WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
72. Ending (Happy)



Sebuah lagu, puisi, novel, hingga film adalah subjek karya seni yang abadi selama berabad-abad. Sama seperti dalam kisah novel atau film, cinta menjadi bumbu yang membuat kehidupan manusia jadi lebih berwarna. Cinta adalah salah satu emosi yang dimiliki oleh setiap orang. Namun, emosi ini dapat menjadi begitu kuat, dan jika kita tidak dapat mengelolanya dengan benar, ia akan mengontrol pikiran dan perilaku.


Cinta dapat melemahkan iman dan menjerumuskan seseorang dalam jurang kesia-siaan. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dengan perasaan ini. Rasakan cinta dengan sewajarnya. Jangan berlebihan dalam merasakan keromantisannya, dan tetap jadikan kecintaan pada Tuhan sebagai yang utama dalam hidup.


Allah menguji kita dengan sesuatu yang kita cintai, maka janganlah berlebihan mencintainya, agar saat sedih tidak berlebihan. Temukan pasangan hidup yang bisa membimbingmu, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Allah telah menuliskan nama pasanganmu. Yang perlu kamu lakukan adalah memperbaiki hubunganmu dengan-Nya.


Cinta sebenarnya dimulai setelah pernikahan. Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya adalah cinta kepada sesama. Terkadang patah hati adalah anugerah dari Allah. Itulah cara-Nya memberi tahu kita bahwa Ia menyelamatkan kita dari orang yang salah. Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna. Tanda setia bukan bunga tapi mengajaknya ke KUA.


Bukti cinta yang paling besar adalah saling mengajak untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan pernah bandingkan kisah cintamu dengan yang ada dalam film. Itu ditulis oleh penulis skenario. Sedangkan kisahmu diciptakan oleh Allah. Orang yang tepat tidak akan menjauhkanmu dari Allah.


Jika ia melakukannya, berarti ia adalah orang yang salah. Cinta pada Allah sama seperti cahaya terang. Tanpanya, kamu bagaikan terombang-ambing di lautan kegelapan. Jika Allah menginginkan dua hati untuk bersatu di akan menggerakkan keduanya bukan hanya satu.


Sepasang mata itu masih tertutup rapat kala si wanita menyibakkan tirai didalam ruangan kamar mereka, membiarkan sinar matahari masuk dan mengusik tidur nyenyak pria itu. Wilona tahu kalau suaminya itu mudah terusik saat tidur, hanya dengan silau mentari pagi saja Leon dapat terusik dan merengek karena masih merasa sangat mengantuk. Atau saat Wilona ke kamar mandi saat tengah malam, Leon akan terbangun karena terusik dengan suara yang dibuat oleh Wilona.


Benar saja kedua mata itu mulai mengerjap, tubuhnya menggeliat di atas tempat tidur yang masih berantakan sisa semalam.


"Wilona…. Tutup kembali jendelanya." Rengek Leon.


"Tidak akan. Ayolah aku lapar, kita berbelanja ke pasar karena persediaan sayuran sudah habis. Kamu ingin aku buatkan sarapan apa, biar kita sekalian beli bahannya." Wilona berkata seraya duduk di tepian kasur.


Bukannya menjawab, Leon malahan memeluk tubuh ramping Wilona dari samping. Membuat Wilona mendengus kesal karena melihat tingkah suaminya yang masih saja ingin bermanja-manja dengan dirinya.


"Leon, bangun dan berhentilah memelukku. Ayo, kita ke pasar."


"SAYANG!!" tegas leon seraya melepaskan pelukannya dengan membuka kedua matanya. Leon menatap dengan penuh rasa sebal dengan Wilona. "Panggil aku sayang, bee, honey atau apalah yang penting terdengar mesra. Sudah hampir satu tahun kita menikah dan kamu masih saja memanggilku dengan sebutan nama saja, dasar istri nakal." Ujar Leon sambil menarik hidung istrinya dan membuat Wilona meringis karena rasa sakit di hidung yang dipencet oleh Leon.


"Sakiittt…. Leon…" pekik Wilona sambil mengelus hidungnya yang memerah.


"Aish, kamu mengulanginya lagi. Mau aku pencet lagi hidungmu, hhmm?" Tangan Leon sudah mengangkat ke udara ingin menyentuh hidung Wilona, namun perempuan itu segera bangun dari duduknya.


"Terserahlah, aku mau mandi. Sambil menunggu sebaiknya kamu minum susu yang sudah aku buatkan untukmu, minumlah selagi masih hangat." Wilona menunjuk segelas susu yang ada di atas nakas.


"Sayang, sebaiknya kita mandi berdua saja agar dapat menghemat waktu." Leon merenget dan tidak lama dia memamerkan deretan gigi putih susu pada Wilona. Tentu itu membuat Wilona tercengang dan memutar bola matanya dengan malas. Bahkan Wilona langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam kamar mandi.


Leon kembali cemberut dan bangun dari tempat tidur, dia juga langsung mengenakan t-shirt nya dan minum susu yang sudah dibuatkan oleh Wilona. Leon juga membereskan tempat tidur mereka sendiri dan mengambil pakaian yang berserakan, lalu memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor.


"Astaghfirullah, Leon…. Bangun…!!!" Wilona berkacak pinggang.


"SAYANG!!! berhenti berteriak memanggil Leon, aku akan marah padamu kalau kamu tidak memanggilku dengan SAYANG, HONEY, BEE atau apapun itu yang terdengar mesra. Aku tidak akan menemanimu ke pasar kalau kamu tidak memanggilku dengan mesra." Leon membalikkan tubuhnya memunggungi Wilona yang sudah berdecak sebal karenanya.


"Ya sudah, aku bisa ke pasar sendiri kok."


💚💚💚💚


Leon kembali bersembunyi saat Wilona mulai curiga dan menyadari keberadaannya, Leon mengikuti sang istri ke pasar tanpa sepengetahuannya. Pria itu bersikap seolah dia bisa mengabaikan dan tidak peduli dengan Wilona, namun didalam lubuk hatinya yang paling dalam Leon tidak bisa mengabaikan istrinya lagi berbeda dengan dulu.


Leon melihat Wilona yang sudah selesai berbelanja, di tangan kanan dan kirinya masing-masing ada tiga kantong belanjaan yang bobotnya tidak terlalu ringan. Wilona mulai merasa kelelahan harus membawa semua kantong kresek tersebut. Leon menggigit ujung kukunya, dia tidak tahan melihat istrinya membawa barang-barang berat itu sendirian. Leon membuang gengsinya dan segera berlari mengambil alih kantong belanjaan yang ada di tangan Wilona.


"Hai!! Yaak!! Apa yang kamu lakukan?" Wilona kaget bukan main, dia pikir pencuri mana yang mau mencuri bahan makanan yang belum jadi seperti itu. Tapi, ternyata pencuri itu adalah pria yang sangat dikenalnya.


"Ya ampun, sudah tidak tega rupanya. Akhirnya kamu keluar juga dari tempat persembunyianmu." Ledek Wilona pada Leon sambil menaikkan satu alisnya.


"A… apa… Maksud kamu?" Tanya Leon dengan gugup.


"Kamu pikir aku tidak melihat kamu yang mengikutiku sejak tadi? Aku sangat hafal dengan gerak gerik kamu, Leon. Mana mungkin MY HUBBY tega membiarkan aku melakukannya sendirian." Wilona tersenyum puas melihat pipi Leon yang sudah mulai memerah dan mencubitnya dengan gemas.


"Kamu memanggilku apa tadi?" Tany Leon dengan wajah yang masih memerah karena malu.


"Hubby… MY HUBBY…" Jawab Wilona tersenyum


Leon tersenyum bahagia, dia sangat senang mendapat panggilan mesra dari istrinya sendiri. Mereka berjalan bersama, beriringan sambil mengayunkan kedua tangan mereka yang saling bertautan. Wilona ikut memegang kantong belanjaan di tangan satunya, agar satu tangan mereka yang kosong dapat saling bertautan satu sama lain.


Menyenangkan, setiap harinya mereka selalu merasa ini sangat menyenangkan. Meskipun tidak jarang mereka melakukan cekcok kecil, namun itu pun sangat menyenangkan bagi Wilona. Sejujurnya Wilona tidak pernah bisa marah dengan Leon, memang nada bicara pria itu saja yang memang terdengar meninggi dan dingin tetapi Wilona tahu kalau suaminya itu tidak benar-benar marah padanya. Sehingga Wilona sendiri pun tidak tega sama sekali untuk bertengkar serius dengan Leon.


"I love you, honey."


"I love you too, my hubby."


[ TAMAT ]