WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
14. LONA'S BOUTIQUE



Grace yang baru tiba di kampus segera mencari sahabatnya itu,sudah hampir seluruh kampus ditelusuri oleh gadis itu. 


"Aish,apa dia belum datang?" Ujar Grace sambil melirik jam tangannya,karena cukup gelisah akhirnya Grace meraih ponselnya untuk menghubungi Wilona. Baru saja gadis itu menekan tombol ikon berwarna hijau tiba-tiba Grace dikejutkan dengan kehadiran Wilona dari arah belakang


"Dor" 


Saking terkejutnya Grace karena ulah Wilona ponsel yang sedang ia pegang pun hampir terjatuh,jika Wilona tidak sigap dalam menangkapnya. 


"Iissh,kamu tuh ya" kesal Grace sambil mencubit Wilona


"Hahaha,ampun… Aww,sakit" 


"Siapa suruh ngagetin aku kaya gitu" sungut Grace 


"Haha,iya maaf gak lagi-lagi deh ngagetin calon pengantin." Jawab Wilona yang masih tertawa 


Tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan keakraban mereka di balik tembok dekat taman kampus. Orang itu mengepalkan tangannya karena kesal melihat Wilona yang begitu akrab dengan Grace. Siapa lagi kalau bukan Claudia,sebenarnya Claudia berniat menghampiri Grace dan ingin berbicara dengannya. Tapi,keburu Wilona datang dan merusak rencana Claudia. Gadis itu pergi meninggalkan tempat itu dengan rasa kesal yang membuncah dirinya. Bagaimanapun juga Claudia harus bisa menghasut Grace agar tidak berteman dengan Wilona. 


"Sudahlah aku mau ke kantin,tadi di rumah belum sempat sarapan." Ajak Grace yang sudah ingin menarik tangan sahabatnya itu,tapi ditahan oleh Wilona sendiri. 


"Tidak perlu ke kantin aku membawakanmu sarapan" jawab Wilona sambil mengeluarkan kotak bekal makanan dan memberikannya pada Grace. 


"Wow,bahagianya aku memiliki sahabat seperti dirimu Wilona,haha." 


"Cih,giliran tadi aja marah-marah pas dapet makanan aja langsung baik." Ujar Wilona sambil mencebikkan bibirnya


"Hahaha… Siapa yang akan menolak makanan yang sudah didepan mata? Mungkin orang lain bisa seperti itu,tapi tidak berlaku dengan diriku." 


"Dasar kamu ya… Cepat habiskan sebentar lagi kita akan masuk ke kelas." 


Grace tidak menjawab karena mulutnya sudah penuh dengan sandwich yang dibawakan oleh Wilona,gadis itu hanya mengangguk dan mengacungkan jempol kirinya. 


Setelah Grace menyelesaikan sarapannya,mereka segera masuk kedalam kelas. 


"Lona" panggil Grace


"Ya" 


"Habis ini kamu akan kemana?" Tanya Grace kembali


"Mmm,aku harus ke butik untuk mengambil beberapa bahan yang dibutuhkan oleh bibi Rose. Semalam aku meninggalkannya di taman." Ujar lirih  Wilona ketika mengingat kejadian semalam


Grace mengernyitkan dahinya,gadis itu merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.


"Ada apa Wilona?" 


Wilona mengangkat kepalanya dan menatap Grace,lalu gadis itu tersenyum.


"Tidak apa-apa" 


"Kamu tidak pandai berbohong di hadapanku,Lona" 


"Huff"


"Cepat katakan ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu semalam di taman?" 


"Tidak… Hanya saja…" 


"Apa?" Grace terus mendesak agar Wilona berkata jujur padanya.


"What" ucap Grace seakan berbisik,gadis itu sadar tidak mungkin berteriak di dalam kelas karena profesor yang mengajar sudah datang. 


"Nanti saja aku ceritakan" 


"Kamu berhutang penjelasan padaku,Lona." 


Wilona tidak menjawab lagi,gadis itu hanya mengangguk saja. Setelah materi hari ini selesai dibahas oleh dosen pengajar,mereka bersiap untuk pulang. Grace segera menarik Wilona menuju parkiran,kali ini Grace akan mengantar Wilona ke butiknya. Di dalam mobil Wilona menceritakan semua kejadian tadi malam saat bertemu Leon di taman. Tapi,gadis itu tidak menceritakan kalau Leon ingin memberinya uang untuk biaya pengobatan luka yang ada di keningnya. Karena pada saat Grace mengetahui luka itu,Wilona berbohong pada sahabatnya itu. Wilona mengatakan kalau dia tidak sengaja terbentur meja belajarnya pada saat sedang mengambil pulpen yang jatuh. Untungnya Grace mempercayai apa yang dikatakan oleh Wilona. 


 


...*******...


Siang harinya seorang pria turun dari dalam mobil mewah  tesla roadster berwarna hitam. Pria itu berdiri dengan gagah didepan sebuah bangunan bertuliskan LONA'S BOUTIQUE.  Dengan setelan kantor dan sebuah kacamata hitam masih bertengger di hidungnya,pria itu terlihat benar-benar berkarisma. Pria itu tidak sendiri,ia ditemani oleh sang asisten yang berpenampilan sama dengan dirinya. Pria itu berjalan terlebih dahulu untuk masuk ke dalam butik itu dan diikuti oleh asistennya dari belakang. Dengan sigap sang asisten membukakan pintu masuk untuk tuannya itu. 


"Silahkan tuan" ujar sang asisten


Seperti biasa pria itu hanya menganggukkan kepalanya kepada asistennya. 


Pria itu segera duduk di salah satu sofa fi ruang tunggu yang ada di butik tersebut,sedangkan sang asisten berbicara kepada salah satu pegawai yang ada di butik. 


"Selamat siang nona." Ucap sang asisten kepada pegawai butik Wilona


"Selamat siang tuan,ada yang bisa saya bantu?" Tanya ramah pegawai itu


"Saya kesini mewakilkan atasan saya untuk bertemu dengan nona Wilona pemilik butik ini. Bisakah saya bertemu dengannya?" Tanya kembali sang asisten pada pegawai butik


Belum sempat pegawai itu bicara,tiba-tiba seseorang sudah berada di belakang pegawai itu. 


"Ada apa ini,Arshi?" Tanya Wilona yang baru saja keluar dari ruangannya untuk mengambil beberapa cemilan di kitchen. Karena jadwal kuliahnya hari ini hanya satu mata pelajaran,jadi gadis itu habis kuliah langsung diantar oleh Grace ke butik. 


Pegawai itu pun menengok ke arah belakangnya "maaf kak ada seseorang yang ini bertemu dengan kakak." Jawab Arshi


Wilona menatap pria yang sedang berdiri di hadapan Arshi. "Maaf anda siapa?" Tanya Wilona 


"Perkenalkan saya Roy,asisten dari tuan Leon Averus Aksara." Jawab Roy memperkenalkan dirinya,Wilona masih menatap Roy dengan wajah bingungnya sedangkan Arshi wajahnya melongo mendengar nama yang disebutkan oleh Roy. 


"Ada keperluan apa anda datang kesini,tuan?" 


"Saya ingin bertemu dengan anda nona Wilona Charlotte" ucap seorang pria yang datang dari arah ruang tunggu yang tidak lain adalah Leon sendiri. 


"Aish,kenapa lama sekali Roy? Kita kesini hanya ingin bertemu dengan wanita ini. Kenapa jadi saya yang harus menunggu di sana?" Ujar Leon kesal karena lama menunggu


"Maafkan saya tuan,bagaimanapun saya harus mendapat persetujuan dari nona Wilona." Jawab Roy dengan membungkukkan sedikit badannya


"Cih,dan anda nona Wilona yang terhormat tidak bisakah saya langsung menemui anda dan mempersilahkan saya untuk masuk ke ruangan anda bukan membiarkan saya duduk disana." Ujar kesal Leon sambil menunjuk ke arah ruang tunggu


Wilona menatap ke arah Leon dengan wajah datarnya,gadis itu juga sedang menahan gemuruh dalam dadanya. Entah apa yang saat ini Wilona rasakan,rasa kesal bercampur dengan rasa sayang pada pria bermarga Averus ini. Lalu,mata gadis itu beralih ke sebuah goodie bag yang sedang Leon pegang. 


"Itu… Goodie bag itu" ucap Wilona dalam hati


Wilona menatap Leon kembali "mari ikut ke ruangan saya tuan" ajak Wilona yang mempersilahkan Leon masuk ke ruangannya dengan asisten yang mengikutinya dari belakang


Leon dan Roy mengikuti langkah Wilona menuju ruang kerja gadis itu. Setibanya fi ruangan itu Wilona mempersilahkan mereka masuk. 


"Silahkan masuk tuan-tuan" ujar Wilona dengan sopan


"Terima kasih nona" jawab Roy