WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
29. Pilihan Sulit



Averus segera menuju ruang keluarga dan disana sudah ada Joshua Aksara yang sedang menikmati secangkir teh sebelum makan malam dan Averus juga melihat beberapa pengawal di dalam ruangan itu.


"Selamat malam,pah" ucap Averus


Joshua tersenyum melihat putra satu-satunya itu datang "selamat malam,nak. Kenapa kamu baru datang menemui papa,sebelum orang suruhan papah menemuimu?" Tanya Joshua


"Averus sedang banyak tugas pah,tambah lagi sebentar lagi akan menghadapi ujian mid" jawab Averus santai sambil mendudukkan dirinya di sofa samping Joshua.


"Kamu sedang sibuk dengan tugas dari fakultas atau sibuk dengan gadis itu?" Tanya kembali Joshua yang masih fokus dengan tabletnya.


Averus tersenyum getir "papah tahu juga rupanya,ya salah satunya aku sibuk dengan kekasihku itu."


Joshua memandang ke arah putranya begitu intens "tinggalkan gadis miskin itu,kamu sudah papah jodohkan dengan Elsa Al Abram putri dari tuan Michael Al Abram."


Seakan dunianya runtuh,Averus tidak menginginkan perjodohan ini. Dirinya sangat mencintai Rose,bagaimana bisa dirinya hidup tanpa adanya Rose. "Tidak pah,aku tidak akan menyetujui perjodohan ini. Pah,aku sangat mencintai Rose,dan aku hanya ingin Rose yang mendampingi hidupku." Jawab Averus dengan nada yang meninggi.


"Kamu tidak bisa menolak perintah papah,bulan depan pernikahan kalian akan dilaksanakan atau gadis ini akan papah buat celaka." Joshua memperlihatkan foto yang berada di dalam tab nya,sebuah foto seorang gadis yang begitu Averus cintai. Sekejap tubuh Avarus membeku,dirinya tidak dapat mengatakan apapun. Bahkan dirinya bingung harus bertindak bagaimana,memberontak pun percuma Averus tahu bagaimana watak papahnya ini. Dengan kekuasaannya apapun bisa dilakukan oleh Joshua,bahkan untuk mencelakai satu orang seperti Rose saja dirinya tidak perlu bersusah payah menyuruh ratusan orang,cukup satu orang anak buah pun dirinya bisa. Averus sedang diambang kegundahan dalam hatinya.


"Putuskan malam ini juga,jika tidak maka bersiaplah besok kamu akan mendengar berita tentang kematiannya,bukan hanya gadis itu saja. Tapi,kedua orang ini pun akan tiada." Ucap Joshua sambil menunjukkan kembali foto Mark dan Erisa sebelum dirinya berlalu meninggalkan ruangan itu,para pengawal yang sejak tadi berada di ruangan itu pun juga keluar meninggalkan ruang keluarga dan menyisakan Averus yang masih dalam kegundahan.


"Aaarrrggghhh…" teriak Averus menjambak rambutnya dengan sangat frustasi.


"Ini tidak adil,pah. Tidak sangat adil." Ucapnya lagi dengan mengusap kasar wajahnya. Lalu,pria itu bangkit dari duduknya dan ingin segera kembali ke apartemennya,tapi saat ingin membuka pintu ruangan itu tidak dapat terbuka.


"Terkunci? Bagaimana bisa aku kembali ke apartemenku?" Averus terus mencoba membuka pintu itu.


Bugh


Bugh


Bugh


"Andreas…. Buka pintunya…." Teriak Averus agar pintunya segera dibuka,tapi sayang percuma saja dirinya berteriak karena setiap ruangan dan kamar dipasang pengedap suara,jadi sia-sia dirinya berteriak dengan begitu kencangnya.


"S**l… bang**t… aarrgghh." Averus terus meluapkan amarahnya dengan berteriak sambil memukul pintu kayu itu.


Karena terlalu lelah Averus menyandarkan tubuhnya di pintu,tak lama tubuhnya pun merosot ke bawah dengan perlahan. Pandangannya menerawang memikirkan wajah Rose yang begitu manis dengan tawa yang begitu bahagia. Bagaimana bisa dirinya meninggalkan wanita yang begitu dicintainya,dirinya tidak akan sanggup hidup tanpa Rose,bahkan dirinya pun tidak akan sanggup jika Rose hidup menderita karena dirinya. Averus mengusap wajahnya dengan begitu kasar. Apa yang harus dirinya perbuat? Itulah yang ada didalam pikiran pria itu saat ini.


...*...


"Bagaimana keputusanmu,Averus?" Tanya Joshua pada Averus


Averus yang menundukkan kepalanya kini mendongak dan menatap pria paruh baya itu dengan tatapan yang sulit diungkapkan.


Helaan nafas kasar Keluar dari bibir Averus,"aku akan menerima perjodohan ini,dengan syarat…." Perkataan Averus terhenti karena dirinya masih memiliki keraguan dalam keputusannya ini.


"Katakanlah,apa syarat yang ingin kamu ajukan?" Joshua sudah mempersiapkan semuanya,bahkan dirinya tahu kalau Averus akan mengajukan persyaratan kepada dirinya.


Sekilas Averus menundukkan kembali kepalanya dan melirik ke sembarang arah,"aku mengajukan syarat untuk pernikahanku nanti berjalan hanya satu tahun,tidak lebih. Karena aku akan menikah dengan Rose." Persyaratan yang diajukan oleh Averus membuat Joshua marah.


"Averus…." Teriak Joshua dengan membulatkan matanya memandang putra semata wayangnya ini dengan begitu marah.


"Kamu… jangan menjadi anak durhaka Averus…" ujar Joshua lagi dengan emosi yang masih membuncah,matanya menatap nyalang dengan rahang yang mengeras karena emosi yang begitu besar terhadap putranya itu.


"Pah,tolong papah fahami Averus…. Averus sangat mencintai Rose,pah. Hanya Rose yang akan mendampingi hidupku sampai maut memisahkan kami." Averus tak kalah emosinya dengan sang papah,keduanya memiliki watak yang sama kerasnya. Bahkan kini posisi mereka sudah saling berdiri dan berhadapan satu sama lain.


Plak


Tangan Joshua bergetar setelah menampar putranya,ini adalah pertama kalinya Joshua menampar sang anak. Sejak dulu dirinya tidak pernah bersikap kasar terhadap Averus. Namun,berbeda dengan saat ini,dirinya benar-benar sudah diambang kemarahan. "Dasar anak durhaka… inilah yang papah tidak suka jika kamu terus bersama gadis itu. Gadis miskin yang akan menjerumuskan hidupmu dengan hal-hal yang tidak baik,Averus." Ujar Joshua dengan nada yang masih bergetar.


Averus yang masih memegang pipinya itu akhirnya kembali menatap papahnya. "Aku tahu kenapa papah bersikap seperti ini,asal papah tahu Rose adalah gadis yang baik,pah. Rose tidak sama dengan mendiang mamah yang dengan teganya meninggalkan kita setelah mengambil dan membawa harta papah tanpa sepengetahuan papah. Rose menerima diriku apa adanya pah,bahkan dirinya tidak tahu kalau aku adalah pewaris tunggal dari keluarga Aksara." Jawab Averus dengan setengah berteriak.


"Mungkin untuk saat ini gadis itu tidak tahu tentang dirimu,tapi jika suatu saat dirinya tahu siapa kamu yang sebenarnya. Maka,saat itu juga gadis itu akan menunjukkan siapa dirinya. Tanpa sepengetahuanmu dirinya akan bertindak sama seperti orang miskin yang lainnya,yang hanya menginginkan harta kita."


"Pah…" ucapan Averus menggantung karena Joshua memberi isyarat dengan tangan kanannya yang mengangkat ke udara agar putranya ini berhenti berdebat dengan dirinya.


"Papah tidak ingin berdebat lagi dengan dirimu,terima perjodohan ini atau gadis itu dan kakaknya akan tiada besok." Setelah berucap seperti itu Joshua kembali duduk ke tempat semula,sedangkan Averus masih menatap tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh papanya itu.


Averus sedang dalam keadaan bimbang dengan pilihan yang begitu sulit dalam hidupnya. Sejenak Averus memejamkan matanya,"baiklah pah,aku akan menerima perjodohan ini. Tapi,ku mohon jangan papah menyakiti atau membuat Rose dan keluarganya hancur." Ujar liris Averus


Joshua tersenyum,lalu pria paruh baya itu berdiri menghampiri putranya. Joshua memeluk Averus dengan menepuk pelan punggung putranya. "Ini baru anak papah yang selalu membanggakan papah" ucap Joshua dengan senyum bahagianya,dan dibalas dengan senyum getir oleh Averus.


"Maafkan aku Rose,aku tidak berdaya untuk melawan papaku." Ucap Averus dalam hatinya.


*Flashback Off*