WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
44. Malarindu



Mata Wilona masih lekat menatap langit gelap di atas balkon kamar penthouse milik Leon. Wilona sengaja tinggal di penthouse malam ini,karena dirinya sangat merindukan Leon. Angin dingin dengan lembut mengusap wajah cantiknya,entah mengapa angin kemarau malam ini terasa lebih hangat dari biasanya yang selalu terasa menusuk dan membuatnya menggigil,atau karena dirinya masih mengingat perbincangan antara dirinya dengan Leon dua Minggu yang lalu membuat cerita indah dalam hidupnya selama menjadi istri dari Leon. 


Haahhhhh…..


Wilona menghela nafas kasarnya "aku merindukanmu Leon. Apakah kamu merasakan apa yang aku rasakan saat ini?" Gumam Wilona sendiri dengan memeluk kedua kakinya sambil menatap langit dengan kerlap kerlip bintang di langit.


Cukup lama Wilona berada di balkon kamarnya menikmati malam yang sangat indah sendirian disana. Tanpa Wilona sadari Leon menyaksikan apa yang sedang dilakukan oleh Wilona di balkon kamar,Leon memang sengaja memasang CCTV pada seluruh penthouse nya,tapi tidak dengan kamar. Tanpa Wilona sadari juga kalau Leon sudah memerintahkan anak buahnya untuk menjaga dan melaporkan seluruh kegiatan Wilona dan juga Claudia. Leon tersenyum menatap sosok Wilona yang terlihat di layar laptopnya itu. 


"Aku juga merindukan dirimu,Wilona." Gumam Leon dengan senyum yang terus terpancar pada dirinya. 


Sudah hampir dua Minggu Leon berada di negara K,masalah perusahaan masih belum mendapatkan titik terang. Leon masih belum menemukan siapa pelaku dari penggelapan uang tersebut. Leon,asisten Johnny dan juga tuan Lee membentuk sebuah tim untuk menyelidiki kasus ini tanpa seorang pun tahu,terutama para karyawan dan kepala divisi lainnya. 


Penyelidikan demi penyelidikan sudah dilalui oleh tim yang dibentuknya,dari hasil penyelidikan tersebut tuan Lee mencurigai satu nama yang memang sudah dirinya curigai sejak dulu. Tapi,tuan Lee tidak ingin terlalu ceroboh dalam bertindak. 


"Bagaimana tuan Lee?" Tanya Leon 


Kini mereka bertiga sedang berada di penthouse keluarga Averus. Mereka sengaja melakukan pertemuan malam ini untuk membahas tindakan selanjutnya apa yang akan diambil untuk menyelamatkan perusahaan cabang. 


Tuan Lee memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing. Helaan nafas panjang terdengar keluar dari bibirnya. 


"Jadi,selama ini feeling saya benar." Ucap tuan Lee,"maafkan saya tuan Leon karena tidak bergerak dengan cepat. Jika saja saya bergerak lebih cepat tidak akan terjadi seperti ini." Lanjut Lee kembali karena merasa sangat menyesal dengan apa yang terjadi. 


"Saya mengerti maksud anda tuan Lee. Baiklah,sisanya saya akan menyerahkan pada anda tuan Lee. Apapun keputusanmu saya akan mendukung langkah selanjutnya. Beri mereka pelajaran yang cukup membuat mereka menderita dan tidak dapat mereka lupakan selama seumur hidup mereka." Ucap Leon penuh penekanan. 


"Terima kasih tuan,saya akan menjalankan tugas saya." Jawab tuan Lee dengan berdiri,lalu membungkukkan badannya sedikit. Kemudian pria itu duduk kembali ditempat semula. 


Malam pun semakin larut dan sepeninggalnya tuan Lee dari penthouse,Leon segera kembali ke kamarnya sedangkan Johnny dirinya masih berkutat di ruang tamu dengan laptopnya. Johnny juga terlihat sesekali menghubungi seseorang. 


"Siapkan semua keperluan nona Wilona,lakukan seperti biasa jangan sampai dirinya tahu." Ucap Johnny dalam sambungan telepon dengan seseorang. 


Sepertinya Leon ingin memberikan kejutan kepada Wilona dan mengajak gadis itu untuk ke suatu tempat. Di dalam kamar Leon masih menikmati malamnya dengan berdiri di balkon kamar sambil menatap langit sore ini. Gemericik air yang turun dari langit menghiasi langit sore ini sejak pagi menjelang. Sudah dua hari ini hujan membasahi bumi di kota S negara K. 


**


Wilona baru saja keluar dari toko kue favoritnya untuk membeli beberapa kue dan roti serta churros untuk stok menu sarapan di rumahnya bersama sang bibi. Gadis itu berjalan di trotoar menikmati pagi ini dengan seulas senyum yang selalu bermekaran di wajahnya sambil membawa paper bag yang berisikan semua belanjaannya. Dalam perjalanan dirinya tidak sengaja melihat seorang perempuan yang dikenalnya sedang menggandeng tangan seorang anak laki-laki sekitar empat tahun menuju sebuah toko pakaian anak.


"Claudia" gumam Wilona dengan mengernyitkan kedua alisnya. 


"Siapa anak itu? Setahuku Claudia tidak memiliki kakak atau saudara." Wilona mencoba mengikuti Claudia dari belakang dengan jarak yang cukup dekat. 


Kini Wilona mendekat ke arah Claudia dan anak laki-laki itu dengan menutup kepalanya dengan tutup kepala dari goodie yang sedang dikenakannya saat ini dan juga masker hitam yang memang selalu dikenakan nya saat keluar rumah. 


"Mommy… Maxim mau ini mom." Ucap anak laki-laki itu dan membuat Wilona menjadi sangat terkejut dengan apa yang didengarnya. 


"Mommy?" Gumam Wilona dalam hatinya. 


"Baiklah mommy akan mengabulkan keinginanmu pangeran kecilku." Jawab Claudia sambil mengusap kepala putranya. 


Wilona melihat Claudia yang sudah selesai dengan transaksi jual belinya di toko tersebut pun akhirnya keluar sambil menggandeng tangan putranya. Wilona masih setia mengikuti langkah Claudia,hingga mereka berada di sebuah taman. Wilona melihat Claudia yang sedang duduk untuk mengistirahatkan dirinya yang lelah berjalan bersama putranya itu. 


Wilona mendekati Claudia yang sedang mengipasi anak laki-laki itu dan tanpa ragu dirinya menyapa Claudia. 


"Claudia" panggilnya pelan.


Claudia terkejut dengan kedatangan Wilona yang sudah berada di depan mereka. 


"Wi-Wilona.." jawabnya gugup


Claudia langsung bangun dan menggendong putranya agar dapat pergi dari hadapan Wilona. Tapi,sebelum Claudia beranjak pergi,tangan Wilona langsung mencegahnya dengan cara menarik lengan Claudia. 


"Tunggu Claudia" ucap Wilona yang masih menarik lengan Claudia. 


"Ada apa,huh?" Ujar Claudia sambil melepas paksa tangan Wilona yang mencoba menahannya.


"Siapa anak ini Claudia?" Tanya Wilona lagi.


"Bukan urusanmu" jawab Claudia ketus.


"Maaf,aku tahu memang ini bukan urusanku. Tapi,setidaknya saat aku bertanya dan kamu dapat  menjawabnya." Ujar Wilona dengan santai. 


Claudia menatap tajam ke arah Wilona sambil memeluk tubuh putranya. 


"Mommy,siapa tante ini?" Tanya Maxim pada sang mommy. 


Claudia baru saja ingin menjawab pertanyaan dari putranya itu,tapi keburu Wilona berucap. 


"Halo pangeran kecil,nama tante Wilona Charlotte. Apakah tante boleh berkenalan dan bermain bersamamu?" Tanya Wilona sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan dirinya.


"Tentu tante,namaku Maxim" jawab Maxim dengan membalas jabat tangan Wilona. 


Wilona tersenyum melihat tingkah menggemaskan Maxim,wanita itu mengusap kepala Maxim hingga rambutnya berantakan.


"Uh,tante nakal. Lambut Maxim jadi belantakan tuh." Nada bicara cadel Maxim terdengar seperti sedang kesal. 


Wilona dan Claudia tertawa melihat tingkah Maxim yang cukup menggemaskan untuk mereka.