WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
46. Kecelakaan



Brak…


Tubuh Wilona terpental cukup jauh,darah segar mengalir di sekujur tubuhnya. Claudia menyaksikan bagaimana tubuh Wilona terpental jauh karena mobil yang menabrak gadis itu. 


"Wilona……." Teriak Claudia,wanita itu berlari tergopoh-gopoh sambil menggendong putranya. 


Semua orang ramai mengerumuni tempat kejadian perkara. Ternyata Wilona tidak sendiri,sebelum mobil menabrak dirinya ada seseorang yang melindungi diri Wilona. Namun,naas mobil itu terlalu kencang jadi orang yang berniat melindungi Wilona dan Wilona sendiri pun sama-sama tertabrak. Tubuh mereka segera dibawa kerumah sakit tanpa harus menunggu ambulan. Claudia dan Max terus menangis dan mengusap wajah Wilona yang terus mengeluarkan darah dari kepalanya. 


Banyak orang-orang berdatangan untuk melihat kondisi Wilona dan seorang pria asing yang berusaha menyelamatkan dirinya itu yang sedang terkapar di jalan yang beraspal. 


Claudia mendekati tubuh Wilona "tolong jangan hanya menonton saja,tolong hubungi ambulan. Cepat….!!!" Teriakan Claudia menyadarkan orang-orang yang dari tadi hanya menonton saja. 


Selagi menunggu ambulan datang,Claudia berusaha menghentikan pendarahan di bagian kaki Wilona dengan mantel yang dikenakannya.


Lima menit kemudian sirine ambulan mulai terdengar,sepertinya petugas medis bertindak dengan cepat. Dua unit mobil ambulan datang mendekat dan dua petugas medis langsung turun dari masing-masing ambulan. Mereka menurunkan tandu dari dalam mobil dan meletakkannya di sebelah Wilona dan pria asing itu. 


Kemudian mereka melakukan prosedur pertolongan pertama. Setelah memastikan Wilona dan satu korban lagi dalam kondisi tidak sadarkan diri para petugas memasang nebulizer di hidung Wilona dan juga pria asing itu sebagai alat bantu pernapasan. Lalu,mereka dengan sangat hati-hati memindahkan tubuh Wilona ke tandu. 


Wilona dan pria asing itu dibawa masuk kedalam ambulan,Claudia ikut masuk kedalam mobil ambulan bersama Wilona. 


"Wilona bertahanlah" lirih Claudia dengan memegang tangan Wilona dan memeluk Max yang masih menangis tanpa bersuara melihat tubuh tantenya yang bersimbah darah.


Di dalam ambulan para petugas mulai memasang peralatan  pada tubuh Wilona sehingga mereka bisa memantau keadaan vital Wilona melalui monitor EKG. Mereka memeriksa kondisi pernapasan Wilona yang mulai tampak melemah.


Dari monitor EKG terlihat tekanan darah dan detak jantung Wilona yang mulai menurun. Petugas medis berusaha menekan-nekan dada Wilona untuk menstabilkan dan mengembalikan detak jantungnya. 


"Pasien dalam keadaan kritis,sebaiknya kita segera ke rumah sakit." Ujar salah satu petugas medis.


"Tolong selamatkan sahabat saya dan juga pria itu." 


"Kami akan mengusahakan nona,sebaiknya anda ikut dengan kami."


Claudia menurut dan segera mereka bersiap menuju rumah sakit. Ambulan menuju rumah sakit terdekat dan setibanya di rumah sakit petugas medis turun dan membawa Wilona ke UGD. Petugas itu menceritakan semua kondisi Wilona pada dokter yang bertugas,termasuk juga status dari Wilona. Claudia mengatakan bahwa Wilona adalah menantu dari keluarga Averus yang tidak lain istri dari Leon Averus Aksara. 


Tampak beberapa dokter langsung menangani Wilona dengan cekatan. Mereka memeriksa kondisi vital Wilona dengan begitu sangat teliti. Mereka tidak ingin melakukan kesalahan mengingat siapa Wilona yang sebenarnya. 


"Siapa wali dari kedua pasien ini?" 


Claudia yang sedang menggendong Max akhirnya maju ke depan. "Saya dokter"


"Maaf,anda siapanya pasien nona?" 


"Saya sahabatnya,dokter." 


"Saya butuh keluarga dari nona Wilona dan juga pria yang belum kami ketahui identitasnya itu,karena kondisi kedua pasien kami saat ini sangat kritis. Untuk nona Wilona sendiri kehilangan darah hampir 50% dan kami juga harus segera melakukan operasi pada mereka. Nona Wilona sendiri mengalami patah kaki dan pasien juga mengalami trauma pada bagian kepala dan leher karena benturan ringan dan kemungkinan besar pada saat pasien sadarkan diri beliau akan mengalami amnesia." Penjelasan dokter cukup membuat tubuh Claudia terhuyung karena begitu shock dengan apa yang didengarnya. 


"Saya mohon selamatkan sahabat saya dan segera lakukan operasinya dokter. Saya akan segera menghubungi keluarganya." Ucap Claudia yang masih menggendong Maxim yang sudah terlelap di pelukan mommy nya. 


Tiga puluh menit kemudian keluarga Averus dan juga Rose sudah datang. Tampak juga asisten Roy dan beberapa pengawal,mereka datang bersamaan. Claudia berdiri dari duduknya saat melihat Averus dan yang lainnya berjalan ke arah Claudia. 


"Bagaimana keadaan kakak iparku,Claudia?" Tanya Grace langsung 


"Apa yang sebenarnya terjadi,Claudia?" Kini Rose juga bersuara mempertanyakan perihal kejadian yang menimpa keponakannya. 


"Ssshhh…. Rose tenanglah,semuanya akan baik-baik saja. Sebaiknya kita berdoa agar semua berjalan lancar dan Wilona mampu melewati masa kritisnya." Ucap Averus dengan memeluk tubuh wanita pujaannya itu. 


"Bagaimana aku bisa tenan,Av? Wilona adalah satu-satunya  keluarga yang kumiliki,Wilona…. Jangan tinggalkan bibi,nak. Jangan tinggalkan kami….!!!" Akhirnya tangis Rose pecah,wanita itu menangis terisak begitu memilukan. 


"Roy,tangani semua prosedurnya dan lakukan operasi secepat mungkin dan segera beritahu Javier tentang kondisi Wilona dan juga Leon." Perintah Averus oada Roy 


"Baik tuan." Roy pergi ke bagian administrasi dan mengurus prosedur pengooerasian. Sementara Claudia masih berdiam diri tidak dapat berkata apapun lagi.


"Claudia,saya mohon ceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi." Ucap Averus.


Claudia menceritakan semua yang dirinya tahu,dari awal pertemuan mereka di sebuah taman sampai Claudia melihat sendiri bagaimana tubuh Wilona dan pria asing itu terpental cukup jauh.


"Apa kamu melihat nomor seri mobil itu?" Tanya grace dan dijawab gelengan kepala oleh Claudia. 


"Gabriel kamu tahu apa yang harus kamu lakukan,nak. Tolong kamu cari tahu siapa yang menabrak Wilona dan cari tahu juga siapa pria yang sudah berusaha menyelamatkan putriku." 


"Baik pah,Gabriel akan mengerahkan seluruh anak buah Gabriel." Jawab Gabriel dan dirinya segera menghubungi anak buahnya untuk meretas seluruh CCTV yang ada di jalan tempat dimana Wilona tertabrak.


Disaat semuanya sedang melamun memikirkan kondisi Wilona dan Leon yang sulit dihubungi,suara anak kecil mengalihkan mereka. 


"Mommy…" ucap Maxim dengan suara yang parau sehabis bangun tidur. 


Claudia menghampiri putranya dan duduk disebelahnya. "Ada apa nak?" Tanya Claudia dengan sangat lembut sambil mengusap kepala putranya. 


"Dimana tante cantik?" Tanya kembali Max


Grace menghampiri Claudia dan juga Max,berbagai macam pikiran berselancar pada kepalanya saat ini.


Grace berjongkok di depan Maxim,"hai tampan,siapa namamu?" Tanya grace dengan tersenyum.


"Maxim" jawabnya singkat. 


"Apa benar dia putramu Claudia?" Tanya Grace yang masih terus mengamati wajah Maxim tanpa menatap kearah Claudia sedikit pun.


"Ya" jawab singkat Claudia dengan suara yang sedikit tercekat. 


Rose yang hanya menyimak perbincangan antara Grace dan Claudia pun kini bersuara. 


"Bukankah kamu belum menikah,Claudia?" Pertanyaan Rose membuat semua yang menunggu Wilona di depan ruangan tersebut menatap Claudia dengan rasa keingintahuannya. Terutama Averus,pria itu tahu kalau Claudia itu adalah kekasih dari Leon. Tapi,dirinya tidak menyangka kalau Claudia sudah memiliki seorang putra.