WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
58. Ajakan Menikah



(Part sebelumnya)


Claudia menatap Bryan yang juga sedang menatap dirinya dengan senyum tipis di wajah pria itu,tapi dengan cepat Claudia kembali mengalihkan pandangannya ke arah Max. 


Max masih bermain bersama Bryan dan Claudia,sesaat mereka seperti sebuah keluarga yang lengkap dan harmonis. Sesekali Max mengerjai Claudia dan Bryan yang membuat mereka tergelak tawa bahagia. Di ruangan lain seseorang sedang memantau kegiatan mereka melalui kamera CCTV,senyum mengembang di wajah orang itu. 


"Kamu sudah menemukan kebahagiaanmu tuan,saya berharap anda selalu bahagia dengan keluarga kecil anda kelak." Ucap Ferry yang masih tersenyum dan kadang terkekeh saat melihat atasannya itu dikerjai oleh putranya.


Malam menjelang,setelah makan malam bersama Claudia berniat ingin mengajak Max pulang,tapi Max malah melanjutkan kembali ke ruang mainnya,setelah satu jam bermain,Max merengek karena mengantuk. Saat Claudia ingin mengajak Max untuk pulang dan tidur di rumah nenek,Max menolak ajakan Claudia. Max mengatakan ingin menginap di penthouse milik Bryan.


"Max tidak ingin pulang mom,Max ingin tidur disini,dikamar Max." Jawab Max yang masih merengek.


Pada akhirnya Claudia pun pasrah,Bryan mengatakan akan membawanya ke kamar milik Max,Claudia hanya menganggukkan kepalanya dan tidak dapat berkutik karena dirinya masih merasa takut dengan pria yang tidak lain adalah ayah biologis dari Max. Akhirnya Bryan membawa Max ke kamarnya yang sudah disiapkan oleh Bryan. Setelah menaruh tubuh Max dan memastikan Max sudah tertidur pulas,Bryan keluar dari kamar Max dan menghampiri Claudia yang terlihat sedang merapikan mainan yang tadi sempat diberantakin oleh Max. 


Bryan menghampiri Claudia dan membantu wanita itu merapikan mainan Max. Claudia sempat terkejut  atas kedatangan Bryan yang sedang berjongkok merapikan mainan putranya. 


"Max sudah tertidur?" Tanya Claudia saat Bryan sudah berada di sebelahnya.


"Sudah.." jawab Bryan singkat


Tidak ada percakapan lagi di antara mereka,yang ada hanya ada keheningan dan hanya ada suara dari mainan yang sedang ditaruh di dalam box tempat mainan. Saat semuanya sudah terlihat rapi,tidak ada mainan satupun yang tertinggal kini tinggallah mereka berdua di dalam ruangan tersebut,duduk di sofa yang sama dengan jarang yang cukup jauh. Kembali terjadi kecanggungan diantara mereka,Claudia terlihat meremas tali tas yang sedang berada di pangkuannya. Bryan sesekali menggaruk pelipisnya yang tidak gatal,sebuah notifikasi dari ponsel Bryan membuyarkan lamunan mereka. 


📩 Ferry Si Stres


"Cepatlah katakan pada wanita itu kalau kamu ingin menikahinya…"


📩 Ferry Si Stres


"Yaak… Dasar keong… Lambat,kenapa kamu hanya diam saja,eoh?"


📩 Ferry Si Stres


"Jangan sampai aku menghubungi ibu dan mengatakan bahwa putranya ini sangat lemah berhadapan dengan seorang wanita,ck." 


"Eheem…" Bryan berdehem untuk menghilangkan rasa canggung dalam dirinya. 


Claudia menoleh ke arah pria yang sedang duduk di sebelahnya. "Mmm,tuan sebaiknya saya melihat Max ke kamarnya dulu." Ucap Claudia yang ingin beranjak bangun,tapi segera tangan Bryan mencekal tangan Claudia yang baru saja berdiri dari duduknya. 


"Tu-tunggu,aku ingin bicara denganmu." Bryan berkata begitu gugup,tangannya masih memegangi tangan Claudia tanpa sadar Bryan menarik tangan itu dengan lembut agar Claudia dapat duduk kembali di tempatnya. 


"A-ada apa tuan?" Tanya Claudia yang juga merasa gugup atas apa yang dilakukan oleh Bryan tersebut. Bahkan saat inipun tangan Bryan masih memegang erat tangan Claudia yang membuat wanita itu pun melirik ke arah di mana tangan Claudia sedang dipegang oleh Bryan.


"Mmm,duduklah aku ingin bicara dengan mu." Pinta Bryan pada Claudia,Claudia hanya menurut dengan memasang wajah bingung. 


"Aku ingin kita menikah" 


Deg


Bryan menatap Claudia yang sedang terdiam dengan menatap dirinya,begitupun dengan Claudia,dirinya seakan membeku saat kata-kata legend itu keluar dari bibir seorang pria yang sudah menghamilinya. Inilah yang ditakutkan oleh Claudia bertemu kembali dengan orang yang sudah menghamilinya,dalam hati dan pikiran Claudia seakan sedang berperang atas pemikirannya saat ini mengenai Bryan yang selama ini menghilang entah kemana. Kenapa dirinya baru menemui putra dan dirinya,lalu dengan seenaknya  mengajaknya menikah. Apakah Bryan tahu apa yang sudah dilalui oleh Claudia selama masa kehamilannya itu,disaat wanita hamil datang ke dokter dengan diantar oleh sang suami tetapi dirinya selalu diantar oleh sang nenek. Bahkan orang tua Claudia sampai saat ini tidak mengakui Max sebagai cucunya,Claudia tidak tahu kabar kedua orang tuanya sekarang tinggal dimana pun dirinya tidak tahu,hanya nenek yang selalu memberitahu Claudia dimana orang tuanya dan bagaimana keadaan mereka,hanya melalui nenek Ardila lah Claudia dapat mengetahui kabar mereka. 


"Claudia…" Bryan memanggil Claudia dengan lembut. 


"Aku tahu,aku sudah membuat kesalahan kepadamu empat tahun lalu. Maafkan aku saat itu aku benar-benar tidak dapat mengendalikan diriku,hingga akhirnya aku memperkosa dirimu. Maka dari itu aku ingin memperbaiki semuanya,maafkan aku disaat dirimu  terpuruk aku tidak ada disampingmu,maka dari itu menikahlah denganku. Mungkin ini terlalu cepat bagimu,tapi bukankah niat baik itu harus segera diresmikan? Aku ingin Max memiliki keluarga yang utuh,maukah kamu menikah denganku?" Bryan masih menatap Claudia yang sedang memalingkan wajahnya ke arah lain,sebuah helaan nafas kasar keluar dari bibir Claudia. 


"Aku tidak bisa….. Aku tidak bisa bersama denganmu,maaf.." jawab lirih Claudia yang sudah tidak dapat menahan air matanya. Claudia menangis dengan pelan,tidak ada isakan yang keluar dari bibirnya,tapi Bryan dapat merasakan kepiluan yang luar biasa saat air mata Claudia menetes membasahi pipinya. Dilihatnya Claudia menghapus air matanya dengan sangat kasar. 


"Kenapa?" Akhirnya Bryan bertanya karena dirinya juga ingin tahu alasan Claudia yang menolak dirinya. 


"Aku tidak bisa…"Claudia menjeda ucapannya sebentar dengan menetralkan dirinya. "Aku tidak bisa menikah dengan pria yang sudah menghancurkan masa depanku." Jawab Claudia dengan air mata yang kembali mengalir. 


Bryan menundukkan kepalanya,lalu pria itu menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan tersebut. 


"Maafkan aku… Maaf…" jawab pelan Bryan yang juga sudah mengeluarkan air matanya. 


"Aku memang pria pengecut Claudia,kamu pantas membenci dan menolak diriku. Seharusnya pada malam itu aku tidak meninggalkan dirimu,mungkin kita sudah bersama sejak dulu. Sayangnya aku bodoh karena rasa kesal dan patah hatiku pada seorang wanita pada malam itu membuat aku hilang kendali dan melukai dirimu. Maaf… Mungkin kata maaf tidak dapat mengembalikan semuanya tentang dirimu,tapi aku berjanji padamu akan selalu membahagiakan kamu dan juga Max." Bryan kembali menatap Claudia yang hanya terdiam,ingin rasanya pria itu memeluk dan merengkuh tubuh sang wanita yang sedang bersedih itu,ada luka yang tak kasat mata saat dirinya melihat Claudia bersedih kembali mengingat kisah lalu nya yang sudah diperbuat oleh Bryan sendiri.