
Sepeninggalnya Claudia ke kamarnya,nenek Ardila pun segera menuju pintu depan untuk mengetahui siapa tamu yang berkunjung di siang ini.
"Selamat siang nyonya,saya ditugaskan untuk menjemput nona Claudia." Ucap pria dengan postur tubuh tinggi atletis dengan mengenakan setelan serba hitam.
"Claudia sedang bersiap,silahkan anda masuk terlebih dahulu."
"Tidak perlu nyonya,saya akan menunggu nona Claudia disini saja."
"Baiklah kalau begitu saya akan memanggil Claudia untuk segera turun."
Pria itu hanya mengangguk dan berjalan ke dekat mobil yang diparkirkan di dekat pintu gerbang rumah nenek Claudia.
Nenek Ardila kembali masuk kedalam dan segera menghampiri Claudia yang sudah nampak sedang menuruni anak tangga.
"Nak,di depan sudah ada orang yang menjemput kamu" ucap nenek Ardila saat Claudia sudah berada di depannya
Claudia menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan kasar.
"Doakan Claudia nek" ucap Claudia dengan rasa bercampur aduk antara takut dan ragu untuk bertemu dengan orang yang sudah mengambil mahkota kewanitaannya dengan paksa.
Nenek Ardila memeluk Claudia dan mengelus punggung cucunya itu.
"Kamu harus kuat nak,kamu adalah cucu nenek yang sangat kuat." Bisik nenek Ardila
Claudia merenggangkan pelukannya "Claudia pamit nek,semoga saja pria itu tidak menyakiti Max."
"Apapun yang terjadi,jangan lupa hubungi dan beri kabar ke nenek. Nenek akan menunggu kepulangan kalian di rumah ini." Jawab nenek Ardila dengan mengusap wajah Claudia dengan lembut. Claudia pun tersenyum dan mengangguk.
Nenek Ardila mengantarkan Claudia keluar,saat Claudia sudah memasuki mobil hitam tersebut dan mobil itu sudah meninggalkan pelataran nenek Ardila masih terus menatap mobil tersebut hingga hilang dari pandangannya.
"Semoga tuhan melindungi kalian dan kalian juga akan baik-baik saja disana." Gumam nenek Ardila
*
**
Di penthouse yang cukup mewah suara tawa seorang anak kecil menggema ke seluruh penjuru penthouse tersebut.
"Daddy ampun… Hahaha… Stop daddy jangan menggelitiku lagi." Max begitu terlihat bahagia saat bercanda dengan daddy nya.
"Baiklah daddy akan berhenti menggelitik kamu, tapi dengan syarat beri daddy sebuah ciuman dan pelukan." Jawab pria itu dan dibalas anggukan oleh Maxim
"Daddy kapan mommy akan datang? Max tidak sabar ingin segera bermain bersama mommy dan daddy seperti teman-teman Max yang selalu bermain dengan mommy dan daddy mereka." Ucap Max dengan begitu lugunya dan teelihat sedikit murung.
Pria itu kembali memeluk sang putra untuk menyalurkan semua rasa rindunya,dirinya tahu kalau selama ini Max menginginkan orang tua yang lengkap seperti anak-anak lainnya.
"Maafkan daddy,nak. Maafkan daddy yang baru bisa menemui kamu dan mommy mu." Lirih pria itu yang masih memeluk Max
"Maafkan daddy mu yang brengsek ini,nak." Batin pria itu dengan rasa penyesalan yang dalam. Seandainya dirinya tidak mengalami kejadian musibah di malam setelah dirinya merenggut paksa mahkota kewanitaan Claudia ,seandainya… seandainya… Dan seandainya saja…
Dua kata yang paling menyedihkan di dunia adalah seandainya saja. Saat kata penyesalan tersebut kamu rasakan, mungkin kamu akan mengingat kembali kesempatan yang terlewat begitu saja di hidupmu. Tak ayal kamu pun berpikir apa yang akan terjadi jika kamu mengambil kesempatan itu. Apakah kehidupanmu akan berubah dan segalanya menjadi lebih baik?
Kata penyesalan 'Seandainya saja' kadang terdengar begitu menyakitkan karena kamu tak bisa memutar ulang hidupmu untuk mengambil pilihan itu. Tapi, tak perlu terus menerus memikirkannya, jadikan saja ia sebagai pelajaran. Kehidupan memang tidak bisa dipisahkan dari rasa penyesalan. Tidak bisa mengungkapkan dan hanya memendamnya sendirian biasanya malah semakin memberatkan langkahmu.
Seandainya saja hidup mempunyai tombol CTRL-Z. Dalam menjalani kehidupan, kamu tentu pernah memilih sebuah pilihan yang salah. Hingga kamu bertanya apa yg akan terjadi jika kamu tidak mengambil pilihan tersebut dan memilih yang lain.
Seperti kata penyesalan terdalam mengenai hidup ini yang berharap jika kehidupan mempunyai tombol undo layaknya sebuah komputer. Di mana kamu bisa kembali pada titik sebelumnya dan bisa mengubah segala keputusanmu. Mungkin saja kehidupanmu menjadi lebih baik.
Claudia sudah tiba di depan pintu penthouse dimana pria itu membawa Max,seorang pria yang mengenakan setelan yang sama dengan pria yang berada di sebelah Claudia pun membukakan pintu untuk Claudia.
Pandangan Claudia begitu terpesona dengan kemewahan penthouse yang begitu luas dan mewah. Claudia melangkahkan kakinya begitu berat,seorang pria kembali menghampirinya.
"Selamat datang nona,perkenalkan saya Ferry asisten tuan muda Bryan silahkan ikut saya,nona. Karena tuan muda sudah menunggu kedatangan anda." Ucap Salah satu orang kepercayaan pria yang bernama Bryan itu.
"Bryan.. Jadi nama orang itu Bryan?" Tanya Claudia sebelum dirinya mengikuti langkah Ferry.
Ferry tersenyum "benar nona,tuan Bryan Michael adalah ayah biologis putra anda,tuan muda Maxim." Jawab asisten itu dengan santai sambil tersenyum tipis.
"Mari nona,tuan susah menunggu anda" ucap Ferry untuk kedua kalinya.
Claudia hanya mengangguk dan mengikuti langkah asisten Ferry,mereka menaiki sebuah lift yang langsung menuju lantai dua dimana Bryan dan Max sudah menunggu kedatangan Claudia.
Ting…
Pintu lift terbuka dan keluarlah Ferry dan Claudia dari sana,mereka kemudian berjalan menuju sebuah ruangan dengan pintu yang bercat coklat.
Saat pintu terbuka,dan Ferry langsung memper silahkan Claudia untuk masuk dan saat Claudia masuk langsung terdengar suara teriakan Max yang memanggil dirinya.
"Mommy…" teriak Max sambil berlari dan memeluk tubuh sang mommy.
Claudia langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya dan memeluk tubuh mungil putranya itu.
"Mommy mengkhawatirkan dirimu nak,apa kamu baik-baik saja?" Tanya Claudia sambil memutar tubuh sang anak untuk memastikan kondisi Maxim baik-baik saja.
"Hahaha… Mommy aku baik-baik saja kok mom,daddy membelikan aku banyak sekali mainan mom lihatlah. Ayo mom kita bermain bersama." Jawab Max sambil menarik tangan sang mommy dan mengajak Claudia untuk bermain bersama.
"Daddy lihat mommy sudah datang,asiiikkk.. akhirnya Max bisa bermain bersama mommy dan daddy seperti teman-teman Max di sekolah." Perkataan Max lagi-lagi membuat Bryan maupun Claudia merasa tersentuh dan sedih atas keinginan kecil dari putranya.
Claudia menatap Bryan yang juga sedang menatap dirinya dengan senyum tipis di wajah pria itu,tapi dengan cepat Claudia kembali mengalihkan pandangannya ke arah Max.
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
Maaf jika Author jarang update,mungkin saya akan usahakan update cerita kelanjutannya satu minggu sekali. Sekali lagi saya minta maaf jika alur ceritanya kurang menarik,terima kasih banyak-banyak atas dukungannya jangan lupa like,komen dan vote nya. 🥰🥰