WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
70. Penolakan



Waktu terus berlalu,hari,minggu bahkan pergantian bulan pun sudah Leon dan Wilona  lewati bersama. Selama itu pula hubungan mereka semakin dekat dan mesra,tapi Leon masih belum meminta hak nya pada Wilona. Pria itu takut akan menyakiti istrinya saat melakukan hubungan intim dengannya karena rasa trauma yang masih dirasakan Wilona. Pernah sekali waktu mereka sedang berlibur ke kota Paris,Wilona dan Leon hampir melakukannya tetapi Leon langsung menghentikan aksi panas ya karena mengingat Wilona yang masih trauma dengan kejadian pelecehan yang ia alami malam itu.


Leon tidak sadar kalau Wilona sudah siap lahir batin menyerahkan mahkotanya pada dirinya. Wilona setiap malam selalu berharap bahwa Leon akan menyentuhnya,terkadang Wilona pun sempat berpikir kalau Leon tidak ingin menyentuhnya karena masih mengingat Claudia. Tapi,pikiran itu semuanya tmdi tepis oleh Wilona. Ia tidak ingin menjadi wanita yang ceroboh termakan dengan pikiran negatifnya sendiri. 


Malam ini Wilona ingin memastikan sendiri kenapa Leon masih tidak ingin menyentuhnya. Wilona sengaja mengenakan lingerie sambil menunggu Leon masuk ke dalam  kamar mereka,setelah membahas masalah pekerjaan bersama Roy di ruang kerjanya. 


Sementara itu di ruang kerja Leon sedang sengaja mengulur waktunya,padahal urusan pekerjaan sudah selesai. Roy menelisik raut wajah sahabat sekaligus atasannya itu. 


"Ada apa dengan kamu Leon?" Tanya Roy yang duduk di hadapannya


Leon menghela nafasnya,"tidak ada." Jawabnya dengan singkat


"Istirahatlah  Leon,aku yakin Wilona menunggumu. Sebaiknya aku pulang ini juga sudah larut,aku tidak ingin Jessica memarahiku karena aku tidur terlalu larut." Ucap Roy dengan terkekeh


"Ck,dasar bucin." Jawab Leon yang juga ikut terkekeh


Roy pun meninggalkan ruang kerja Leon dan keluar dari penthouse sahabatnya itu. Sepeninggalnya Roy,Leon masih terdiam di dalam ruang kerjanya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas waktu negara setempat. Leon berjalan dengan gontai menaiki anak tangga dan menuju kamarnya bersama Wilona. Saat Leon sudah berada di depan pintu kamarnya,ada rasa ragu dalam dirinya untuk masuk ke dalam kamarnya. Hingga adanya dorongan untuk masuk ke dalam dan tidur bersama istrinya. 


Ceklek…. 


Leon masuk ke dalam kamar dan hal yang pertama ia lihat adalah tubuh istrinya yang sudah berbaring di tempat tidur dengan selimut tebal menutupi tubuhnya. Leon tidak tahu kalau saat ini Wilona sedang mengenakan lingerie,Leon mendekat dan naik ke atas tempat tidur mencium kening istrinya.  Wilona yang ternyata belum sepenuhnya tidur membuka matanya kembali. 


"Leon.." 


Leon begitu terkejut karena ternyata Wilona belum tertidur. 


"Ka-kamu belum tidur?" Tanya Leon yang terlihat begitu gugup


Wilona menggelengkan kepalanya,"aku menunggumu" jawab Wilona


"Tidurlah…!" Pinta Leon 


Wilona menatap mata Leon dengan tatapan sendu,Leon pun merasa begitu bersalah pada istrinya itu. 


"Kenapa kamu belum ingin menyentuhku dan menjadikanku istrimu seutuhnya Leon? Apakah kamu masih mencintai dan menginginkan Claudia?" Pertanyaan Wilona membuat Leon terdiam bibirnya begitu kelu saat ingin menjawab pertanyaan Wilona


Ya,Claudia sudah menikah dengan Bryan beberapa minggu yang lalu. Perjuangan Bryan tidak sia-sia untuk meyakinkan Claudia untuk menikah dengannya. Bryan benar-benar membuktikan dirinya begitu menyesal dan ingin memperbaiki masa itu dengan menikahi Claudia. Pada akhirnya Claudia pun menyetujui permintaan Bryan untuk menikahinya demi Maxim,karena Claudia melihat sang putra begitu sangat bahagia saat bersama Bryan. Apalagi Max sering memamerkan Bryan sebagai sosok Daddy yang sangat menyayanginya pada teman-teman sekolahnya.


"Bagaimana aku berpikir yang tidak-tidak terhadapmu,Leon? Bahkan sampai saat ini kamu tidak pernah menyentuhku dan menjadikan diriku milikmu seutuhnya?" 


Wilona membenarkan posisinya menjadi duduk dengan bersila dan selimut menutupi bagian bawahnya yang memperlihatkan paha mulusnya itu. Leon begitu terkejut dengan penampilan Wilona malam ini,istrinya begitu seksi malam ini,bagaimanapun juga ia adalah laki-laki normal. Leon kesulitan menelan salivanya saat melihat dua benda kenyal milik Wilona menyembul ke atas. Leon merasakan ada sesuatu yang berubah di bawah sana,tapi ia harus menahan hasratnya untuk menyentuh istrinya. Ia takut melukai Wilona.


Wilona masih menatap nanar pada Leon,sedangkan Leon hanya menatap ke lain arah. Wilona menunduk dan tersenyum kecut,merutuki kebodohannya yang menggunakan pakaian seperti kekurangan bahan itu hanya demi menggoda suaminya. Ekspektasi tidak sesuai dengan realita,nyatanya Leon masih tidak menyentuhnya. 


"Maafkan aku…. Maaf sudah memintamu untuk menyentuhku dan menjadikanku istri sepenuhnya untukmu." Wilona beranjak dari tempat tidurnya


Leon tidak dapat berkata apa-apa,dia hanya memperhatikan tubuh istrinya yang berbalut lingerie. Leon masih terus mengamati gerakan istrinya yang sedang menuju walk in closet dan beberapa menit kemudian Wilona keluar dengan menggunakan baju piyama yang biasa ia kenakan saat tidur. Sebenarnya ada rasa sedikit kecewa saat melihat istrinya sudah berganti pakaian.


Wilona menghampiri Leon,"istirahatlah,aku tahu kamu lelah." Ujar Wilona dengan tersenyum paksa dan berlalu ke arah pintu keluar kamar


Leon tersadar atas apa yang sudah ia lakukan pada Wilona,dengan cepat ia mengejar Wilona dan mencegahnya agar tidak keluar kamar. Wilona begitu terkejut saat Leon sudah berdiri di depan pintu mencegahnya keluar kamar,bahkan saat ini Leon sudah mengunci pintu kamarnya dan membuang asal kuncinya. Hingga Wilona tidak dapat berkutik,dan masih terdiam mematung.


Dengan cepat Leon menyambar bibir ranum Wilona dan menekan tengkuk istrinya untuk memperdalam ciuman mereka. Kali ini Wilona benar-benar tidak dapat mengimbangi ciuman Leon yang begitu agresif. Wilona berusaha menghentikan ciuman panas itu,tapi tenaganya tidak begitu kuat. Tidak sampai disitu saja,akhirnya dengan sekuat tenaga Wilona berhasil mendorong tubuh suaminya dan melepaskan ciuman yang menurutnya terlalu kasar.


"Hentikan Leon…" pekik Wilona dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya 


Wilona mundur beberapa langkah dari Leon,dan menatap suaminya sambil menggelengkan kepalanya. 


"Kenapa? Bukankah itu yang kamu inginkan?" Tanya Leon pada Wilona 


"Ya,aku memang menginginkannya Leon. Tapi bukan seperti itu caranya,kamu begitu kasar Leon. Jika Kamu hanya terpaksa sebaiknya jangan lakukan,aku pun sudah melupakannya. Aku minta maaf…. Maaf." Tangis Wilona pecah,tubuhnya luluh ke lantai ia menutup wajahnya.  Membuat Leon merasakan sakit di dadanya saat melihat wanita yang sudah begitu mencintainya kini merasakan sakit yang belum tentu dapat diobati. 


Leon mendekat dan merengkuh tubuh istrinya yang masih terisak,tangisannya terasa begitu pilu dan membuat Leon semakin bersalah pada Wilona.


"Maaf…maafkan aku,sayang!" 



Leon Averus Aksara