WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
47. Firasat Leon



Di negara belahan benua lain seorang pemimpin perusahan Averus cabang sedang melakukan rapat dewan direksi. Hampir tiga jam rapat berlangsung dan akhirnya rapat itu pun selesai dengan keputusan pemecatan kepada salah satu kepala direksi yang semudah bermain curang selama tiga bulan lamanya. 


Setelah sidang rapat selesai Leon langsung keluar dari ruangan rapat dan diikuti oleh Johnny dan juga tuan Lee.


Sesampainya di ruangan Leon langsung mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Sesekali Leon memegangi dada sebelah kirinya. 


"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa ada sesuatu hal yang akan terjadi?" Gumam Leon dalam hati 


Disaat dirinya sedang memikirkan perasaannya yang sedang tidak karuan itu,tiba-tiba saja wajah Wilona terlintas dalam pikirannya. 


"Wilona" gumam Leon


"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Leon dalam hatinya


Saat sedang sibuk memikirkan Wilona,pintu ruangannya diketuk dan tanpa menunggu lagi pintu itu pun terbuka oleh Johnny. 


"Maaf tuan saya langsung masuk tanpa izin anda." Ujar Johnny yang sedikit merasa bersalah karena tidak sopan main masuk keruangan atasannya. 


"Ada apa?" Jawab lirih Leon yang masih menundukkan kepalanya.


"Maaf tuan,saya baru dapat kabar dari salah satu orang suruhan tuan yang ditugaskan untuk menjaga nona Wilona,kalau nona Wilona mengalami kecelakaan saat setelah bertemu dengan nona Claudia di taman." Pernyataan yang disampaikan Johnny membuat Leon terkejut. 


"Apa?" Ucap Leon dengan nada meninggi karena keterkejutannya mendengar kabar itu. 


"Lalu bagaimana keadaan Wilona sekarang,John?" Tanya Leon dengan raut wajah khawatirnya. 


"Menurut kabar nona masih dalam penanganan dokter tuan." Jawab Johnny yang masih menundukkan kepalanya. 


"Siapkan semuanya kita akan kembali ke negara T." Pinta Leon


"Satu lagi tuan" 


"Ada apa?" 


"Salah satu anak buah kita juga sedang sekarat bersama nona Wilona." 


Leon mengerutkan dahinya "maksudmu apa Johnny?" Tanya Leon yang masih bingung.


Akhirnya Johnny pun menceritakan semua kronologi kejadian yang menimpa Wilona dan juga orang suruhan Leon. 


"Kalau begitu secepatnya kita kembali ke negara T." 


"Baik tuan" 


Sepeninggalnya Johnny dari ruangannya Leon segera memberitahukan tuan Lee kalau dirinya akan kembali ke negaranya karena kejadian yang sedang menimpa istrinya. Tuan Lee pun sibuk membantu Johnny untuk persiapan kembalinya tuan muda Leon. 


Setelah persiapan sudah siap,Leon segera menuju ke bandara dengan diantar oleh tuan Lee. Tak perlu memakan waktu lama karena letak bandara dengan perusahaan Averus tidak terlalu jauh. Mereka tiba di bandara,Leon langsung keluar dari mobil dengan diikuti oleh Johnny dan juga tuan Lee. 


"Semoga tidak terjadi apa-apa pada nona muda,saya turut berduka atas kejadian yang menimpa istri anda tuan muda. Maafkan saya yang tidak bisa ikut menjenguk nona muda. Sampaikan salam saya untuk tuan Averus." Ujar tuan Lee yang merasa begitu bersalah. 


Leon mengangguk "terima kasih tuan Lee,saya mohon doanya agar istri saya baik-baik saja." 


Mereka pun berpisah setelah Leon dan Johnny sudah berada di dalam pesawat pribadi mereka. Sekitar lima belas jam perjalanan udara menuju negara T,selama itu juga Leon tidak dapat berhenti merapalkan doa bahkan dirinya melupakan makan siang dan makan malamnya. 


...*****...


*Flashback on* 


Pintu ruang operasi terbuka dan seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Averus dan Rose langsung menghampiri dokter tersebut. 


"Dokter bagaimana keadaan putri saya?" Tanya Averus dengan raut wajah khawatirnya.


Dokter menghela nafas beratnya "alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar,tapi kondisi pasien saat ini masih kritis. Pasien juga sempat menyerah apalagi pasien juga banyak kekurangan darah untung saja stok darahnya ada di rumah sakit ini. Saat ini pasien mengalami koma dan kami tidak tahu sampai kapan pasien akan sadar dari komanya. Berdoalah agar pasien dapat memiliki semangat untuk menjalani hidupnya kembali." 


Penjelasan dokter membuat semua yang menunggu di depan ruang operasi itu lemas. Bahkan Rose sampai limbung ke belakang,jika tidak ada Averus yang menahan tubuh Rose maka wanita itu akan terjatuh ke lantai.


"Apa kami boleh melihatnya?" Tanya Grace dengan lesu.


"Silahkan,sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruangan VVIP." Jawab dokter dan berlalu meninggalkan ruang operasi. 


Brankar Wilona pun didorong keluar dari ruang operasi menuju ruang VVIP. Grace melihat sahabatnya yang terlihat sangat menyedihkan dengan alat bantu pernapasan untuknya bertahan hidup. Begitupun dengan Claudia menatap tubuh Wilona yang tampak lemah tidak berdaya. 



"Mom,tante cantik baik-baik saja kan?" lirih Maxim yang bertanya pada Claudia


Dengan lembut Claudia menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya. 


"Kita doakan saja agar tante Wilona baik-baik saja." Jawab Claudia mencoba menenangkan putranya itu,walaupun saat ini dirinya juga tidak sedang baik-baik saja setelah melihat kondisi Wilona saat ini. 


*Flashback off* 


"Roy,bagaimana dengan Leon? Apakah sudah ada kabar?" Tanya Averus pada Roy yang sedang berdiri di dekat kursi tunggu di depan ruangan Wilona di rawat.


"Sudah tuan,baru saja saya mendapat kabar dari tuan Lee bahwa tuan Leon sudah melakukan perjalanan kembali ke kota ini setelah mendapat kabar tentang kondisi nona Wilona." Jawab Roy 


"Paman saja,kita sedang tidak di kantor,Roy." ucap Averus dan Roy hanya tersenyum dan mengangguk.


"Syukurlah kalau begitu,paman sangat berterimakasih atas kerja kerasmu yang selalu membantu Leon. Paman ucapkan banyak terima kasih kepada kamu,Roy." Ujar Averus sambil menepuk punggung Roy pelan.


"Oh,ya satu lagi paman. Pria itu adalah salah satu anak buah yang diutus oleh Leon. Maafkan saya yang baru mengetahui itu tadi,setelah mendapat informasi dari salah satu anak buah kami." Ucap Roy yang sudah merasa bersalah karena baru mengetahui kalau Leon memerintahkan anak buahnya untuk selalu melindungi Wilona.


"Tidak apa,paman paham nak. Lalu,bagaimana keadaan pria itu?" 


"Kondisinya hampir sama dengan nona Wilona paman,tapi bedanya pria itu mengalami patah tulang di bagian tangan dan tulang punggungnya." 


Averus mengangguk "tolong kamu urus sampai pria itu sembuh sepenuhnya dan usahakan kebutuhan keluarganya juga tercukupi." 


"Siap paman" jawab Roy


Di dalam ruang Wilona Rose dan Grace menatap sedih melihat keadaan Wilona saat ini. Banyak sekali alat yang menempel pada tubuh Wilona dari alat bantu pernapasan sampai alat pendeteksi detak jantung. Tangan Rose terulur mengusap lembut tangan keponakannya itu,air matanya sudah tak dapat terbendung lagi oleh Rose.


"Nak… bangunlah…" ucap Rose lirih


Grace pun mendekat dan mengelus punggung Rose. "Bibi harus kuat,kita semua harus kuat bi,agar Wilona cepat sadarkan diri." Ucap lirih Grace yang masih mengelus punggung Rose. 



(contoh ruang rawat Wilona VVIP)