WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
25. Depresi



Menjalin suatu hubungan, bukan perkara mustahil jika sepasang kekasih menghadapi permasalahan. Terkadang, permasalahan tersebut memicu rasa kecewa dari salah satu atau kedua belah pihak. Bahkan, rasa kecewa itu pun dapat mendalam dan tak terlupakan. Terlalu berharap kadang menjadi awal dari timbulnya kekecewaan. Alasannya, ketika diri kita berharap akan suatu hal, muncul ekspektasi agar harapan itu dapat terwujud. Salah satunya adalah ketika kamu berharap agar dapat melanjutkan hubungan ke jenjang lebih lanjut dengan kekasih. Sayang, harapan itu hanya menjadi angan-angan belaka karena dia bermain di belakang kalian. Jika sudah cinta dengan seseorang, kamu mungkin rela melakukan apa saja untuknya. Selain itu, sikap protektif barangkali juga akan muncul dalam diri karena tidak mau melihat sang pujaan hati terluka. Oleh sebab itu, sakit rasanya kalau diri kita justru malah diperlakukan sebaliknya oleh kekasih.


Semenjak Rose mengetahui bahwa dirinya telah hamil,dunianya seakan hancur dan tidak berbentuk lagi. Rasa kecewa yang mendalam terhadap pria yang bernama Averus itu pun tidak dapat dirinya pungkiri bahwa cintanya kini berubah menjadi benci. Rasa kecewanya terhadap pria itu begitu sangat dalam,hancur hanya satu kata yang dapat menggambarkan kondisi Rose  saat ini. Mark yang sudah mengetahui kehamilan adik perempuannya itu pun sangat marah,pria itu segera mencari tahu siapa Averus dan betapa terkejutnya bahwa pria yang selama ini begitu sederhana itu ternyata adalah seorang pewaris tunggal dari keluarga Aksara. Tidak sampai situ saja berita yang lebih mengejutkan dirinya  adalah bahwa Averus baru saja melaksanakan pernikahannya satu bulan lalu. Tanpa Mark sadari Rose juga sudah mengetahui kabar pernikahan Averus. 


Rose hancur berantakan, wanita itu  hampir tidak dapat bernapas, dengan patah hati yang masih berdetak. "Aku berkorban untuk dirimu, dan kamu berkorban untuk dirinya. Walau menyakitkan, aku anggap saja itu adil untukku. Tapi,tidak adil dengan bayi ku yang belum lahir ini." Ucap Rose sambil memeluk dirinya,lalu mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit. 


Mark yang melihat adik satu-satunya itu pun mendekat dan memeluk Rose dengan rasa sayangnya. "Maafkan kakak… maafkan kakak yang tidak bisa menjaga dirimu dengan baik." Ujar Mark dengan suara isak tangisnya. 


"Tidak kak,kakak tidak salah. Disini aku yang salah kak,karena dengan mudahnya termakan rayuan pria bejat itu." 


"Kakak janji,kakak akan selalu menjaga kalian." 


"Terima kasih kak. Kakak dan kak Erisa masih mau menerima diriku dengan kondisiku yang seperti ini." 


Di luar kamar,Erisa tidak sanggup lagi melihat adiknya seperti ini. Segera Erisa menghapus air matanya,lalu wanita itu menghampiri Rose dan Mark yang berada di sofa kamar. 


"Rose" panggilan dari Erisa


Yang merasa dipanggil pun menoleh ke arah Erisa yang sudah duduk di sebelahnya. Erisa tersenyum menatap Rose yang masih mengeluarkan air matanya. 


"Berhentilah menangis,apakah kamu tidak kasihan sama baby di sini?" Ujar Erisa


"Kakak" Rose tidak tahan bisa menahan dirinya,saat ini dirinya benar-benar rapuh. Rose langsung memeluk kakak iparnya itu,yang begitu disayanginya. 


Perasaan sakit seorang perempuan menjadi sebuah kejahatan untuk para pria, terlebih jika sakit itu tidak dapat disembuhkan, pada akhirnya akan menjadi rasa kecewa yang terus bergelayut selamanya. Meskipun bisa jadi kata kecewa tidak terucap dari mulut istri pada suami, namun bukan berarti lukanya biasa saja,terlebih perempuan itu sangat pintar sekali dalam menyembunyikan sesuatu hal. 


Kehamilan Rose hanya berbeda tiga bulan dengan Erisa. Jika,kandungan Erisa saat ini berusia satu bulan maka kehamilan Rose sudah memasuki usia empat bulan. Selama itu pula Rose mengalami depresi yang membuat dirinya selalu mengurung diri di dalam kamar,Erisa yang begitu khawatir dengan adiknya itu pun selalu menemani Rose di dalam kamar. Bahkan makan pun Erisa selalu membawakan dan menyuapi Rose,jika tidak disuapi makanan itu tidak akan tersentuh oleh adik perempuannya ini. Erisa menatap sendu pada sosok perempuan yang disayanginya  itu. Tubuh Rose semakin hari terlihat semakin kurus hanya perutnya saja yang terlihat sedikit menonjol karena kehamilannya itu. 


Rose menoleh ke arah Erisa dengan tatapan kosong. "Ya" jawab singkat Rose dan dibalas senyuman oleh Erisa. 


"Sudah waktunya makan siang,kamu mau makan di kamar atau di depan sambil melihat tanaman bunga mawar yang kutanam?" Tanya Erisa 


"Disini saja" jawab Rose sambil menatap ke arah jendela


"Baiklah" 


Detik kemudian Erisa menyuapi Rose dengan pelan-pelan. Selama Erisa menyuapi Rose,wanita itu terus mengoceh dan bercerita tentang pengalaman pertama dirinya tinggal di rumah yang baru ini. Semenjak Rose mengalami depresi atas kehamilannya itu,Mark memutuskan untuk meninggalkan kota kelahirannya dan tinggal di negara T,agar Rose dapat melupakan semua kenangan yang pahit dalam hidupnya. Selesai menyuapi Rose,Erisa kebawah untuk menaruh piring bekas Rose makan. Beberapa menit kwmudia Erisa kembali ke kamar Rose,dan mencari keberadaan wanita itu. Bunyi suara benda jatuh mengalihkan perhatian Erisa untuk segera menuju kamar mandi dan betapa terkejutnya wanita itu melihat tubuh Rose yang sudah tergeletak di lantai kamar mandi dengan kaki yang berlumuran darah segar. 


"Rose" teriak Erisa 


"Rose bangun sayang" ucap Erisa sambil menepuk-nepuk wajah Rose agar tersadar,tapi sayang hasilnya nihil. 


Erisa keluar dari kamar mandi yang ada di kamar Rose,dan dengan cepat dirinya meraih ponsel yang memang sudah ada di kamar Rose. Erisa memang sengaja meninggalkan ponselnya di kamar Rose karena dirinya sering berada di kamar ini. Erisa segera menghubungi suaminya. Setelah menghubungi suaminya itu,Erisa keluar rumah untuk mencari pertolongan kepada tetangganya. Setelah tiga puluh menit akhirnya Rose dilarikan ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit tubuh Rose yang begitu dingin sudah ditangani oleh dokter. Erisa begitu sangat kuatir dengan kondisi adiknya saat ini,Mark datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Pria itu langsung memeluk istrinya yang sedang menangis dalam pelukannya. Proses pemeriksaan Rose memakan waktu yang cukup lama,hampir satu jam belum ada satupun dokter yang keluar dari ruang IGD. Tak lama dokterpun keluar dan memanggil salah satu wali dari pasien. 


"Keluarga atas nama pasien Rosalina?" Ujar sang dokter


"Ya,kami keluarganya dokter. Bagaimana keadaan adik saya?" Jawab Mark yang langsung berdiri dari duduknya dan segera menghampiri sang dokter. 


"Kondisi nyonya Rosalina saat ini sudah membaik karena mampu melewati masa kritisnya selama pemeriksaan. Tapi,kami minta maaf karena kami tidak dapat menyelamatkan bayi dalam kandungan nyonya Rosalina. Maka dari itu kami akan mengeluarkan janin dalam perut pasien. Jadi,kami meminta persetujuan dari keluarga pasien." Dokter memberi penjelasan pada Mark dan Erisa atas kondisinya saat ini. Mark benar-benar gagal dalam menjadi sosok kakak yang sekaligus menjadi ayah untuk Rose. Mark kembali meneteskan air matanya,tubuhnya tiba-tiba saja lemas setelah mendengar pernyataan yang dokter sampaikan tadi. Dengan langkah berat akhirnya Mark segera berjalan menuju bagian administrasi untuk menyetujui tindakan selanjutnya untuk Rose. 


*Flashback off*