
Malam harinya Wilona sudah siap dengan penampilan yang sangat cantik memakai dress lengan panjang berwarna navy dengan aksen brokat di bagian leher yang berbentuk huruf V ditambah sebuah kalung berlian pemberian sang ibu yang selalu ia pakai kemanapun Wilona pergi.
Wilona keluar dari kamarnya lalu menemui bibi Rose yang sedang berada di dapur.
"Bibi"
Suara Wilona yang memanggil bibinya.
"Bibi di dapur sayang" teriak Rose
Wilona berjalan dengan senyum yang mengembang menghampiri bibinya itu. Rose yang mendengar suara langkah oun menengok ke arah belakang dan segera mematikan kompor yang menyala. Rose begitu terpana melihat keponakannya dengan penampilan yang sangat cantik. Rose bahkan menutup mulutnya,ia terkejut karena penampilan Wilona saat ini seperti mendiang kakak iparnya,Erisa. Rose segera menghampiri Wilona,dia masih menatap lekat wajah Wilona. Hingga Wilona berdiri tepat di depannya Rose pun masih meneliti wajah itu.
"Cantik" ucap Rose dengan air mata yang sudah terbendung dan senyum yang juga merekah.
Wilona tersenyum "makasih bibi" Wilona langsung memeluk bibinya yang masih terlihat muda itu.
Rose masih terlihat sangat muda karena ketika kedua orang tua Wilona menikah,Rose baru berusia lima belas tahun. Usia Rose dan Mark ayah Wilona terpaut sepuluh tahun,orang tua Wilona ketika menikah pada saat itu Mark berusia dua puluh lima tahun dan Erisa berusia dua puluh tiga tahun.
"Kamu benar-benar sangat cantik nak persis sekali dengan mendiang ibumu." Ucap Rose yang masih teringat dengan Erisa. Sosok yang selalu ada untuk Rose dikala ia sedang terpuruk.
"Bibi" ucap lirih Wilona
"Maafkan bibi,nak."
"Tidak bi,jangan minta maaf. Wilona tahu apa bibi rasakan,begitupun juga dengan Wilona. Bagaimanapun ibu dan ayah akan selalu kita ingat,mungkin saat ini mereka sedang melihat kita,bi."
"Iya sayang. Ya,sudah hati-hati dijalan,orang yang menjemputmu sudah menunggu di luar."
Rose mengantarkan Wilona keluar dari rumah,disana sudah berdiri seorang pria yang masih terlihat sangat muda dengan setelan serba hitam di samping mobil mewah milik keluarga Averus yang berwarna hitam. Mungkin itu supir pribadi keluarga Averus yang diutus oleh Grace. Pria itu membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada Rose dan Wilona.
"Selamat malam nona,saya Albert sopir pribadi keluarga Averus. Mari nona silahkan masuk,nona Grace sudah menunggu anda di mansion." Ucap Albert hormat yang memperkenalkan dirinya.
Rose dan Wilona pun membalas sapaan dari Albert "malam tuan,terima kasih." Balas Wilona dengan tersenyum,lalu ia pamit kepada Rose.
"Bibi aku berangkat,ya." Ucap Wilona sambil mencium pipi Rose.
"Iya,hati-hati dijalan" jawab Rose
Albert pun membungkukkan tubuhnya lagi sebagai tanda berpamitan,lalu ia masuk dan mengemudikan mobilnya menuju mansion keluarga Averus. Selama perjalanan Wilona terus menatap ke arah luar jendela. Pemandangan kota di malam hari menarik perhatiannya,sudah lama sekali ia tidak keluar pada malam hari seperti ini.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam akhirnya mereka sampai di mansion keluarga Averus. Di Dalam mobil Wilona terpaku memandang bangunan yang di depannya sekarang,seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Bangunan megah dengan pilar yang berdiri kokoh bak istana itu sungguh memanjakan mata. Bila di depannya saja seperti ini lantas bagaimana dengan isi yang ada di dalamnya.
"Anda sudah sampai nona" ucap Albert
Wilona pun tersenyum "terima kasih" jawab Wilona
Kemudian pintu mobil pun terbuka oleh salah satu penjaga di mansion Averus. Wilona pun keluar dari dalam mobil dan melihat ke arah pria yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Terima kasih" ucap Wilona
"Sama-sama nona,silahkan masuk" jawab pria itu.
Wilona berjalan memasuki mansion megah tersebut dimana ia sudah disambut oleh kepala pelayan yang bernama Meta serta beberapa pelayan lainnya.
"Mari nona ikut saya,nona muda sudah menunggu anda di dalam." Meta berujar
Wilona mengikuti langkah Meta untuk masuk kedalam,dari arah pintu masuk Wilona sudah bisa melihat Grace yang sedang menuruni anak tangga.
"Selamat datang sahabatku" ucap Grace yang menyambut kedatangan Wilona dengan senang hati.
"Terima kasih karena sudah mengundangku untuk makan malam di rumahmu Grace." Jawab Wilona.
Grace tersenyum dengan Wilona "ayo,kita langsung saja ke ruang makan mereka sudah menunggu kedatangan kita." Ajak Grace pada Wilona dengan menggandeng tangan sahabatnya.
Seorang pelayan membukakan pintu ruangan ketika melihat Grace dan Wilona berjalan menuju ke arahnya.
"Silahkan nona" ujar pelayan itu
Grace hanya mengangguk sedangkan Wilona yang tidak enak hati pun berucap terima kasih kepada pelayan tersebut.
Kedatangan Grace dan Wilona membuat orang yang ada di ruangan tersebut mengalihkan pandangan mereka ke arah dua wanita yang baru saja tiba,Leon menatap Wilona dengan penampilan yang berbeda,bahkan ia sempat terpaku melihat Wilona malam ini. Bukan hanya Leon yang menatap kagum wanita yang bersama Wilona,siapa lagi kalau bukan Grace calon istrinya itu. Sedangkan Averus hanya memperhatikan mereka dan menggelengkan kepalanya.
"Akhirnya yang ditunggu pun datang juga,ayo nak silahkan duduk. Apakah ini yang bernama Wilona?" Averus bertanya sambil mempersilahkan Grace dan Wilona duduk.
"Selamat malam tuan,saya Wilona Charlotte." Wilona memperkenalkan dirinya
"Silahkan duduk,nak."
"Terima kasih tuan."
"Panggil paman saja,biar lebih santai."
"Baik tu… paman." Balas Wilona yang masih sangat canggung.
Grace duduk disebelah Gabriel,ketika Wilona ingin duduk di sebelahnya. Terlebih dahulu Grace menyuruhnya untuk duduk disebelah Leon,dan saat itu juga Grace mendapat tatapan tajam dari Leon. Tapi,tidak dihiraukan oleh Grace. Dengan ragu dan terpaksa Wilona duduk di sebelah Leon,saat itu juga detak jantungnya berdebar begitu cepat. Para pelayan mulai menyajikan makanan utama untuk mereka,setelahnya mereka menyajikan makan menutupnya. Tidak ada pembicaraan serius selama mereka menikmati makan malam saat ini. Setelah selesai Averus mengajak anak-anaknya dan calon menantu juga sahabat putrinya itu menuju ruang keluarga. Wilona hanya mengikuti mereka dari belakang,semua interior dalam mansion begitu memanjakan matanya. Setibanya di ruang keluarga,Wilona kembali dibuat kagum oleh interior ruangan yang sangat keren,ditambah dengan pintu kaca yang langsung menampilkan sebuah taman dengan kolam renang yang sangat luas.
Kali ini Wilona terselamatkan karena ia diajak duduk di sebelah Grace dan disebelah kiri Grace ada Gabriel yang dari tadi selalu menempel dengan nya. Sepertinya Gabriel sangat bucin dengan Grace. Sedangkan Leon duduk bersebelahan dengan sang papah.
"Nak Wilona setelah lulus apakah kamu akan melanjutkan study mu atau bekerja di sebuah perusahaan atau kamu akan menikah seperti Grace?" Tanya tuan Averus memulai percakapan sambil tertawa mengejek putrinya.
"Papah" jawab Grace kesal lalu ia mengerucutkan bibirnya.
Wilona tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
"Saya akan mengembangkan butik peninggalan mendiang ibu saya tuan. Mungkin saya akan memfokuskan diri saya ke sana." Jawab Wilona
"Sudah saya katakan tadi,panggil saya paman saja atau papah seperti Grace dan Leon. Apakah selama ini kamu yang mengelola butik ibumu itu setelah orang tuamu meninggal?" Tanya tuan Averus lagi
Wilona tertawa manis "Maaf,mungkin karena saya belum terbiasa memanggil paman. Ya,jika saya tidak sibuk dengan mata kuliah saya akan menyempatkan diri untuk ke butik. Jika tidak bibi Rose yang akan membantuku."
Tuan Averus mengangguk kecil "lalu jika kamu sibuk bagaimana dengan kekasih atau calon suami kamu,nak?" Tanya Averus lagi dengan tawanya
Wilona pun ikut tertawa "saya tidak mempunyai pacar atau calon suami tuan,mana ada pria yang mau dengan saya." Wilona secara tidak langsung seperti sedang merendahkan dirinya sendiri. Tapi,ia tetap tersenyum saat mengatakan hal itu.