WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
13. Kebodohan



"Tunggu sebentar,lukamu." Ucap Leon sambil menunjuk luka yang berada di kening gadis itu. 


Wilona menyentuh keningnya "ini… Aku sudah biasa mendapatkan luka ini." Jawab dingin Wilona. 


Bahkan Wilona pernah mendapatkan luka yang lebih dari ini. Ketika gadis itu masih bersekolah di sekolah menengah atas,Wilona pernah mendapatkan luka yang cukup parah karena Claudia. Saat itu Wilona sedang berjalan menuju arah pulang,ketika gadis itu melewati gang yang cukup sepi ia dihadang oleh beberapa teman Claudia. Mereka mendekat ke arah Wilona lalu menjambak rambut gadis itu lalu membenturkan kepala Wilona ke dinding. Seketika kepala gadis itu berkunang,tidak sampai situ saja  mereka menyiksa Wilona. Mereka menendang perut Wilona berkali-kali,sampai akhirnya Wilona pingsan di tempat itu. Wilona ditemukan oleh seorang pengendara motor yang juga bertetangga dengannya. Dengan cepat orang itu membawa Wilona ke rumah sakit dan memberitahukan Rose keadaan Wilona saat itu. Kasus itupun akhirnya dilaporkan oleh pihak sekolah,tapi karena kekuasaan orang tua mereka yang mengeroyok Wilona lebih berkuasa. Akhirnya Wilona dikeluarkan oleh pihak sekolah karena pencemaran nama baik karena tidak adanya bukti pengeroyokan terhadap gadis itu. Dengan terpaksa Wilona dipindahkan sekolahnya oleh Rose ke kota lain demi kebaikan Wilona. 


*


Leon masih menatap Wilona dengan lekat,pria itu masih mencerna setiap kata-kata Wilona. 


"Maksudku,apa lukamu parah? Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku tadi pagi." Leon meraih dompet yang berada di saku jaketnya,lalu pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang euro dan memberikannya pada Wilona. 


Wilona menatap beberapa lembar uang yang disodorkan oleh Leon. Lalu,gadis itu menatap Leon dengan tatapan nanar. Dada Wilona merasa begitu sesak dengan apa yang dilakukan oleh Leon terhadap dirinya. Apakah semuanya dapat terselesaikan dengan uang? 


Wilona menggelengkan kepalanya "apakah setiap masalah harus diselesaikan dengan uang?" Pertanyaan Wilona membuat Leon mematung,tangannya juga masih menggantung di udara memegang uang yang hendak pria itu berikan pada Wilona.


"Maaf saya permisi tuan." Ucap Wilona lagi.


Kali ini Wilona benar-benar meninggalkan Leon yang masih mematung dengan menatap kepergian gadis itu. Sepeninggalnya Wilona dari taman itu,Leon kembali duduk ke kursi taman. 


"Arrrrg…" teriak Leon


"Bodoh,kenapa tadi aku berniat memberikan uang kepada Wilona? Pasti gadis itu merasa dirinya sedang aku rendahkan." Ujar Leon yang merutuki dirinya sendiri. 


Leon yang masih duduk di kursi itu tidak sengaja menatap sebuah goodie bag yang ada di sebelahnya dimana Wilona duduk tadi. Leon meraih goodie bag itu dan melihat isinya. 


"Kain dan benang? Apakah dia suka dengan kegiatan menjahit?" 


Leon teringat dengan ucapan Wilona kalau gadis itu memiliki beberapa butik yang dikelolanya sendiri sepeninggal kedua orang tuanya. 


"Besok aku akan mengembalikannya" 


Leon segera pergi dari taman itu serta membawa bingkisan milik Wilona. Pria itu berniat akan menemui gadis itu di butiknya saja. Jika Leon menemuinya di kampus itu bisa membuat Claudia curiga padanya dan bisa-bisa seisi kampus akan geger dengan pemberitaan tentang dirinya dan Wilona. 


...********...


Wilona kembali kerumah dengan mata yang memerah karena sepanjang perjalanan ke rumah gadis itu menangis sambil mengayuh sepedanya. Setibanya di rumah Wilona segera masuk ke kamar dan menutup pintu dengan rapat,gadis itu langsung membuka semua pakaiannya dan berlalu ke kamar mandi. Disana ia menumpahkan kembali tangisnya,bahkan ia pun merutuki takdirnya yang harus bertemu dengan Leon kembali malam ini. Gadis itu juga menyesal karena keluar rumah dan pergi ke taman pada malam hari. Seandainya gadis itu tidak ke taman itu pasti malam ini mereka tidak akan bertemu. 


Flashback on


"Kamu mau kemana sayang?" Tanya bibi Rose pada Wilona yang sudah rapi dengan setelan celana panjang hitam dan juga hoodie milik Leon. 


"Oh,bibi aku akan ke taman sebentar. Aku butuh udara malam hari saat ini." Jawab gadis itu dengan tersenyum


"Kebetulan kalau begitu,boleh bibi minta tolong kamu belikan beberapa benang berwarna merah,ungu,biru,dan orange. Karena stok benang di tempat bibi sudah hampir habis." Ujar bibi Rose


Wilona menganggukkan kepala "baiklah,bi. Apa hanya itu yang bibi butuhkan?" Tanya kembali Wilona oada bibinya


"Mmm,sama kain chiffon dan sutra sepertinya bibi akan membutuhkan dua kain itu untuk pakaian yang akan bibi buat saat ini." 


"Baiklah aku jalan dulu,bi." 


Wilona tidak menjawab ucapan bibi Rose,gadis itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Wilona segera melajukan sepedanya ke toko langganannya untuk membeli beberapa keperluan bibinya. Setelah semua pesanan Rose siap semuanya,Wilona kembali kerumah. Gadis itu melajukan sepedanya melewati jalan menuju taman. 


"Mampir sebentar tidak masalah bukan?" Gadis itu bermonolog pada dirinya sendiri. 


Wilona memarkirkan sepedanya dan gadis itu berjalan menuju kursi taman yang berada di depan air mancur. Cukup lama gadis itu duduk sambil menatap ke arah air mancur. Ketika sedang asyik memperhatikan air mancur itu,tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sebelah kanannya dan betapa terkejutnya mereka. Pertemuan yang tidak direncanakan sama sekali oleh mereka. 


Flashback off


*


Senin pagi yang begitu cerah,tapi biasanya hari Senin itu membuat beberapa orang selalu mengeluhkan tentang hari Senin,karena hari Senin adalah hari dimana mereka harus memulai kegiatannya kembali untuk bekerja dan melakukan aktivitas mereka seperti biasa. Membosankan memang,tapi mau bagaimana lagi inilah hidup yang haru kita jalani. 


"Selamat pagi bibi ku yang cantik" ujar Wilona lalu mencium pipi Rose 


"Selamat pagi juga,ayo kita sarapan." Ajak Rose pada keponakannya itu


Wilona segera duduk di kursinya dan mengambil sarapannya,pagi ini bibi Rose hanya membuatkan sandwich dan waffle serta susu untuk sarapan pagi ini. Tidak lupa bibi Rose juga menyiapkan bekal untuk Wilona. 


"Wilona,dimana pesanan bibi?" Tanya Rose pada keponakannya itu 


Uhuk...uhuk


"Pelan-pelan sayang" ujar Rose sambil menepuk punggung gadis itu


"Maaf bibi aku melupakannya,semalam aku ke taman. Jadi,lupa membelinya." Jawab Wilona bohong


Wilona terpaksa harus berbohong karena gadis itu sudah ceroboh meninggalkan bingkisannya di kursi taman. 


"Haahh,ya sudah biar nanti bibi saja yang membelinya." 


"Tidak usah,bi. Biar aku saja yang akan membelinya setelah selesai kuliah. Kebetulan hari ini hanya ada satu mata kuliah saja." 


Rose mengangkat kedua bahunya "ya sudah terserah kamu saja,bibi akan menunggumu di butikmu." Ucap Rose dan di jawab anggukan oleh Wilona.


"Oh,ya bagaimana dengan nona Grace? Dia beneran suka sama rancangan kamu?" Tanya Rose kembali


"Iya,bibi mereka itu sangat menyukai rancanganku." Jawab Wilona mengingat ekspresi Grace yang begitu sangat menyukai gaun rancangan darinya.


"Syukurlah kalau mereka suka" ujar Tose dengan senyum manisnya


"Mmm,bagaimana bibi mengenal Grace?" Tanya Wilona 


"Kamu ingat dengan bibi Imelda?" Tanya Rose kembali pada Wilona dan dijawab dengan anggukan olehnya


"Bibi Imelda lah yang mengenalkan bibi dengan nona Grace." Jawab singkat Rose sedangkan Wilona hanya mengangguk saja tanpa bertanya lagi. 


"Lalu,bagaimana kamu mengenal nona Grace?" 


"Dia sahabatku,bi. Kami satu kampus."