WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
38. Sakit



Selepas melihat kamar dan penthouse milik Leon,Wilona merebahkan dirinya di atas kasur yang begitu empuk tidak seperti punyanya di rumah. Tanpa disadari Wilona dirinya ternyata tertidur hingga matahari terbenam dan berganti ke langit gelap dengan bintang-bintang yang berkelip di langit.


Wilona langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya,setelah beberapa menit melakukan ritualnya di kamar mandi dengan cepat dirinya berpakaian.


Wilona langsung keluar kamar dan menuju ke arah dapur yang masih menyatu dengan meja makan. Wilona menjelajah ke isi kulkas,ada beberapa sayuran,daging,ikan dan lain-lainnya. Dirinya ingin memasak untuk makan siangnya yang tertunda setelah selesai memasak menu makan malamnya Wilona bergegas ke lantai atas untuk mengajak Leon makan malam.


Wilona mengetuk pintu kamar Leon dan berkali-kali pula dirinya memanggil nama Leon,namun tidak ada sahutan dari penghuni kamar.


"Apakah Leon sedang pergi?" Gumam Wilona pada dirinya sendiri


Tapi,Wilona tidak menyerah untuk meyakinkannya Leon ada di dalam atau tidak dirinya pergi ke arah balkon kamar mereka. Untung saja balkon kamar Leon dan Wilona masih menyatu,jadi mempermudahkan Wilona untuk menuju kamar Leon dan masuk dari sana. Pada saat dirinya sudah berada di pintu balkon,wajah sumringah tercetak jelas pada wajah gadis itu. Dirinya sangat beruntuk malam ini karena Leon tidak menutup pintu balkon dengan rapat,jadi Wilona dapat masuk ke dalam kamar Leon. Dibukanya perlahan pintu kamar Leon,niatnya hanya mengintip saja. Tapi,matanya membulat saat melihat Leon terbaring diatas kasurnya dengan mengenakan selimut.


Wilona mencari saklar untuk menyalakan lampu kamar Leon,dan saat lampu menyala benar saja apa yang dilihat oleh Wilona.


Gadis itu mendekat ke arah Leon sesekali dirinya mendengar Leon sedang merintih karena kedinginan. Tangan Wilona terulur ke arah kening Leon dan benar dugaannya kalaj Leon sedang demam.


"Astagfirullah,kamu sakit Leon. Badanmu panas." Ujar Wilona khawatir


"Tunggu sebentar ya"


Wilona bergegas keluar kamar dan menuju dapur untuk mencari wadah dan handuk kecil serta air hangat untuk mengompres kening Leon. Wilona masuk ke kamar Leon lagi dengan membawa wadah air untuk mengompres. Gadis itu meletakkan handuk kecil di kening Leon dan sesekali menyeka wajah Leon yang terkena air.


"Aku sudah menghubungi Roy,nanti dia akan kesini dengan seorang dokter." Ujar Wilona pada Leon,tapi tidak ditanggapi olehnya karena Leon terlihat sangat lemah saat ini.


"Aku akan buatkan kamu bubur,biar saat dokter datang dan memberikan obat kamu bisa meminumnya setelah makan."


Wilona berjalan menuju dapur lagi untuk membuatkan Leon bubur. Saat sedang memasak bubur tiba-tiba saja bel pintu berbunyi. Gadis itu segera berlari ke arah pintu dan membukanya,disana sudah ada asisten Roy dan seorang dokter cantik.


"Selamat malam nona,perkenalkan ini dokter Jessica. Dia dokter pribadi keluarga Averus sekaligus teman satu sekolah tuan Leon saat di bangku menengah atas." Ujar Roy memperkenalkan Jessica pada Wilona.


Jessica mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Wilona dan disambut baik olehnya. "Perkenalkan saya Jessica"


"Ah,ya saya Wilona" jawab Wilona


"Ayo,langsung masuk saja. Roy aku sedang membuatkan bubur untuk Leon,jadi kamu saja yang menemani dokter Jessica ya. Nanti aku akan menyusul jika buburnya sudah matang." Ucapan Wilona langsung mendapat anggukan oleh Roy


"Baiklah mari dokter kita langsung ke kamar tuan Leon."


Sepeninggalnya dokter cantik dan juga Roy yang menuju kamar Leon,Wilona melanjutkan aksi memasaknya.


Wilona masuk ke kamar Leon dengan membawa sebuah nampan berisikan bubur dan air hangat untuk Leon,Roy yang melihat Wilona kerepotan pun akhirnya membantu membawakan nampan tersebut.


"Terima kasih Roy"


"Sama-sama nona"


Wilona tersenyum menjawab ucapan Roy,dan dirinya melangkah sedikit mendekat ke arah dokter Jessica yang sedang memeriksa Leon. Mata Leon beberapa kali mengerjap untuk melihat ke sekelilingnya.


"Sepertinya hanya demam biasa,aku akan memberikan obat penurun panas dan vitamin,tolong berikan setelah makan ya." Ujar dokter Jessica pada Wilona,dan gadis itu pun menerima beberapa obat dan vitamin untuk Leon.


"Baiklah dokter terima kasih" ujar Wilona


"Sama-sama ini sudah tugasku nona,jika ada apa-apa segera hubungi saya. Ini kartu nama milik saya." Jawab Jessica sambil menyerahkan kartu nama miliknya dan diterima oleh Wilona.


"Apakah nona sudah makan?" Tanya Roy


"Sudah jangan pikirkan aku,sebaiknya kalian makan malam dulu saja. Setelah menyuapi Leon aku akan turun kebawah." Jawab Wilona sambil tersenyum memandang Roy dan juga Jessica.


"Hmm,baiklah kalau begitu kami makan malam dulu disini. Ayo,dokter Jessica."ajak Roy pada Jessica


Jessica terlihat sangat ragu "tapi…."


"Tidak perlu sungkan dokter cantik,anggaplah aku dan suamiku mengajak kalian untuk makan malam disini." Ujar Wilona dengan menampilkan senyum manisnya.


"Baiklah,kalau begitu kami turun ke bawah." Jawab dokter Jessica


Akhirnya Roy dan dokter Jessica pun menuruti apa yang diminta Wilona. Mereka segera keluar menuju dapur untuk menikmati masakan Wilona.


Leon menatap Wilona tanpa bersuara,sebenarnya Wilona merasakan canggung saat Leon menatapnya. Namun,gadis itu dapat menetralkan kondisi hatinya kembali dan berhasil menghilangkan rasa gugupnya saat berhadapan dengan Leon.


"Kamu harus makan setelah itu minum obatnya" ujar Wilona sambil menjulurkan sendok yang berisikan bubur pada Leon.


Leon tak bergeming,dirinya hanya diam dan menuruti apa yang diminta oleh Wilona. Seulas senyum terbit di wajah Wilona ketika Leon tidak menolak sama sekali suapan yang diberikan olehnya. Suapan demi suapan bubur diberikan Wilona kepada Leon tanpa penolakan,setelah bubur habis Wilona memberikan Leon obat pereda panas dan vitamin agar diminum oleh Leon.


Wilona meminta Leon untuk istirahat setelah meminum obat,baru saja gadis itu berdiri tangannya sudah di cekal oleh Leon.


"Mau kemana?" Tanya Leon dengan suara beratnya


"Aku ingin ke dapur menaruh nampan ini,apa kamu membutuhkan sesuatu?"


Leon mengangguk "tetaplah disini,aku membutuhkan dirimu. Peluk aku,please." Ucapan Leon membuat tubuh Wilona menegang.


"Ta-tapi…. Aaakkhh…" belum sempat Wilona berucap Leon sudah menarik tangannya untuk masuk kedalam pelukan gadis itu.


Dengan terpaksa Wilona memeluk tubuh Leon dan mengelus surai lembut milik Leon, Leon juga semakin masuk ke dalam ceruk leher Wilona. Deru nafas teratur milik Leon terdengar begitu menenangkan,cukup lama gadis itu membuka matanya dan berusaha melepaskan diri dari Leon. Tapi,bukannya terlepas dari pelukan Leon malah pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Dengan terpaksa Wilona akhirnya ikut terlelap bersama Leon.


Asisten Roy dan Jessica masih menikmati makan malamnya.


"Roy,kenapa gadis itu tidak turun-turun juga? Apa sebaiknya kita menyusulnya untuk makan malam?" Tanya Jessica


"Tunggu sebentar lagi saja,kamu tahu Leon seperti apa. Mungkin ada sedikit perdebatan di antara mereka. Biar aku saja yang memanggil Wilona." Ucapan Roy langsung dijawab anggukan oleh Jessica.


"Aku sudah selesai,aku akan ke atas memanggil Wilona"


"Oke"


Roy berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Leon,saat sudah tiba di depan pintu kamar Leon. Roy menekan perlahan daun pintu kamar teersebut,betapa terkejut dirinya yang mendapati posisi Leon yang tertidur di dalam dekapan Wilona. Senyum Roy terbit begitu saja dan dengan sangat iseng dirinya mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Dengan cepat Roy mengambil foto Leon dan Wilona dalam posisi seperti itu.


"Suatu saat foto ini akan berguna,maafkan saya bos,xixixi" ujar Roy sambil terkikik geli,dirinya membayangkan jika foto itu tersebar di dalam grup mereka. Tapi,bukan saatnya dirinya menyebar foto itu ke grup chat mereka.


po



Anggaplah posisi Leon saat meluk Wilona seperti pada foto diatas