WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
51. Sadar



Jika kamu cukup berani untuk mencintai seseorang, maka kamu cukup kuat untuk melupakannya. Hidup ini memang tidak adil, lupakan saja,lupakan dan  lanjutkan hidupmu. Kamu berjalan perlahan, tapi kamu tidak pernah berjalan mundur. Jangan terjebak dengan hal yang merusak harimu. Tersenyumlah dan berbahagialah. Hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan dengan pikiran negatif.


Menyembuhkan diri sendiri berhubungan dengan menyembuhkan orang lain. Lihatlah kedepan dan terus maju, tetapi tetaplah benar-benar di masa sekarang. Sabar dan tegar,suatu hari nanti rasa sakit ini akan berguna bagimu. Kita harus merangkul rasa sakit dan membakarnya sebagai bahan bakar untuk perjalanan kita. Jangan memikirkan apa yang salah. Alih-alih fokus pada apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Setelah kepergian Claudia Leon kembali ke ruang rawat Wilona dan kembali duduk di dekat istrinya yang masih belum sadarkan diri selama dua hari. 


"Kenapa kamu masih terus memejamkan matamu Wilona? Apakah kamu tidak ingin melihatku lagi?" Ucap Leon dengan menatap sendu pada Wilona. 


Pintu ruang rawat terbuka dan Leon pun menoleh untuk melihat siapa yang datang. Grace datang bersama Gabriel,mereka memang sering datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi sahabat sekaligus saudara ipar mereka. 


"Bagaimana kak dengan Wilona? Apakah ada perkembangan?" Tanya Grace yang sudah berada di samping Leon


Leon menggelengkan kepalanya "belum ada" jawab Leon


Gabriel menatap sahabat sekaligus kakak iparnya itu iba "bersabarlah Leon,kita doakan semoga Wilona sadar dari komanya." Ucap Gabriel memberi semangat pada Leon dan dibalas anggukan oleh pria itu.


"Kak,aku membawakan makanan untuk kakak. Sebaiknya kakak makan dulu yuk." Ajak Grace sambil menunjukkan paper bag yang dibawanya


Leon menggelengkan kembali kepalanya "kakak tidak berselera Grace" ucap Leon yang tidak bergeming dan hanya menatap wajah Wilona yang tertutup selang oksigen dengan gips yang terdapat di bagian lehernya.


"Tapi,kamu harus tetap makan Leon. Jika kamu tidak makan,bagaimana kamu bisa menjaga Wilona disini kalau nanti kamu sakit bagaimana?" Kini Gabriel yang membujuk sahabatnya itu,karena dirinya mendapat kabar dari Roy kalau sejak kemarin Leon melewatkan makan siang dan malamnya dengan beralasan masih kenyang. 


"Tapi…" 


"Tidak ada tapi-tapian kak,ayo kita makan dulu. Yang dikatakan kak Gabriel itu benar,kalau kakak ikutan sakit kakak tidak akan bisa menjaga Wilona." Grace langsung memotong pembicaraan Leon dan menarik tangan Leon untuk duduk di sofa yang dekat dengan ranjang Wilona.


Leon kini pasrah dengan apa yang dilakukan adiknya itu. Memberontak pun percuma karena memang benar apa yang dikatakan oleh Grace dan Gabriel.


******


Terhitung sudah satu bulan Wilona di rawat di rumah sakit itu dalam keadaan yang sama yaitu dalam keadaan koma. Tapi tidak dengan hari ini,Leon yang sedang duduk mengecek beberapa berkas yang harus segera ditandatangani oleh dirinya samar-samar mendengar suara lirihan dari ranjang tempat Wilona terbaring. Semenjak Wilona dilarikan kerumah sakit dan dinyatakan koma,Leon tidak pernah pulang ke mansion maupun ke apartemennya. Leon meminta Roy atau Gabriel untuk memenuhi kebutuhannya selama di rumah sakit,bahkan pekerjaan Leon pun dipindahkan ke ruang rawat Wilona. Awalnya Leon tidak memperdulikan suara itu karena baginya itu mungkin saja halusinasinya seperti minggu lalu. 


"Eugh.." lirih Wilona


Leon semakin mempertajam pendengarannya dan menatap ke arah tempat tidur Wilona. Bisa dirinya lihat dengan jelas Wilona menggerakkan jari-jarinya,Leon langsung bangun dari duduknya dan melempar asal kertas-kertas tersebut di atas sof.


"Wilona… Bangun sayang…" Ucap Leon dengan menggenggam tangan Wilona


"Leon…" lirih Wilona 


Leon tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini,mata yang sudah satu bulan ini terpejam dan kini sedang mengerejab menyesuaikan pencahayaan lampu ruangan tersebut. Dengan cepat Leon menekan tombol darurat yang ada di samping ranjang Wilona. 


"Lona kamu bisa mendengarku?" Tanya Leon pada Wilona yang baru saja sadar,tapi Wilona tidak menjawab pertanyaan Leon dirinya hanya memejamkan mata sambil mengangguk pelan tanda dirinya mendengar apa yang dikatakan oleh Leon.


Roy yang baru keluar dari toilet ruangan Wilona pun terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Tidak lama dokter Erik datang dengan satu orang dokter lagi dan dua perawat. Mereka segera memeriksakan keadaan Wilona. 


"Nona Wilona apakah anda mendengarkan saya?" Ucap dokter Erik dan dijawab dengan anggukan lemah dari Wilona


"Apa yang ada rasakan nona?" Tanya dokter yang satu lagi


"Pu...sing…." Jawab Wilona lemah


"Baiklah nona itu wajar karena anda tidak sadarkan diri cukup lama." Jawab dokter Erik


"Ka-kaki ku…." ucap Wilona kembali


Dokter Erik paham apa maksud Wilona "maaf nona,kami harus mengatakan hal ini,kaki ada mengalami patah tulang. Tapi kami sudah melakukan operasi dengan pemasangan pen pada kaki anda. Untuk sementara waktu anda tidak dapat berjalan,tapi tenang saja nona jika anda sering melakukan terapi untuk berjalan maka anda akan bisa kembali berjalan dengan normal." Penjelasan dokter Erik membuat Wilona kembali memejamkan matanya sebentar seperti orang yang sedang menahan penderitaannya sendiri. 


Dokter Erik menghampiri Leon yang berdiri tidak jauh dari nya selagi dokter anestesi memeriksa keseluruhan pada tubuh Wilona. 


"Wilona sudah sadarkan diri,untuk sementara jangan mengajaknya berbicara terlalu lama dan saya minta sama anda atau siapapun jangan membuat dirinya untuk berpikir keras terlebih dahulu karena saya takut akan mengakibatkan fatal pada bagian kepalanya. Mengingat Wilona mengalami benturan cukup keras pada bagian tersebut dan harus mendapatkan operasi untuk mengeluarkan darah yang menggumpal pada otaknya." Ucap dokter Erik dengan penjelasan yang membuat Leon semakin bersalah pada Wilona. Padahal Wilona murni kecelakaan karena rem mobil tersebut blong dan pengemudinya melarikan diri. Tapi selang tiga hari sang pelaku dapat diringkus oleh polisi berbekal rekaman CCTV di jalan tersebut. 


"Baik dokter terimakasih atas penjelasannya." Jawab Leon dengan sedikit menundukkan punggungnya.


"Baiklah nona Wilona,anda benar-benar hebat mampu melawan semua ini. Saya salut sama anda nona,semoga anda lekas sembuh. Kalau begitu kami pamit,jika anda merasakan sesuatu segera panggil kami." Ucap dokter spesialis anestesi  pada Wilona


Sepeninggalnya Dokter Erik dan yang lainnya Leon dan Roy kembali mendekati ranjang Wilona dengan senyum merekah di wajah kedua pria itu. Wilona pun membalas senyuman mereka walaupun masih terasa lemas. 


Tiba-tiba Roy menepuk keningnya dan membuat Leon maupun Wilona mengernyitkan dahinya. 


"Kamu kenapa Roy?" Tanya Leon dan Wilona hanya mampu menatap Roy bingung saja. 


"Aku lupa memberi kabar sama paman Averus dan bibi Rose juga yang lainnya. Tunggu sebentar aku akan menghubungi mereka." Ujar Roy yang langsung berlalu meninggalkan Leon dan Wilona di ruangan tersebut.


"Cih,dasar si Roy" jawab Leon sambil tertawa kecil sedangkan Wilona masih tersenyum saja


Leon menatap Wilona yang masih tersenyum menatap ke arah pintu masuk ruangan. 


Leon



Wilona