
"Paman? Sedang apa disini?" Tanya Wilona pada Averus
Gadis itu memandang Averus dengan penuh selidik,sampai dirinya mengenali benda yang sedang di pegang oleh Averus.
"Selamat siang tuan" ujar salah satu perawat yang tadi sempat berdebat dengan Wilona. Terlihat raut wajah tegang dari perawat itu.
Averus mengangguk "biarkan gadis ini masuk,dia adalah keponakan saya." Ujar Averus memberi titah pada perawat yang berjaga
"Ba..baik tuan dan saya meminta maaf atas kejadian tadi. Nona saya minta maaf.
"Tidak apa lupakan saja." Jawab Wilona dengan senyumnya.
Lalu,pandangan mata Wilona menatap ke arah Averus. Gadis itu ingin meminta penjelasan pada orang yang sudah dianggap paman olehnya.
"Apakah paman yang mengangkat telepon dari ku di ponsel bibi Rose?" Pertanyaan Wilona hanya dijawab dengan anggukan oleh Averus.
Wilona kembali terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Averus. Averus paham dengan apa yang ada dipikiran Rose. Kemudian Averus mengajak Wilona untuk duduk di kursi depan ruang rawat itu. Averus menceritakan semuanya,tidak ada yang terlewat dari cerita yang disampaikan oleh Averus. Wilona sangat terkejut dengan apa yang didengar oleh dirinya,bahwa Averus adalah pria yang selama ini sudah membuat bibinya menderita. Rasanya ingin sekali Wilona marah terhadap Averus,tapi dirinya tidak berhak mencampuri kehidupan sang bibi. Biarlah mereka yang menyelesaikan masalah mereka,Wilona berpikir kalau mereka sudah bukan anak kecil lagi yang harus selalu dinasehati. Mereka pasti bisa menyelesaikan masalah mereka dengan hati dan pikiran yang dewasa. Wilona juga menceritakan apa yang selama ini bibinya itu alami,memang saat itu Wilona belum tahu tentang cerita sang bibi. Tapi,sesekali Wilona dan Rose suka bertukar cerita. Tambah lagi dengan info yang Wilona dapat dari bibi Emily sahabat Rose yang dikenalnya di asrama pesantren perempuan di negara K. Semenjak Rose mengalami depresi atas kehilangan bayi nya masih berusia empat bulan di dalam kandungannya iti,Mark memutuskan untuk mengajak Rose untuk bergabung di sebuah pesantren di negara K agar mendapat bimbingan keagamaan disana. Averus yang mendengar semua cerita dari Wilona pun semakin merasa begitu bersalah pada wanita yang dicintainya itu. Averus kembali terisak meratapi kesedihan yang sedang dialaminya,dirinya bahkan tidak sanggup mendengar cerita Rose yang Wilona lontarkan. Wilona memeluk tubuh pria paruh baya itu,lalu mengusap pelan punggung Averus.
"Sudahlah paman… aku yakin bibi akan memaafkan paman. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada diri paman. Jangan sembunyikan apapun itu,jika paman benar-benar ingin memperbaiki semuanya bersama bibi,maka berjuanglah paman. Aku akan selalu mendukung paman." Gadis itu berucap di sela pelukannya pada Averus yang masih terisak
Cukup lama Averus menangis,kini pria itu menatap ke arah gadis yang menjadi sahabat putrinya ini. Pria itu tersenyum menatap Wilona "terima kasih,nak. Kedua orang tuamu pasti sangat bangga memiliki putri seperti dirimu." Ucap Averus sambil mengelus kepala Wilona dan gadis itu pun tersenyum.
"Ayo,kita masuk. Bukankah kamu ingin menemui bibimu?" Ajak Averus kepada Wilona dan dijawab anggukan oleh gadis itu.
Averus berjalan terlebih dahulu,Wilona menunduk hormat kepada dua pengawal yang sedang berjaga di depan pintu ruang rawat inap tersebut. Begitupun dengan para pengawal itu,mereka pun menunduk hormat pada gadis yang murah senyum itu. Wilona menatap sendu pada tubuh yang sedang berbaring di atas kasur dengan selang infus yang tertancap di tangan kanan bibinya. Wilona memegang tangan Rose yang sebelah kiri,gadis itu duduk di kursi yang sudah tersedia di sana. Sedangkan Averus berdiri di sisi kanan Rose.
"Bibi" ucap Wilona dengan menggenggam tangan bibi kesayangannya itu. Sebuah pergerakan dari tangan Rose membuat Wilona kembali memanggil nama bibinya.
"Bibi Rose…. Ini Wilona." Ucap Wilona lagi
"Eugh…. Wi… Wilona" ujar Rose dengan suara serak dan terbata
Dengan cepat Averus menekan tombol agar dokter segera datang.
"Alhamdulillah,kamu sudah sadar Rose." Ujar Averus dengan rasa bahagianya
Rose menatap ke arah pria yang sudah membuat dirinya hancur itu,entah perasaan apa yang saat ini Rose rasakan. Jujur saja dirinya begitu merindukan pria ini,merindukan semua yang ada pada diri Averus.
"Averus…" lirih Rose
"Ya,ini aku sayang." Jawabnya sambil menggenggam pelan tangan Rose yang ada selang infusnya.
Pintu terbuka oleh dokter dan suster yang memeriksakan keadaan Rose. Wilona segera bangkit dari duduknya agar dokter mudah memeriksa kondisi bibinya.
"Baik dokter terima kasih,saya yang akan mengontrol pola makan bibi saya" jawab Wilona dengan senyum yang merekah.
Dokter dan suster meninggalkan kamar rawat tersebut setelah memeriksa keadaan Rose. Rose menatap langit-langit di ruang rawat itu,Wilona segera menghampiri bibi nya.
"Bibi,makan ya! Biar bibi cepat pulih." Ujar Wilona membujuk sang bibi
Rose menoleh ke arah Wilona,lalu wanita itu pun tersenyum dan mengangguk kepada keponakannya yang cantik ini. Wilona dengan senang hati menyuapini bibi yang sudah merawat dirinya semenjak kedua orang tuanya meninggal. Wilona menyuapi bibinya dengan begitu telaten,hampir setengah porsi bibinya memakan makanan dari rumah sakit yang rasanya sudah bisa kalian tebak sendiri.
"Sudah sayang,bibi sudah kenyang" ucap Rose sambil mencegah Wilona menyuapkan sendok dengan nasi dan lauknya.
Wilona menghentikan gerakannya "baiklah bi,ini minumnya" Wilona memberikan segelas air mineral kepada Rose
Setelah beberapa menit kemudian Wilona memberikan obat untuk diminum oleh Rose,sehabis minum obat Rose diminta beristirahat oleh Wilona dan wanita itu pun menurut saja.
"Wilona,maaf sebelumnya bukannya paman mengusirmu,tapi ini sudah menjelang malam sebaiknya kamu pulang dan beristirahat lah. Biar paman yang menjaga bibimu disini."
"Tapi…"
"Tidak perlu kamu khawatirkan bibimu,dia akan baik-baik saja bersama paman disini."
"Bukan itu maksudku paman,apakah nantinya Grace dan Leon tidak akan bertanya jika paman tidak pulang?"
Averus tersenyum menatap Wilona "tenang saja,mereka tidak akan menyadari kalau paman tidak pulang. Jika pun mereka menyadarinya paman akan mengatakan yang sebenarnya pada mereka." Jawab santai Averus agar Wilona tidak perlu mengkhawatirkan dirinya.
"Paman yakin akan mengatakan kepada mereka?" Tanya Wilona kembali
Averus mengangguk "tentu,paman tidak akan menyembunyikan apapun dari mereka."
Mendengar penjelasan Averus,gadis itu pun merasa tenang "baiklah paman,memang seharusnya paman mengatakan kepada mereka,aku tidak ingin suatu saat mereka kecewa terhadap paman karena tidak mengatakan yang sebenarnya."
"Paman mengerti apa yang kamu khawatirkan Wilona,kamu tenang saja paman sudah menyiapkan semuanya." Jawab Averus kembali dengan senyuman yang menenangkan.
"Baiklah paman,kalau begitu aku pamit pulang. Tolong jaga bibi Rose,besok pagi aku akan datang kesini."
"Kamu tenang saja,paman akan setia menjaga bibimu." Jawab Averus dengan terkekeh
"Ya,aku percaya sama paman" jawab Wilona kembali sambil ikut terkekeh "kalau begitu aku pamit pamit paman,assalamualaikum" sambung Wilona.
"Waalaikumsalam" jawab Averus