
Wilona mempersilahkan Leon dan asistennya itu untuk duduk. Leon dan Roy duduk bersebelahan sedangkan Wilona duduk di seberang mereka berdua.
"Apakah tuan-tuan mau kopi atau teh?" Tanya Wilona
"Teh saja" jawab Leon
"Tuan Roy?" Tanya Wilona pada asisten Leon
"Samakan saja nona" jawab Roy
Wilona tersenyum "baiklah tunggu sebentar" Wilona bangkit dari duduknya,lalu gadis itu membuatkan teh chamomile untuk tiga orang.
Tanpa Wilona tahu,sedari tadi Leon selalu memperhatikan gerak gerik gadis itu,jujur saja Leon saat ini cukup terpesona dengan penampilan Wilona yang hanya mengenakan kemeja hitam dan celana jean's dengan sepatu kets-nya,penampilan Wilona memang selalu sederhana,tapi sangat modis. sisten Roy sangat paham apa yang sedang menjadi pusat perhatian atasannya kali ini. Pria itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Leon. Wilona membawa tiga buah cangkir berisikan teh chamomile untuk kedua tamu nya dan juga dirinya.
"Silahkan tuan" ujar Wilona sambil memberikan secangkir teh untuk Leon dan asistennya.
"Terima kasih nona" seperti biasa hanya Roy yang berucap seperti itu pada Wilona,sedangkan Leon hanya diam saja.
"Baiklah nona Wilona kedatangan saya kali ini hanya untuk mengantarkan ini." Ujar Leon sambil menunjukkan goodie bag yang Wilona kenal
"Apakah ini milikmu nona? Karena saya menemukannya di taman tadi malam." Lanjut Leon
Wilona menatap Goodie bag itu dan meraihnya,lalu gadis itu pun melihat isinya. "Ya,ini milikku. Terima kasih karena sudah mengantarkannya." Jawab Wilona sambil mengambil teh miliknya dan menyesapnya. Lagi-lagi semua gerakan yang dilakukan oleh gadis itu tidak luput dari pengawasan Leon.
Ketika Leon masih menatap Wilona,tiba-tiba gadis itu pun mengalihkan tatapannya pada pria yang sedang duduk di hadapannya setelah menaruh cangkirnya di atas meja.
Deg
Seketika jantung Leon berdegup dengan kencang,ketika tatapan mereka saling beradu. Mata bulat jernih dengan bulu mata yang sangat lentik itu begitu membuat Leon merasa begitu tenang. Belum pernah pria itu mendapatkan tatapan menyenangkan dan damai itu,terakhir pria itu dapatkan ketika sedang menatap mamanya. Tapi,kini tatapan itu sudah tidak ia temukan lagi.
"Ehem"
Suara deheman dari Roy membuyarkan semua lamunan yang membuat Leon dan Wilona menjadi salah tingkah. Leon membenarkan posisi duduknya,Roy melirik ke arah jam tangan yang berada di sebelah tangan kirinya.
"Maaf tuan kita harus kembali ke kantor karena setelah jam makan siang akan ada meeting bersama pemegang saham." Ujar Roy
Leon menengok ke arah Roy dan mengangguk. "Baiklah nona Wilona,saya pamit undur diri. Terima kasih atas jamuannya."
"Sama-sama tuan" balas Wilona
"Kami pamit nona,permisi" ujar Roy sang asisten
"Silahkan tuan" jawab Wilona lagi dengan membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda hormatnya.
Leon dan asistennya keluar dari ruangan Wilona tanpa diantar oleh dirinya. Setelah mereka berdua keluar dari ruangan Wilona langsung mendudukkan dirinya,lututnya seakan tidak bertulang. Tangannya memegang dada sebelah kirinya,detak jantung yang dari tadi terus berdebar sangat kencang seakan sedang ber maraton di dalam membuat Wilona begitu gemetar. Ya,sejak kejadian tadi ketika tatapan mereka beradu degup jantung Wilona kembali bekerja sangat cepat. Dengan susah payah gadis itu menahan dirinya,gadis itu tidak ingin Leon tahu apa yang sedang dirasakannya
Setibanya Leon dan asistennya di dalam mobil,Leon kembali mengingat-ingat tentang rapat pemegang saham.
Roy hanya tersenyum "memang minggu depan tuan" jawab Roy santai
"Lalu,kenapa tadi kamu mengatakan kalau rapatnya hari ini?"
"Aku menyelamatkanmu dari rasa gugup yang sedang kamu rasakan itu kawan,hahaha."
Leon tercenung mendengar pernyataan dari Roy yang tidak lain sahabatnya sendiri. Leon memijat pangkal hidungnya,lalu ia pun ikut tertawa bersama Roy.
"Aish,kamu ini benar-benar asisten yang sangat pengertian,apa sebegitu jelasnya ya?"
"Tentu,kamu tidak bisa membodohiku Leon maka dari itu aku menjadi asisten pribadi mu,hahaha."
...*******...
Sore harinya Wilona sudah bersiap untuk ke makam kedua orang tuanya,taksi yang dipesan oleh gadis itu sudah tiba di depan butiknya. Wilona segera memasuki taksi dan memberikan alamat pemakaman kepada sopir taksi itu,taksi melaju membelah jalan,sore ini jalanan lumayan padat dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Sang sopir mengendarai taksi dengan kecepatan diatas rata-rata,sebelum tiba di makam kedua orang tuanya Wilona meminta sang sopir untuk mampir ke toko bunga. Wilona membeli beberapa bunga lily putih untuk ayah dan ibunya. Wilona sangat ingat sekali kalau kedua orang tuanya begitu sangat menyukai bunga lily putih karena warna putih pada umumnya memiliki arti suci dan bersih, seperti itu jugalah makna yang terkandung dalam bunga lily putih. Dengan kata lain, bunga lily putih mengandung makna kesucian, kemurnian, ketulusan, kemuliaan, kehidupan baru, dan persahabatan. Salah satu jenis bunga lily berwarna putih adalah Casablanca Lily yang terkenal anggun dan menawan. Kini Wilona sudah tiba di depan makam bertuliskan Mark Charlotte dan Erisa Charlotte,gadis itu menaruh bunga yang sedang dipegang olehnya ke atas makam kedua orang tuanya.
"Assalamualaikum ayah dan ibu,maaf Lona baru bisa datang hari ini." Ucap salam gadis itu di makam Mark dan Erisa. Gadis itu juga sesekali membersihkan batu nisan kedua orang tuanya. Tidak ada rumput atau dedaunan yang berserakan di makam Mark dan Erisa,karena memang setiap satu minggu sekali Wilona meminta penjaga makam untuk mencari seseorang yang mau membersihkan makam kedua orang tuanya.
"Ayah… Ibu… Lona rindu sama ayah dan ibu."
Air mata yang dari tadi gadis itu tahan kini tumpah dan jatuh membasahi kedua pipi Wilona. Wilona menangis di atas makam kedua orang tuanya,tangisan yang begitu memilukan. Seandainya ada seseorang yang bersamanya kini,mungkin orang itu juga akan menangis mendengar tangisannya. Beberapa tahun ini gadis itu selalu menanggung penderitaannya sendiri,ditinggal oleh kedua orang tuanya di usia enam belas tahun. Belum lagi harus menerima cibiran dari teman dan para tetangga yang selalu ingin tahu tentang kehidupannya,sahabat yang selalu menjadi tempat mencurahkan isi hatinya kini malah menikam dirinya dari belakang. Sampai saat ini pun Wilona tidak pernah tahu dibalik alasan Claudia begitu sangat membencinya. Tanpa Wilona sadari ada seorang pria yang sedang memperhatikannya di balik pohon beringin yang begitu lebat akar dan daunnya yang berada tepat di belakang Wilona hanya dibatasi tiga makam dari makam kedua orang tuanya. Karena rasa iba,akhirnya pria itu menghampiri Wilona yang masih terisak pilu. Ketika sedang berjalan menghampiri Wilona,tidak sengaja pria itu menginjak ranting pohon dan seketika itu juga Wilona mengusap air matanya dan menengok ke arah belakang. Wilona begitu terkejut dengan pria yang sudah berada di belakangnya,mata yang masih memerah karena habis menangis itu menatap pria yang sudah berada di hadapannya saat ini.
"Wilona"
"Kak Javier"
Mereka saling menatap satu sama lain,setelah itu mereka pun tersenyum. Ya,pria yang dari tadi memperhatikan Wilona adalah Javier sepupu dari Leon.
"Apa kabar?" Tanya Javier
"Alhamdulillah,kabarku baik-baik saja." Jawab Wilona
Javier mengernyitkan dahinya "kamu yakin kalau kamu baik-baik saja? Lalu,yang menangis tadi siapa ya? Apakah hantu?" Tanya Javier sambil mengejek gadis di hadapannya ini
Wilona seketika merubah raut wajahnya menjadi kaku,gadis itu menatap Javier dengan tatapan yang sangat tajam,lalu gadis itu mencebikkan bibirnya.
"Cih,dasar tukang nguping" ujar Wilona yang masih mengerucutkan bibirnya.
Javier tergelak dengan tawa yang cukup kencang,gadis yang ada di hadapannya ini benar-benar membuat gemas dirinya. Sejak dulu memang Javier selalu suka menjahili Wilona,sampai-sampai gadis itu tidak mau bertemu dengan Javier lagi karena keusilannya itu.
"Kamu tidak pernah berubah ya,masih saja suka membuat aku gemas sama kamu." Ujar Javier sambil mengacak rambut Wilona.
"Iiihhh,kakak juga kebiasaan masih aja suka berantakin rambut aku." Jawab kesal Wilona sambil merapikan rambutnya yang sudah diacak-acak oleh Javier.