
Leon masih berada di ruangan Gabriel bersama dengan Grace sang adik. Leon menatap kedua suami istri yang berada di hadapannya itu sebelum dirinya mengatakan tujuannya untuk datang ke kantor Gabriel.
"Sebenarnya kedatanganku kesini karena ada beberapa hal yang ingin aku ketahui tentang Wilona." Ucapan Leon berhasil membuat Grace dan Gabriel tercengang.
"Wilona?" Tanya Grace dengan mengernyitkan kedua alisnya dan Leon hanya menganggukkan kepalanya.
"Memangnya apa yang kakak ingin tahu tentang sahabatku itu?" Tanya kembali Grace pada Leon.
Leon menatap Grace yang sedang memasang wajah penasarannya "kakak ingin tahu lebih dalam tentang istri kakak itu. Apakah salah jika kakak ingin mengenalnya lebih dalam lagi?" Tanya Leon lagi.
"Tidak salah,hanya seharusnya kakak lebih mengenal Wilona itu langsung pada orangnya. Bukan pada kami,terutama diriku." Jawab Grace dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Tapi,kamu kan sahabat Wilona,Grace." Ujar Leon kembali
Grace mengangguk "ya,memang Wilona sahabatku. Tapi,apakah kakak akan percaya jika aku mengatakan semua hal yang aku ketahui tentang Wilona?" Tanya Grace
Di sela perbincangan antara Leon dan Grace,Gabriel berdiri dan menuju ke arah laci meja dan mengambil sebuah map berwarna merah.
Gabriel membuka map itu dan memberikannya pada Leon.
Leon mengernyitkan dahinya "apa?" Tanya Leon pada Gabriel yang sedang menyerahkan sebuah map berwarna merah tersebut.
"Kamu baca saja,semua jawaban ada disana." Jawab Gabriel. "Jika ada yang kamu tidak ketahui dengan jelas kamu bisa tanyakan pada Grace." Lanjut Gabriel lagi.
Leon kembali membaca berkas yang berada di map merah tersebut dengan begitu teliti,dirinya tidak ingin melewatkan hal-hal kecil sedikitpun tentang Wilona.
"Kenapa kamu waktu itu memberikan data tentang Wilona tidak sedetail seperti ini,Gabriel?" Tanya Leon dengan sangat geram sambil menunjuk ke aram map itu.
"Aku yang meminta Gabriel memberikan kakak informasi tentang Wilona dengan tidak lengkap." Jawab Grace dengan sangat santai sambil menyesap teh manis yang sudah hampir dingin itu.
"Tapi,kenapa kamu lakukan itu Grace?" Ujar Leon dengan sangat bingung dengan apa yang dilakukan adiknya itu.
"Aku memang sengaja melakukan itu,karena aku ingin melihat kakak bersikap dewasa dan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bagi kakak. Tapi,ternyata aku salah. Kakak malahan semakin mempercayai semua omongan diluaran sana tentang berita Wilona,tanpa mengetahui berita itu benar atau tidak." Pernyataan Grace membuat Leon terdiam dan memikirkan perkataan Grace.
"Setidaknya kalian memberitahuku sedikit saja tentang Wilona,tidak seperti sekarang. Jujur saja aku sangat menyesal sudah menorehkan dan menambah luka pada hatinya." Jawab Leon dengan rasa menyesal.
Grace dan Gabriel saling menatap,lalu mereka melihat ke arah Leon kembali. "Kakak bisa memperbaiki hubungan kakak dengan Wilona. Aku sangat mengenal Wilona,dirinya pasti akan memaafkan kakak."
Ponsel Leon berdering sebelum dirinya sempat membalas ucapan dari sang adik. Leon meraih ponsel yang berada di saku jasnya.
Papa calling…
Leon mengernyitkan dahinya "ada apa papa menghubungiku?" Gumam Leon dalam hatinya.
"Assalamualaikum" jawab Leon
"Waalaikumsalam" balas salam dari papa di sambungan telepon.
"Leon kamu harus segera ke perusahaan cabang di negara K." Lanjut Averus berucap.
"Apa? Kenapa mendadak seperti ini,pa?" Tanya Leon yang terkejut.
Averus dirawat karena darah rendahnya kembali kumat setelah satu hari pernikahan Leon dan Wilona. Sehingga Averus harus dilarikan ke rumah sakit saat itu juga.
"Baiklah pa,Leon akan berangkat sekarang juga. Tapi,bagaimana dengan Wilona?"
"Asisten papa sudah memberitahukannya,nanti kamu akan berangkat dengan asisten papa"
"Baiklah Leon akan berangkat sekarang."
"Bagus,kamu memang selalu bisa papa andalkan. Kamu bisa langsung menuju bandara saja. Disana asisten papa akan menunggumu,kalian kesana dengan menggunakan jet pribadi."
"Oke,Leon berangkat sekarang. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Panggilan pun akhirnya berakhir dan Leon segera berpamitan kepada Gabriel dan Grace untuk segera melakukan perjalanan bisnisnya di negara K.
Leon berjalan meninggalkan perusahaan Gabriel dengan perasaan yang gelisah memikirkan Wilona. Dalam beberapa waktu ini Leon tidak akan bertemu dengan Wilona dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Begitupun dengan Claudia,dirinya tidak akan bisa bersama dengan Leon untuk menghabiskan kebersamaan mereka di waktu weekend tiba.
Leon tiba di lapangan bandara udara khusus keluarga Averus. Disana sang asisten papanya Leon sudah menunggu dan menyambut kedatangan Leon.
"Bagaimana dengan persiapannya,John?" Tanya Leon pada Johnny asisten Averus yang usianya masih terbilang muda,Johnny adalah putra dari asisten Averus terdahulu. Bisa dikatakan Johnny baru menjabat sebagai asisten Averus sejak satu tahun ini setelah ayahnya mengundurkan diri.
"Semuanya sudah siap tuan." Jawab Johnny singkat,padat,terpercaya dan akurat…. Eeeaaaaa…
"Baguslah,mohon kerjasamanya selama kita berada di negara K." Ucap Leon sambil tersenyum pada Johnny dan dibalas anggukan serta senyum yang tipis oleh Johnny.
"Tentu tuan saya akan berusaha membantu anda dalam menyelesaikan tugas di sana." Jawab Johnny lagi.
Leon mengangguk dan sesekali dirinya melihat ponsel yang dari tadi dirinya pegang. Sebuah kontak nama tercetak jelas pada kontak Leon. Dirinya ingin sekali menghubungi Wilona,tapi rasa tidak enak hati dan ragu membuat Leon mengurungkan niatnya. Dengan cepat Leon pun kembali menaruh ponselnya ke dalam saku jasnya,karena penerbangan juga akan segera diberangkatkan.
...*******...
Dirumah sakit Averus sedang ditemani oleh Rose dan juga Wilona.
"Leon sudah berangkat?" Tanya Rose pada Averus.
"Ya,setelah diriku menghubunginya dan memintanya untuk ke negara K. Leon langsung berangkat" jawab Averus sambil menatap Rose dan juga Wilona. "Wilona,maafkan papa yang dengan sangat terpaksa meminta Leon untuk berangkat ke negara K tanpa memberitahukan dirimu sebelumnya." Lanjut Averus yang masih menatap Wilona.
Wilona dan Rose memang sedang berada di rumah sakit saat Averus menghubungi Leon untuk melakukan tugas dadakan di negara K,kedua wanita itu ada disana karena mendapat kabar bahwa Averus dilarikan ke rumah sakit tadi malam.
Wilona tersenyum mendengar ucapan sang papa mertua. "Tenang saja pa,aku mengerti dengan kondisi ini kok. Papa tidak perlu khawatirkan diriku,cepatlah sembuh agar papa dan bibi bisa secepatnya melangsungkan pernikahan kalian." Jawab Wilona
Ucapan Wilona membuat pipi Rose kembali merona dan itu tidak luput dari pengawasan Averus.
Averus tersenyum geli melihat tingkah Rose tang malu-malu seperti itu. "Tentu papa akan sembuh dan akan langsung melaksanakan acara pernikahan kami,setelah Leon kembali dari misinya kali ini." Lagi-lagi ucapan Averus membuat Rose terpesona.
Rose menatap Averus dengan penuh cinta dan kasih sayang,begitupun dengan Averus yang selalu merindukan wanitanya itu. Wilona tersenyum melihat dua manusia yang sedang di mabuk cinta itu,memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang kalau cinta itu tidak pernah memandang usia.