WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
48. Leon Yang Rapuh



Leon tiba di negara T sekitar pukul dua belas malam. Pria itu tidak langsung pulang ke penthousenya tetapi langsung menuju kerumah sakit untuk melihat kondisi istrinya saat ini. Leon berjalan menelusuri lorong rumah sakit dengan begitu tergesah,bahkan dirinya tidak memperdulikan tatapan dari para pengunjung dan perawat yang menatap dirinya dengan memuja ketampanannya.


Leon hampir tiba di ruangan rawat Wilona,disana dirinya sudah bisa melihat beberapa pengawal dari papanya. Semua pengawal yang melihat kedatangan Leon dan Johnny pun menunduk hormat kepada atasannya. Roy yang sedang duduk sambil mengecek beberapa email pun menoleh saat mendengar beberapa langkah kaki yang menuju ke arah dirinya. 


Roy langsung menutup ponselnya dan segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. 


"Kamu sudah tiba." Ujar Roy pada Leon dan hanya di jawab anggukan 


"Bagaimana keadaan Wilona?" Tanya Leon yang tidak sabaran


"Dokter mengatakan kalau Wilona mengalami koma dan mereka tidak dapat memprediksikan kapan Wilona akan sadar dari komanya." Jawab Roy menyampaikan apa yang didengar olehnya dari dokter.


"Lalu,dimana papa?" 


"Paman ada di dalam bersama nyonya Rose." Jawab Roy santai


"Baiklah aku akan masuk kedalam" jawab Leon dengan berlalu masuk ke ruang rawat Wilona.


Saat pintu terbuka Leon dapat langsung melihat tubuh Wilona yang sedang ditempeli berbagai macam alat medis. Netranya juga menatap sendu ke arah gadis yang sudah membuat dirinya selama hampir dua minggu ini  selalu memikirkan Wilona ketika Leon berada di negara K. 


"Leon" ujar Rose pelan dan dapat didengar oleh Averus. 


Averus pun menoleh dan langsung berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan putranya. 


"Nak,kamu sudah kembali?" Tanya Averus dan Leon hanya mengangguk saja.


Leon berjalan mendekati brankar dimana tubuh Wilona terbaring lemah saat ini. Pria itu mengambil kursi yang berada di ruangan tersebut. Leon duduk di sebelah ranjang dan menggenggam tangan Wilona yang terasa dingin. 


"Kamu kedinginan,hhmm?" Tanya Leon pada Wilona,tapi nihil tidak ada respon sama sekali dari Wilona.


"Maafkan aku Wilona…. Maafkan aku." Ujar lirih Leon dengan isak tangis yang sejak tadi ditahan oleh dirinya. 


Averus menghampiri putranya dan menepuk punggung Leon dengan kelembutan.


"Sabarlah nak,banyak berdoa dan mintalah pada sang ilahi agar Wilona dapat melewati masa kritisnya." Ucap Averus kembali


Leon masih terisak sambil terus menggenggam tangan Wilona yang terasa dingin. Leon menangis dalam diamnya meratapi atas kesalahan yang pernah dirinya lakukan selama mengenal Wilona. Tidak ada kenangan manis yang diberikan oleh Leon sedikitpun selama dirinya mengenal Wilona,yang ada hanya kata-kata yang selalu menyakitkan hati Wilona saja yang terjadi selama ini. Leon merutuki dirinya yang bodoh itu,karena rasa cinta yang dalam membuat Leon buta akan fakta yang sebenarnya,hingga akhirnya dirinya sendirilah yang menemukan fakta itu.


Sebuah tangan lembut menyentuh pundak Leon,sehingga membuat Leon kembali sadar dari lamunannya. "Nak Leon,ini sudah larut malam. Sebaiknya kamu kembali ke rumah,apalagi kamu baru saja tiba dari negara K. Pasti kamu saat ini sangat lelah." Ucap Rose yang meminta Leon untuk pulang.


Leon menggeleng cepat dan menoleh ke arah bibi Rose. "Sebaiknya bibi saja yang pulang bersama papa,biarkan Leon disini menemani istri Leon,bi." Jawab Leon dengan wajah merahnya karena menahan tangisnya.


Rose tersenyum menatap keponakan sekaligus akan menjadi anak sambungnya nanti itu. "Baiklah bibi ada di kamar sebelah jika kamu membutuhkan atau terjadi sesuatu. Karena papa mu menyewa kamar untuk yang ikut menjaga disini." Ujar Rose dengan menepuk punggung Leon pelan.


"Baiklah,bi. Bibi sebaiknya istirahat saja." 


"Kamu juga harus istirahat,perbanyak minum air mineralnya. Bibi pamit ya." 


Leon mengangguk "iya,bi. Biar Leon disini menemani Wilona." Jawab Leon dan Rose pun juga hanya mengangguk. Averus menatap putranya itu merasa iba dan menepuk-tepuk punggungnya pelan. 


Averus dan Rose meninggalkan Leon sendiri menemani Wilona yang masih tidak sadarkan diri. Hingga rasa kantuk dan lelah menjalar ke tubuhnya,dan akhirnya Leon pun tertidur di dekat tempat tidur Wilona dengan menggenggam tangannya. 


*


"Selamat pagi tuan,maaf saya mengganggu" ujar seorang dokter jaga yang mengecek perkembangan Wilona pagi ini. 


Leon hanya mengangguk dan kemudian dirinya bangun dari posisinya dan segera menuju kamar mandi.


Rose masuk keruangan Wilona dan tidak mendapati Leon di dalam,hanya ada dokter dan suster jaga saja disana. 


"Selamat pagi" sapa Rose


"Selamat pagi nyonya" jawab dokter dan suster bersamaan


"Bagaimana perkembangannya dokter?" Tanya Rose


"Tidak ada tanda perubahan apapun nyonya,kondisi nona muda masih sama seperti kemarin. Bantu doa ya nyonya,agar nona muda dapat melewati masa kritisnya." Penjelasan dokter membuat Leon yang baru saja keluar dari kamar mandi kembali menatap sendu pada tubuh Wilona. 


"Maaf" gumam Leon dalam hatinya


"Kami pamit dulu nyonya,tuan muda." Ujar dokter itu


Rose hanya mengangguk dan tersenyum mempersilahkan mereka keluar,dan menatap Leon yang berjalan mendekati ranjang Wilona. 


"Leon,sebaiknya kamu sarapan terlebih dahulu. Bibi bawakan sarapan untukmu." Ujar bibi Rose sambil menunjuk sekotak yumurtali pide dan kopi turki yang sudah di taruh oleh dirinya di atas meja.


Leon melihat arah tunjuk Rose "apakah bibi sudah sarapan?" Tanya Leon


Rose menggeleng "bibi akan sarapan nanti saja." Jawab Rose 


Pintu ruangan terbuka dan Averus datang dengan membawa sebuah bingkisan. 


"Sayang,kamu belum sarapan" ujar Averus pada Rose yang membuat Leon langsung menatap curiga pada papanya itu. 


"Sayang?" Tanya Leon dengan memicingkan kedua matanya pada sang papa.


Averus dan Rose saling menatap,Averus lupa kalau Leon belum tahu soal hubungan antara dirinya dan juga Rose. Berbeda dengan Grace yang sudah mengetahui hubungan itu sebelum Averus memberitahukannya. 


"Bisa kalian jelaskan?" Tanya Leon yang masih menatap curiga pada mereka berdua.


"Papa akan menjelaskannya nanti,sebaiknya kita sarapan." Jawab Averus mengajak Leon dan Rose untuk sarapan.


"Bibi Rose sudah membawakan ku sarapan,kalian sarapan saja duluan." Ujar Leon yang berlalu mengambil tempat duduk di dekat Wilona seperti semalam.


Averus hanya mampu menghela nafas kasarnya saja,dirinya sangat paham dengan putranya itu. Averus langsung mengajak Rose untuk duduk menikmati sarapannya. Tapi,Rose menggelengkan kepalanya. 


"Kita makan bersama-sama,tunggu sebentar." Ujar Rose yang langsung menghampiri Leon.


"Nak…" panggil Rose pada Leon dengan lembut


Leon pun menoleh dengan mengernyitkan dahinya. "Ada apa bi?" Tanya Leon


"Kita sarapan bersama-sama ya,bibi mohon sama kamu. Mau ya sarapan bersama bibi dan papamu?" Pinta Rose


Leon nampak terdiam,Rose sangat paham arti berdiamnya Leon. "Jika kamu tidak sarapan atau tidak makan apapun nanti perutmu akan sakit dan jika kamu sakit siapa yang akan merawat dan menemani Wilona disini?" Lanjut Rose dalam berucap dan membuat Leon memikirkan perkataan Rose. Jurus kemudian Leon pun mengangguk menyetujui ajakan bibi Rose.