WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
45. Janji Coklat



Maxim sedang bermain bersama anak seumuran dirinya di sebuah taman dengan banyaknya permainan untuk menghibur anak-anak. Tawa dan teriakan dari para anak-anak yang sedang bermain itu meramaikan suasana taman yang awalnya sepi kini menjadi ramai dengan anak-anak.


Claudia duduk bersebelahan dengan Wilona sambil mengawasi Maxim. Sesekali seulas senyum terbit di wajah mereka saat melihat Maxim tertawa karena bercanda dengan teman-temannya. 


Wilona menoleh pada wanita yang berada di sebelah kanannya itu. "Claudia" panggil Wilona pelan. 


Claudia pun menoleh dengan masih menatap sinis." Kenapa?" Tanya Claudia ketus.


"Jadi,Maxim benar putramu?" tanya Wilona 


"Ya" jawab singkat Claudia. 


"Siapa ayahnya?" Tanya Wilona kembali. 


Claudia langsung membalikkan tubuhnya ke samping dan menatap Wilona tajam. "Apakah kamu sangat ingin tahu tentang kehidupanku sekarang ini nona Charlotte?" Claudia malah balik bertanya pada Wilona. 


"Maaf" ucap Wilona yang masih menatap Claudia dengan senyuman yang merekah di wajahnya.  Wilona memilih untuk tidak membahas hal itu. Karena dia tidak ingin Claudia semakin membencinya.


"Cih…" kesal Claudia


Wilona kembali menundukkan kepalanya sebentar dan mendongak ke atas langit-langit yang tertutup pohon dengan dedaunan  yang lebat. 


"Claudia,mungkin ini terlambat bagiku untuk meminta maaf padamu. Maafkan aku yang sudah membuat dirimu kesal kepadaku hingga dirimu begitu sangat membenciku. Aku juga minta maaf atas pernikahanku dengan Leon." Ucapan yang dikatakan Wilona membuat Claudia terdiam. 


"Kamu sudah tahu kan kalau Leon itu mencintaiku. Tapi,kenapa kamu malah menjebaknya dengan cara murahan seperti itu? Kamu senang kan ketika tuan Averus meminta Leon untuk menikahimu?" Ujar Claudia yang mencecar beberapa pertanyaan yang membuat Wilona semakin merasa bersalah pada temannya itu. 


"Kami akan bercerai,maka dari itu aku harap kamu dapat bersabar menunggu Leon dalam lima minggu kedepan. Ketika pernikahan kami genap berusia dua bulan,kami akan bercerai. Aku berjanji tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi dan aku akan pergi dari kehidupan kalian." Jawab Wilona dengan senyum terpaksa dan nada bicara yang begitu getir. 


Claudia yang mendengar bahwa Leon dan Wilona akan bercerai merasakan sesuatu hal yang cukup aneh pada hatinya. Bukankah seharusnya dirinya senang karena Leon akan menceraikan Wilona dan itu artinya peluang besar untuk menggantikan posisi Wilona untuk menjadi istri Leon akan terlaksana. Tapi,entah kenapa ada rasa tidak senang dan sedih saat mendengar mereka akan bercerai.


Claudia menatap sendu ke arah Wilona yang masih menatap lurus ke arah dimana Maxim sedang bermain. "Bukankah kamu mencintai Leon?" 


 


Wilona tersenyum getir "ya,aku memang mencintai Leon. Tapi tidak dengannya,Leon mencintai dirimu. Aku tidak ingin menjadi wanita yang egois dengan merusak kebahagiaan seseorang dan memaksa orang itu untuk mencintaiku. Melepaskan daripada memaksakan,Ikhlaskan daripada menyakitkan dan relakan daripada berjuang sendirian. Aku tidak ingin menjalani pernikahan yang hanya diriku saja yang berjuang. Semakin lama berusaha bertahan pada cinta yang bertepuk sebelah tangan, maka kita akan makin mencintai sedangkan dia makin jual mahal. Maka, keputusan paling tepat adalah mundur seketika. Berjuang untuk orang yang tidak mencintai kita itu sulit berhasil, kecuali dia merasakan lebih dulu rasa kehilangan." Ujar Wilona getir dengan pandangan nya yang masih menatap lurus ke depan. 


"Wilona" ucap lirih Claudia dalam hatinya.


"Claudia, maukah kamu berjanji padaku?" Wilona langsung menatap wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu. 


"Apa?" Tanya kembali 


Wilona tersenyum "berjanjilah untuk selalu menemani dan berada di sisi Leon hingga maut memisahkan kalian. Berjanjilah untuk selalu membahagiakan Leon." Ujar Wilona. 


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Tanya Claudia dengan memicingkan matanya. 


Wilona melihat ke arah Claudia,lalu gadis itu pun tersenyum "karena setelah bercerai aku tidak akan tinggal disini,seperti yang aku ucapkan padamu tadi. Aku akan pergi dari kehidupan kalian dan tidak akan mengganggu kalian lagi." Jawabnya yang masih tersenyum lepas seperti biasa. 


Ponsel Wilona bergetar menandakan panggilan masuk. Rose menghubungi Wilona karena dirinya begitu sangat kuatir terhadap keponakannya itu. 


"Halo,bi" ucap Wilona


"Kamu dimana sayang,kenapa jam segini belum kembali?" Tanya Rose dengan rasa kuatirnya.


"Baiklah,tapi kamu tidak apa-apa kan?" 


"Tidak,bi aku baik-baik saja." 


"Syukurlah kalau begitu,bibi tunggu kamu dirumah. Bye sayang." 


"Bye bi." 


Panggilan pun berakhir,Wilona memasukkan ponselnya ke dalam saku hoodie nya.


"Aku pamit ya,kapan-kapan mainlah kerumah atau ke butik ku. Nanti akan ku buatkan dress untukmu dan Maxim." Ucap Wilona dengan tulus. 


"Ya,kalau ada waktu aku akan mampir ke butikmu." Jawab Claudia yang masih memasang wajah datar tanpa membalas senyuman dari Wilona. 


"Oke,aku tunggu bye." Ujar Wilona sambil melambaikan tangannya. 


Wilona berjalan menuju arah dimana Maxim berada. 


"Maxim" teriak Wilona memanggil putra Claudia,sedangkan Claudia hanya memperhatikan dari tempat duduknya.


Maxim menghampiri Wilona dengan berlari "jangan berlari nanti kamu jatuh" ujar Wilona. 


"Tante memanggilku? Ada apa?" Tanya Maxim


Wilona berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Maxim. "Tante ingin pulang,Maxim kapan-kapan ajaklah mommy mu main kerumah tante. Nanti tante akan buatkan makanan spesial untuk Maxim." Ujar Wilona sambil mengusap kepala anak itu.


"Oke,nanti Max akan mengajak mommy untuk main ke rumah tante." Jawab Max.


Lagi-lagi Wilona tersenyum "Max,mau berjanji sama tante?" Tanya Wilona dengan sangat hati-hati karena dirinya sedang berbincang dengan seorang anak kecil bahkan mungkin belum paham apapun. Tapi berbeda dengan Max,anak itu sepertinya memiliki sikap dewasa sebelum waktunya.


Max mengangguk "janji apa tante?" Tanya Max kembali.


"Berjanjilah untuk selalu menjaga mommy mu dan menjadi anak kebanggaan mommy yang selalu mendengarkan kata mommy. Jangan menjadi anak yang tidak patuh pada mommy,jadilah anak yang manis seperti coklat ini." Jawab Wilona sambil memberikan coklat pada Max. 


"Wah,coklat… terima kasih tante." Karena merasa sangat bahagia Max langsung memeluk Wilona. 


"Max mau berjanji kan?" 


Max mengangguk di sela pelukan mereka "Max janji coklat" jawabnya. 


Wilona tertawa dan mengeratkan pelukannya,seakan dirinya tidak ingin berjauhan dengan Max. Claudia memperhatikan kegiatan mereka,seulas senyum terbit di wajah wanita itu. 


Wilona berpamitan pada Max dengan berjalan sambil melambaikan tangannya pada Max. Sepeninggalnya Wilona Claudia menghampiri putranya dan mengajak Max untuk pulang. 


Di perjalanan pulang Wilona sedang menunggu bus yang biasa ditumpanginya. Tapi,saat ingin menyeberang untuk menuju halte yang dekat dengan taman, sebuah mobil hitam dengan kecepatan tinggi melaju cukup kencang. 


Brak…


Tubuh Wilona terpental cukup jauh,darah segar mengalir di sekujur tubuhnya. Claudia menyaksikan bagaimana tubuh Wilona terpental jauh karena mobil yang menabrak gadis itu. 


"Wilona……." Teriak Claudia,wanita itu berlari tergopoh-gopoh sambil menggendong putranya.