WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
39. Luka Hati



Wilona terbangun dari tidurnya di tengah malam,gadia itu memandangi wajah Leon yang ada di hadapannya. Wilona benar-benar sangat mengagumi pria yang ada di hadapannya itu,bahkan dirinya selalu mengikuti apa kata hatinya untuk tetap berada di sisi Leon. Walaupun pria itu selalu membuatnya sakit hati atas setiap tuduhan dan ucapan yang selalu dilontarkan olehnya,namun Wilona selalu bersabar dalam menghadapi sikap Leon. 


Wilona mengecek suhu tubuh Leon yang sudah mulai turun dan mungkin besok sudah membaik. 


"Syukurlah demamnya sudah turun" gumam Wilona


Wilona kembali mencoba melepaskan pelukan Leon agar dirinya dapat bangun dari posisinya. Tapi,bukannya terlepas  pelukan Leon semakin erat dan membuat Wilona tidak mempunyai pilihan selain larut dalam suasana yang Leon ciptakan untuknya dan dirinya kembali memejamkan mata menikmati kehangatan dari pelukan suaminya. 


Leon mendengar ponselnya berdering,pria itu pun akhirnya bangun dari tidurnya. Leon bangun tergesah dan baru menyadari posisinya dan ada seseorang yang memeluk dirinya. Leon terkejut dan segera melepaskan pelukan Wilona dengan sangat kasar dan langsung mendorong tubuh Wilona,sehingga gadis itu terjatuh ke bawah kasur dengan tangan menahan tubuhnya sehingga sedikit merasakan sakit pada pergelangan tangannya. 


"Aww.." rintih Wilona saat terjatuh 


"Apa yang kamu lakukan di kamarku? Dasar wanita jala**" tanya Leon langsung dengan nada tinggi


"Semalam suhu badanmu tinggi,semalam kamu demam dan kamu…." jawab Wilona 


"Terus kalau aku sakit kamu bebas melakukan apapun,gitu? Ingat batasanmu Wilona,kamu disini hanya istri diatas kertas saja selama dua bulan. Jangan menambah nilai cap murahan lagi dalam hidupmu nona Wilona." Leon langsung memotong pembicaraan Wilona mencaci Wilona tanpa mau mendengarkan cerita yang sebenarnya. 


"Maaf" hanya kata itu yang Wilona katakan setelah mendengar perkataan Leon yang sangat menyakiti hatinya. 


Wilona langsung meninggalkan Leon sendiri di kamar dan segera menuju kamar Wilona untuk bergegas pergi ke butik. Wilona keluar sambil terus memegang pergelangan tangannya dan aksi itu tidak luput dari pengamatan Leon yang terus menatap punggung Wilona saat keluar dari pintu balkon.


"Kenapa dengan tangannya? Apa tadi aku mendorongnya terlalu kencang?" Tanya Leon dalam hatinya


Leon tidak ingin mengambil pusing soal pergelangan tangan Wilona. Setelah Wilona sudah siap untuk ke butik dirinya langsung pergi meninggalkan penthouse milik Leon tanpa membuatkan Leon sarapan terlebih dahulu. 


Leon sudah bersiap dengan setelan kerjanya,pria itu menuruni anak tangga sambil berteriak memanggil nama Wilona. Tubuhnya terasa sudah sangat segar,maka dari itu dirinya sudah siap untuk ke kantor lagi. 


"Wilona…" 


"Wilona…" 


"Selamat pagi tuan Leon" ujar seseorang 


"Oh,bibi Mei. Apakah kamu melihat Wilona,istri saya?" Tanya Leon pada bibi Mei 


Mei pun menggeleng "tidak tuan,dari sejak bibi masuk sini tidak ada siapa-siapa di penthouse ini." Jawab mei 


"Baiklah bi,kalau begitu saya berangkat dulu." Ucap Leon sambil melangkah keluar. 


Leon pun pergi menuju kantor,dengan mengendarai mobilnya sendiri. Dalam perjalanan dirinya sekilas melihat Wilona yang sedang duduk di sebuah restoran. 


"Apakah tadi itu Wilona?" Tanyanya pada diri sendiri


Leon langsung memutar balik untuk memastikan bahwa itu benar Wilona. Jika benar dirinya akan sarapan bersama gadis itu di sana.


Setibanya Leon langsung memarkirkan mobilnya di depan restoran,dan benar dugaannya bahwa itu adalah Wilona.


Leon duduk di hadapan Wilona,tentu itu membuat Wilona menjadi terkejut karena kedatangan Leon yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya. 


"Leon" gumam Wilona 


Leon menatap tajam ke arah Wilona hingga tatapannya beralih ke arah pergelangan tangan Wilona yang berbalut dengan sebuah kain berwarna coklat.


"Kenapa kamu diam nona Wilona?" Leon kembali bertanya karena dirinya sudah sangat geram terhadap Wilona yang hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya. 


Wilona menatap ke arah Leon "apakah kamu datang kesini hanya ingin berdebat lagi denganku di tempat umum?" Tanya Wilona kembali dan membuat Leon sedikit tercengang.


"Jangan mempermalukan dirimu tuan Leon,kalau aku sudah biasa dipermalukan di tempat umum. Tapi,dirimu.. apakah sudah siap jika suatu saat ada media menginput tentang perdebatan kita disini tuan Leon? Aku menghargai privasi dirimu tuan,jadi saat ini sebaiknya anda menikmati saja sarapan pagi ini. Aku  tahu anda belum sarapan pagi ini,silahkan." Wilona melanjutkan menjawab pertanyaan Leon dengan sambil menyodorkan kue tiramisu dan teh hijau miliknya. 


Lagi-lagi Leon dibuat tercengang oleh perkataan Wilona,benar apa yang dikatakan oleh gadis yang berada di hadapannya itu. Bagaimanapun juga dirinya tidak ingin mendengar berbagai berita tentang kehidupan rumah tangganya. Leon menatap cake dan teh hijau yang ada di meja. Tak lama dirinya memanggil salah seorang pelayan dan meminta menu yang sama dengan milik Wilona. 


"Kamu makanlah,aku sudah memesan pesananku." 


"Baiklah" jawab Wilona dengan acuh


Wilona segera mengambil sendok untuk memotong kue tersebut. Namun,potongan kue tersebut bukan untuk dirinya melainkan disodorkannya ke arah Leon. Lagi-lagi Leon tercengang dengan apa yang dilakukan oleh Wilona. 


"Aaa… ayo,buka mulutmu." Ujar Wilona dan langsung mendapat gelangan kepala dari Leon. 


"Ayolah satu suapan saja,semalam kamu mau aku suapi." Ujar Wilona yang masih menyodorkan potongan kue pada Leon dan dengan sangat terpaksa Leon menerima suapan tersebut. Wilona tersenyum karena Leon mau memakan kue itu. 


"Apakah semalam aku benar-benar sakit?" Pertanyaan Leon membuat Wilona menghentikan gerakannya untuk memakan kue tiramisu itu. 


"Kamu tidak percaya? Apakah saat ini kamu berpikir aku mengada-ngada?" 


"Tidak bukan itu maksudku,hanya saja…." 


"Kamu bisa bertanya pada Roy dan dokter cantik. Karena semalam mereka datang untuk melihat dirimu." Wilona menjawab dengan memotong ucapan Leon. 


Seorang pelayan datang dengan membawakan pesanan Leon. 


"Silahkan tuan" ujar pelayan tersebut


"Terima kasih" jawab Leon


Pelayan tersebut undur diri dan Leon kembali bertanya pada Wilona. 


"Dokter cantik? Siapa?" Tanya Leon 


"Jessica" jawab Wilona singkat 


Leon mengerutkan dahinya "Jessica?" Gumam Leon dan masih dapat didengar oleh Wilona.


"Makanlah kue mu Leon,karena aku akan segera pergi ke butik." 


Leon menatap Wilona "aku antar,tidak ada penolakan." 


Wilona hanya memutar matanya saja dirinya benar-benar sudah sangat lelah berdebat dengan Leon. 


Leon menikmati sarapan paginya dengan nikmat,sesekali dirinya mencuri pandang pada gadis yang sudah menjadi istrinya itu. Sebenarnya Leon sangat bingung dengan dirinya sendiri,saat bersama Wilona dirinya merasakan tenang dan ada desiran aneh menjalar ke jantungnya. Jantungnya selalu berdegup kencang saat berhadapan dengan Wilona,maka dari itu dirinya sering marah-marah tidak jelas terhadap Wilona.