
Baik Leon maupun Wilona kini masih berada di ruang televisi memeluk tubuh istrinya.
"Ini sudah larut malam,sebaiknya kita istirahat." Ucap Leon yang masih merangkul tubuh Wilona dari samping
Wilona mengangguk,"Mmm,kalau begitu aku akan ke kamar duluan." Wilona menjawab sambil merenggangkan pelukannya pada tubuh Leon.
"Kita akan ke kamar sama-sama." Jawab Leon dan dibalas anggukan oleh Wilona.
Leon menggandeng tangan Wilona menaiki tangga dan menuju kamar mereka masing-masing. Wilona sudah berhenti di depan kamarnya dan membuat Leon juga ikut menghentikan langkahnya.
"Kenapa kamu berhenti?" Leon menautkan kedua alisnya dan menatap Wilona bingung
"Mmm,kenapa kamu mengikutiku? Aku akan masuk ke kamarku dan kamar kamu disana,Leon." Jawab Wilona yang juga bingung kenapa Leon ikut berhenti
Leon mengusap tengkuk lehernya,menatap Wilona kembali. "Bisakah kita satu kamar? Dan tidur dalam satu kamar juga?" Pernyataan yang Leon utarakan membuat Wilona tercengang menatap suaminya. Wilona lupa jika dirinya sudah siap untuk menjalani pernikahan ini bersama Leon dan memulainya dari awal,itu artinya ia juga harus memenuhi kebutuhan biologis sang suami.
"Apakah kamu masih tidak ingin satu kamar denganku?" Tanya Leon kembali
"Bu-bukan begitu…. Tapi…" jawab Wilona ragu
"Kenapa sih kamu suka sekali mengatakan TAPI?" Leon mulai sedikit kesal dengan Wilona yang ragu sambil menekankan kata Tapi.
"Aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu,Leon. Kamu ingat saat aku pertama kali keluar dari rumah sakit dan tinggal dirumah kedua orang tuaku? Disana malah kamu sulit tidur saat satu kamar denganku." Wilona mengingatkan akan kejadian di rumah mendiang kedua orang tuanya saat itu,dimana Leon memang sulit tidur saat satu ranjang bersama Wilona.
Leon tercengang,"i-itu karena…. Sshh,ah sudah lah,ayo kita tidur." Leon langsung menarik tangan Wilona untuk masuk ke dalam kamar Leon. Leon tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya terjadi kenapa dirinya sulit tidur saat satu ranjang dengan Wilona. Itu di karena sesuatu milik Leon telah bangun dan dirinya harus menidurkannya dengan cara berendam air dingin di malam hari. Wilona tidak tahu kalau hampir setiap malam Leon selalu mandi tengah malam untuk meredam hasratnya yang tidak dapat dituntaskan olehnya.
"Tapi.."
"Jika kamu masih mengatakan tapi,maka aku akan menciummu lagi." Ucapan Leon berhasil membungkam bibir Wilona
"Ck," Wilona mencebikkan bibirnya dan mengikuti langkah Leon menuju kamarnya.
Setibanya di kamar rasa canggung merayap pada diri Leon dan Wilona. Bahkan mereka sampai bingung harus bagaimana,terutama Leon,pria itu benar-benar bingung harus melakukan apa padahal ia sedang berada di kamarnya sendiri hanya bedanya kini sedang bersama Wilona.
"Mmm,sebaiknya aku mencuci muka dan menggosok gigi dulu." Ucap Wilona sambil berjalan ke arah pintu kamar.
"Kamu mau kemana?" Leon heran kenapa Wilona malah ingin keluar dari kamarnya.
Leon terlihat mengusap wajahnya dan menarik tangan Wilona lagi menuju kamar mandi. Leon mengambil sikat gigi yang baru dan memberikannya pada Wilona.
"Ini,ayo sikat gigi bersama-sama." Leon menyerahkan sikat gigi yang masih terbungkus plastik dan belum terbuka sama sekali pada istrinya.
"Terus sabun muka ya mana?" Tanya Wilona yang membuat Leon menggaruk tengkuk lehernya.
"Mmm,aku pakai pembersih muka ini." Leon menunjukkan botol pembersih muka yang dia miliki
"Kamu pakai ini?" Wilona tidak percaya saat Leon memberikan pembersih wanita khusus perempuan.
"Iya kenapa?" Leon menjawab dengan sangat santai
"Ini kan?"
"Itu punya Grace,waktu di rumah sakit dia meninggalkannya,jadi aku bawa saja ke dalam tas milikku. Dan aku lupa mengembalikannya." Jawab Leon yang memotong pembicaraan Wilona dan tanpa ragu dirinya menjawab pertanyaan Wilona yang mungkin merasa aneh dengan dirinya yang menggunakan pembersih wajah khusus wanita.
Dengan ragu Wilona menerima pembersih muka tersebut,beruntunglah karena pembersih muka milik Grace sama dengan yang digunakan Wilona. Mereka pun menggosok gigi bersama dan mencuci wajah mereka dengan sabun muka yang sama pula.
Wilona merebahkan tubuhnya yang memang terasa sangat lelah,berbeda dengan Leon yang masih berkutat dengan laptopnya,karena tidak ingin mengganggu Leon akhirnya Wilona berusaha memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian Wilona sudah terlelap dalam tidurnya,Leon yang masih membuka matanya pun menatap ke arah Wilona yang sedang tidur dengan membelakangi Leon,ditatapnya punggung wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Leon merapikan laptopnya dan melepas kacamatanya dan menaruh laptop di meja samping tempat tidurnya. Pria itu juga ikut merebahkan dirinya dan memeluk tubuh Wilona dari belakang,hidungnya begitu dekat dengan kepala Wilona bahkan saat ini Leon menghirup aroma rambut Wilona begitu dalam agar dirinya dapat mengingat Wilona kapanpun dan dimanapun.
Leon terus menghirup aroma tubuh Wilona dan tanpa ia sadari bahwa rambut Wilona sudah tersingkir dari ceruk lehernya. Leon menghirup bahkan menghisap dan meninggalkan jejak kemerahan di ceruk leher Wilona di bagian yang tidak dapat dilihat orang lain kecuali wanita itu menguncir rambutnya. Cukup lama Leon melakukan itu,hingga dirinya pun ikut terlelap.
Keesokan paginya Wilona seperti biasa bangun pagi untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Untuk kedua kalinya wanita itu membangunkan Leon untuk melaksanakan sholat dua rakaat tersebut bersama-sama. Setelah melakukan kewajiban sebagai umat muslim,Leon dan Wilona sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Wilona sedang berkutat dengan peralatan dapurnya sedangkan Leon sendiri,pria itu sedang melakukan olah raga di taman gedung penthouse tersebut.
Di taman Leon sedang melakukan lari pagi sendirian,saat ia sedang mengitari taman dirinya dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang lama tidak dijumpai oleh dirinya. Leon langsung menghentikan lari paginya dan beralih menatap seseorang yang sudah berada di sebelahnya.
"Bryan…" gumam Leon yang tampak terkejut dengan kehadirannya di taman itu.
"Hai bro,apa kabar? Lama kita tidak jumpa." Ujar Bryan yang sudah tersenyum menatap sahabat lamanya itu.
Leon pun juga tersenyum,"kamu kemana saja,Bryan?" Tanya Leon yang langsung memeluk sahabatnya itu
Bryan pun membalas pelukan Leon,pria itu juga merindukan para sahabatnya apalagi Javier. Sebenarnya Bryan ingin menyelesaikan semuanya dengan secara baik-baik,dari hubungannya dengan para sahabatnya dan juga calon istrinya itu,Claudia. Bryan hanya ingin menikmati dunianya bersama putra dan istrinya kelak tanpa adanya rasa permusuhan di antara dirinya dengan sahabat maupun ibu dari putranya. Bagi Bryan di usianya saat ini,tidak pantas jika dirinya masih memendam marah atau kesal pada masa lalu,biarlah masa lalu dijadikan pelajaran dalam hidupnya agar menjadikan dirinya lebih dewasa lagi dalam mengatasi suatu masalah.