyik menikmati nyamannya kasur empuk itu,ponsel Leon berdering menandakan panggilan masuk. Dengan sangat malas Leon membuka matanya dan bangun dari rebahannya. Leon bergeser merapatkan dirinya agar dapat meraih ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidur.
"Halo,pa." Ucap Leon dengan rasa malas menjawab telepon yang berasal dari Averus.
"Leon,kapan kamu sampai di sana?" Tanya Averus.
"Sekitar satu jam yang lalu,pah. Ada apa pah?" Tanya Leon balik.
"Kamu sudah memberi kabar Wilona?" Pertanyaan papahnya membuat Leon langsung duduk dengan posisi yang tegak. Dirinya baru ingat belum memberitahukan Wilona.
"Be-belum pah,tadi Leon begitu sangat lelah,sampai lupa menghubungi Wilona." Jawab Leon apa adanya.
"Baiklah,jangan lupa menghubungi Wilona,bagaimanapun juga Wilona adalah istrimu. Pasti dirinya sedang mengkhawatirkan dirimu saat ini."
"Iya pah,nanti Leon akan menghubungi Wilona."
"Ya sudah,istirahatlah."
Averus mengakhiri panggilan telepon tersebut. Sejenak Leon masih memandangi layar ponselnya,disana tertampang jelas foto dirinya sedang bersama Claudia. Saat itu juga Leon teringat fakta yang sebenarnya,pria itu langsung membuka galeri ponselnya dan segera menghapus semua foto-foto yang mengingatkan dirinya dengan Claudia.
"Aku akan mengurusmu Claudia,setelah urusan perusahaanku disini selesai. Tunggu saja,aku akan membongkar siapa dirimu yang sebenarnya." Ucap Leon dengan sedikit meremas ponselnya.
"Wilona" gumam Leon
Dengan cepat Leon mencari nomor kontak Wilona yang sudah disimpan olehnya. Sebelum berangkat tadi Leon meminta nomor Wilona pada Grace saat mereka masih di perusahaan Gabriel.
"Telepon……. Jangan…. Telepon…… Jangan….."
Pikir Leon begitu sangat ragu untuk menghubungi Wilona. Baru kali ini Leon merasakan kegugupan saat menghubungi seseorang.
"Telepon atau jangan ya…?"
"Aarrgghh…."
Leon berteriak sambil membanting tubuhnya dengan posisi tengkurap dan dengan kaki yang dihentak-hentakkan oleh dirinya. Leon membalikkan tubuhnya,sesekali dirinya menarik nafas sangat dalam dan kemudian dikeluarkannya kembali dengan pelan-pelan.
Leon kembali menatap ponselnya dan dengan tangan gemetar dirinya menekan tombol panggilan suara. Nada sambung terdengar oleh Leon hingga akhirnya tergantikan dengan suara perempuan yang menurut Leon sangat merdu dan saat itu juga Leon terperanjat kaget dan melempar ponselnya ke atas kasur dekat bantal.
"Halo" terdengar suara Wilona diseberang telepon sana.
Leon merangkak di atas kasur dengan mempertajam pendengarannya menuju ponsel yang tergeletak di dekat headboard.
"Halo…… halooo…." Ucap Wilona lagi
Leon langsung meraih ponselnya dan mendekatkan ke arah telinganya.
"Ya… halo,maaf ini dengan siapa?" Tanya Wilona dengan begitu ramah.
"Leon" jawabnya dengan singkat.
Deg
Mendengar nama itu jantung Wilona langsung berdegup kencang. Seketika sambungan telepon tersebut menjadi hening. Hingga akhirnya Leon lah yang pertama memecah keheningan diantara mereka.
"Halo…. Wilona apakah kamu masih disana?" Ucap Leon sambil bertanya.
"I-iya… ada apa?" Jawab gugup Wilona.
"Mmm,Wilona aku sekarang sedang ada di negara K untuk urusan perusahaan. Karena perusahaan cabang disini sedang mengalami masalah dan mungkin aku akan berada disini cukup lama. Jadi, jika ada apa-apa kamu bisa menghubungiku di nomor ini." Ucap Leon yang menjelaskan pada Wilona.
"Ya,baiklah aku doakan agar semua berjalan baik-baik saja dan segera terpecahkan segala masalahnya." Jawab Wilona dan langsung di aminkan oleh Leon.
"Aamiin" jawab Leon
Wilona tersenyum mendengarnya. "Mmm,Leon bolehkan aku meminta izin padamu?" Ucap Wilona.
"Apa?" Tanya Leon
"Mmm,selama kamu di negara K boleh kah aku tinggal di rumah mendiang kedua orang tuaku untuk menemani bibi Rose?" Tanya Wilona dalam mode sangat berhati-hati dalam berbicara pada Leon.
"Tentu,kenapa kamu meminta izin padaku?" Tanya kembali Leon pada Wilona.
"Mmm,itu karena….. karena ……. Karena bagaimanapun juga kita ini suami istri,ya walaupun hanya suami diatas kertas. Tapi,aku selalu menghargaimu sebagai suamiku." Pernyataan yang dilontarkan oleh Wilona membuat Leon merasakan nyeri pada hatinya. Seakan dirinya tidak mengizinkan Wilona untuk berkata seperti itu,tapi bibirnya terasa begitu kelu.
Hening….
Lagi-lagi suasana hening diantara mereka kembali melanda.
"Leon" ucap Wilona
"Ya"
"Istirahatlah,aku tahu kamu pasti sangat lelah." Ucapan Wilona dibenarkan oleh Leon.
"Ya,aku memang sangat lelah sekali. Tapi,setelah menghubungimu entah kenapa lelahku jadi hilang." Jawab Leon
Wilona tertawa kecil sehingga membuat Leon kembali bertanya "kenapa kamu tertawa?" Tanya nya.
"Tidak kenapa-kenapa,maaf hanya saja ucapanmu tadi membuatku sedikit geli." Jawab Wilona yang berusaha menahan tawanya.
"Apa ada yang lucu dengan ucapanku? Itu aku berkata serius lho…. Memang benar aku tadi sedang sangat lelah,tapi setelah menghubungimu lelahku jadi hilang gitu aja. Entahlah dia pergi kemana." Jawaban enteng yang diutarakan oleh Leon membuat tawa Wilona pecah.
"Hahaha….. oh astaga….. Apakah Leon yang aku kenal ternyata sangat polos seperti ini?" Tanya Wilona yang masih terdengar sedang menertawakan Leon.
Leon mendengar suara tawa Wilona yang mampu membuatnya tersenyum,bahkan Leon saat ini sedang membayangkan Wilona tertawa di hadapannya.
"Aku berkata jujur Wilona. Tapi,kamu malah menertawakanku." Suara Leon terdengar lemah oleh Wilona,saat itu juga tawa Wilona terhenti.
"Maaf" jawab Wilona.
"Istirahatlah" ujar Leon
"Ya… kamu juga harus istirahat."
Leon dan Wilona sama-sama menutup panggilan telepon mereka,dan mereka juga sama-sama tersenyum memandangi layar ponsel mereka.