WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
60. Tidak Bisa Tidur



Leon masih tidak dapat berkutik,bahkan saat ini dirinya merasakan sesuatu miliknya yang berada di bawah itu sudah menegang begitu kencang.


"Sial…" batin Leon sambil memejamkan matanya.


Leon ingin melepaskan pelukannya pada Wilona,namun wanita itu bukannya menjauh malah semakin mendekatkan dirinya pada tubuh Leon. 


"Alamat begadang… Huff..." batin Leon yang begitu menyedihkan.


Malam semakin larut,Leon benar-benar tidak dapat memejamkan matanya,ia menatap langit-langit kamar Wilona dan memikirkan bagaimana cara agar dirinya dapat tidur dengan lelap seperti yang Wilona lakukan saat ini,tidur terlelap begitu nyaman dan nyenyak dengan berbantalkan lengan tangan kanan  Leon.


*


**


Tidak jauh berbeda dengan Leon yang sulit tidur,dikamar Bryan pun sama hal nya dengan apa yang dirasakan oleh Leon,hanya bedanya Leon tidak dapat tidur karena ada sesuatu yang menegang di bagian bawahnya,kalau Bryan dirinya tidak dapat memejamkan mata karena selalu memikirkan kata-kata Claudia saat dirinya mengajak wanita itu untuk menikah. 


Bryan masih terjaga di dalam kamarnya,berdiri di balkon kamar penthouse nya dengan menatap langit yang sedikit berbintang malam ini. Bryan kembali menyesap minuman beralkohol yang selalu menemani dirinya setiap malam. Dirinya tidak dapat tidur karena selalu terbayang kenangan masa lalu yang membuatnya selalu tersiksa,seandainya malam itu ia tidak mabuk mungkin Claudia tidak akan mengalami keterpurukan dalam hidupnya dan melampiaskan rasa traumanya pada pria yang dikenalnya. 


"Leon…. Sepertinya aku harus menemuinya dan memastikan sesuatu." Gumam Bryan pada dirinya sendiri. 


*Flashback on*


Leon,Gabriel,Roy dan Bryan malam itu sedang merayakan kelulusan mereka di rumah Gabriel. Bryan yang ingin mengungkapkan isi hatinya kepada wanita yang selalu membuatnya jatuh cinta pada malam itu pun ikut merayakan keberhasilan mereka dengan mengundang wanita tersebut dan beberapa teman wanitanya yang lain. Pada saat itu mereka juga adalah para pemuda jones (jomblo ngenes),sehingga dapat membebaskan diri mereka dari peraturan wanita yang suka melarang para kekasihnya untuk bertindak ini dan itu sesuai dengan keinginan mereka. Bryan mulai melancarkan aksinya setelah berdiskusi kepada ketiga temannya itu,dari jauh Bryan menatap gadis yang menjadi pujaan hatinya itu sedang menerima telepon,entah dari siapa sepertinya gadis itu begitu senang dan bahagia karena terlihat jelas dari senyum dan tawa kecil yang keluar dari bibirnya. 


Saat melihat gadis itu sudah selesai dengan teleponnya,Bryan segera menghampiri gadis itu dan berhenti di hadapannya,sehingga gadis tersebut hampir terjingkat kaget. 


"Bryan,kamu membuat aku kaget saja" ucap gadis itu sambil mengelus dada kirinya.


Bryan pun tersenyum "maaf ya" jawab Bryan


"Kenapa kamu kesini? Ayo masuk Bryan,mereka pasti menunggumu." Ujar gadis itu sambil menarik pelan tangan Bryan,namun segera ditahan oleh Bryan.


"Tunggu Lunara,aku ingin bicara denganmu." Bryan berucap saat menahan tangan Lunara gadis yang sudah merebut hatinya itu. 


Lunara membalikkan badannya dengan mengernyitkan dahinya "ada apa Bryan?" Tanya Lunara yang kebingungan.


"Mmm,itu…." Bryan menjeda ucapannya dan mencoba mengkondisikan rasa gugup yang menjalar pada dirinya. 


Bryan menatap ke arah bola mata Lunara yang begitu indah,tambah lagi dengan sorot sinar rembulan di malam ini menambah daya kecantikan luar biasa dari wajah gadis itu semakin membuat Bryan terpesona dan jatuh cinta pada Lunara.


"Luna,aku mencintaimu… Maukah kamu menjadi kekasihku?" Pernyataan yang dilontarkan Bryan mampu membuat Lunara membeku. 


Sejenak Luna terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Bryan,hingga akhirnya tepukan di pundaknya dan suara Bryan pun menyadarkan dirinya. 


Lunara menggelengkan kepalanya "maaf Bryan aku tidak bisa,karena aku mencintai seseorang dan bahkan kami sudah bertunangan" Lunara menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya dan  membuat Bryan shock dan terdiam  sambil berusaha mencerna apa yang didengarkan oleh dirinya tadi. 


Bryan menggelengkan kepalanya dengan memundurkan tubuhnya beberapa langkah dari hadapan Luna. Pada saat Luna ingin berbicara kembali,dering ponsel Luna berdering dan menampilkan nama seseorang yang sedang ditunggu olehnya malam ini juga. Luna segera mengangkat panggilan itu dan membiarkan Bryan sebentar. 


"Halo kak" jawab Luna pada panggilan tersebut sambil melirik ke arah Bryan


"Kamu dimana sayang? Aku sudah di rumah Gabriel dan aku ada di dekat kolam renang." Tanya pria yang ternyata adalah kekasih sekaligus tunangan Luna.


"Oh,benarkah?" Sambil menengok ke arah dalam rumah Gabriel,karena posisi Luna dan Bryan saat ini sedang ada di taman belakang rumah Gabriel. Saat melihat seseorang yang dicarinya Luna melambaikan tangan tanda menyerah ke kamera… Eh,salah ding maksudnya melambaikan tangan ke arah kekasihnya itu 🤣.


Bryan memperhatikan apa yang dilakukan oleh Luna pada saat wanita itu melambaikan tangannya,betapa terkejutnya Bryan ternyata pria yang sudah terlebih dahulu mendapatkan hati Luna adalah Javier. Pria yang sudah dianggap sebagai kakak oleh Bryan,bahkan disini dirinya merasa dibohongi oleh Leon yang notabene nya  adalah sebagai adik sepupu dari Javier. Bryan mengepalkan tangannya begitu kuat sampai tangannya tampak memerah. 


"Bryan,maaf aku harus kesana menemui kekasihku. Sekali lagi aku minta maaf karena tidak dapat menerima dirimu,aku doakan agar kamu bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dariku." Luna menepuk lengan Bryan dengan pelan dan berlalu pergi meninggalkan pria itu menuju tempat kekasihnya berada sekarang. 


Bryan hanya mampu memandangi tubuh Luna dari belakang saja dengan tangan yang masih mengepal dan amarah yang begitu membuncahkan hatinya saat ini. Pria itu pun mengikuti langkah Luna dari belakang dan dengan begitu cepat Bryan menarik lengan Luna begitu kasar dan membuat  Luna terkejut,tidak hanya sampai disitu bahkan Bryan begitu beraninya mencium paksa Luna,Javier dan yang lainnya melihat pemandangan itu pun segera berdiri dan menghampiri Luna dan Bryan kara pada saat itu juga Luna menampar wajah Bryan begitu keras. 


"Kurang ajar sekali kamu Bryan" teriak Luna 


Bugh…. 


Javier memukul wajah Bryan dan membuat pria itu tersungkur dan jatuh. Bryan menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. 


"Berani sekali kamu menyentuh wanitaku,maka kamu harus menghadapiku Bryan." Teriak Javier yang langsung memeluk tubuh Luna


Bryan bangkit dari posisinya dan memandangi satu persatu orang yang berada di sana,bahkan saat ini tatapan mata Bryan begitu tajam penuh amarah. 


"Kalian brengsek semua,dan kamu… Dasar wanita jalang…." Teriak Bryan sambil menunjuk semua yang ada di hadapannya.


"Bryan…." Teriak Javier yang tidak terima kalau Luna dikatakan seperti itu. 


"Bryan,tidak bisakah kamu bersabar dan membicarakan semuanya dengan baik-baik?" Leon maju dan berusaha menenangkan Bryan. Tapi,sayangnya emosi dan egonya Bryan lebih tinggi dari rasa sabarnya. 


"Diam kamu Leon,dasar pengkhianat…" teriak Bryan,tidak ingin berlama-lama di rumah Gabriel akhirnya Bryan pun meninggalkan rumah Gabriel. 


"Bryan…" teriak Leon dan ingin mengejar Bryan,tapi dicegah oleh Roy dan Gabriel. 


"Biarkan dia sendiri dulu Leon,percuma saja berbicara padanya dalam keadaan dirinya yang sedang tersulut emosi." Ucap Roy sambil menepuk punggung Leon berkali-kali. 


"Yang dikatakan Roy itu benar,Leon. Sebaiknya kita biarkan saja Bryan sendiri agar pikirannya tenang dulu baru kita menemuinya di rumahnya nanti jika sudah mereda."